Ironi Indonesia, Negara Kaya Tapi Listrik Impor

gardu-listrik

Ironi Indonesia, Negara Kaya Tapi Listrik Impor

Mustanir.com – Januari tahun ini Indonesia mengimpor tenaga listrik dari Negara tetangga. Impor ini akan dilakukan oleh PLN sebagai perusahaan listrik milik Negara.

Yaitu Malaysia yang akan mengimpor listriknya ke Indonesia sebesar 10 megawatt (MW) secara bertahap. Dimulai dari Januari hingga akhir Maret. “Malaysia akan menyalurkan daya listrik sebesar 10 MW dans secara bertahap sampai akhir Maret 2016 akan menjadi 50 MW,” tulis akun resmi Twitter Partai Gerindra, beberapa waktu lalu.

Alasan pemerintah melakukan impor daya listrik ini untuk menunjang masyatakat di wiliyah perbatasan. Kendati demikian, partai besutan Prabowo Subianto ini merasa kecewa. Karena Indonesia yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang kaya dan melimpah nampak tidak pantas melakukan kerjasama itu.

“Ironisnya, Indonesia, Negara dengan kekayaan SDA yang melimpah jsutru mengandalkan impor listrik untuk masyrakat perbatasan.” Padahal SDA sangat mumpuni untuk menunjangnya. Seperti kekayaan air, batubara, dan lainnya merupakan bahan baku untuk menghidupi masyarakat dari gelapnya malam.

Gerindra khawatir, bila saja suatu waktu ketegangan antara Malaysia dengan Indonesia, tidak mustahil Negara Serumpun tersebut memutuskan aliran listriknya untuk masyarakat perbatasan. “Jika suatu saat terjadi ketegangan dengan Negara tersebut, sudah pasti ini membawa dampak besar bagi wilayah perbatasan kita.”

Seharusnya pemerintah melihat hal demikian bukan karena murah atau hanya karena aspek ekonomi semata, melainkan mampu pula melihat ke depan nasib bangsa perihal ketahanan nasional. (voa-islam/adj)

Komentar Mustanir.com

Inilah ironi negeri ini, Indonesia, negeri kaya namun untuk listrik saja perlu impor. Jika kita lihat potensi batubara di Indonesia, minyak dan gas buminya, minyak sawitnya dsb seharusnya dapat mensejathterakan rakyat Indonesia.

Satu-satunya jawaban mengapa negeri kaya ini tidak mampu berdiri sendiri adalah karena negeri ini dikelola dengan salah. Demokrasi dan Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini menumbuhkan mental pragmatis dan oportunis pada penguasa negeri ini. Maka dalam menjalankan amanah sebagai pengelola negara, mindset yang ada di kepalanya adalah mindset untung-rugi saja. Bukan mindset membangun negara.

Categories