Amuntai, Islam, dan Negara

MUSTANIR.net – Sebuah kota yang tenang di Kalimantan hari itu tampak ramai. Amuntai, kota dengan suasana santri yang kental kali ini kedatangan tamu istimewa. Seorang presiden datang dari ibu kota negeri melakukan kunjungan politik.

Lelaki yang tampak ganteng, berkarisma , dan penuh wibawa itu disambut riuh ribuan rakyatnya. Ia mudah dikenali dengan kopiah khas berwarna hitam dan pakaian safari.

Ir. Soekarno, matanya memancarkan semangat berapi-api. Langkah kakinya menuju podium di tanah lapang. Sekarang ia ingin mulai berpidato.

Warga Amuntai dan para alim ulama sudah tidak sabar menunggu apa yang akan disampaikan. Tentu tentang masalah pokok di antaranya adalah tentang kedudukan Islam dalam masyarakat, dan apakah Indonesia menjadi negara Islam atau tidak?

Soekarno melihat banyak poster dan salah satunya bertuliskan: “Minta Penjelasan: Negara Nasional atau Negara Islam?”

Setelah salam pembuka dan beberapa bait pidato, Soekarno berkata, “Yang kita inginkan adalah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia,” ujarnya. “Jika kita mendirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya bukan Islam akan memisahkan diri seperti Maluku, Bali, Flores, Timor, Pulau Kai, dan Sulawesi,” ucap Soekarno, lalu ia melanjutkan, “dan Irian Barat tidak akan menjadi bagian dari Indonesia, tidak ingin menjadi bagian dari republik.”

Setelah pidato kontroversial di tahun 1953 itu rakyat Kalsel yang religius terutama ulama mulai resah. Soekarno menolak Islam sebagai dasar negara. Pernyataan ini mendapat berbagai kecaman pedas dari ulama dan politisi Islam. Dari Amuntai merebak ke Masyumi Kalsel. Masyumi Kalsel yang di antaranya menyatakan pidato itu sebagai propaganda berat sebelah.

Walaupun zaman itu belum ada YouTube atau sosial media, isi pidato segera tersiar luas oleh kantor berita Antara ke seluruh tanah air dan internasional. Selanjutnya timbullah reaksi dari berbagai kota di Indonesia.

Di Jakarta, massa Masyumi berdemonstrasi di lapangan Banteng. Sikap yang sama juga diambil oleh NU dan GPII.

PB NU mengirimkan surat yang salah satunya ditandatangani ayah Gus Dur, KH Wahid Hasyim, tertulis: “Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan dan kesatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam, merupakan perbuatan mungkar yang tidak dibenarkan syariah Islam dan wajib tiap-tiap orang muslim menyatakan ingkar atau tidak menyetujuinya.”

Soekarno kemudian terlibat dalam serangkaian debat serius dengan Muhamad Natsir, tokoh Masyumi. Yang berlanjut Masyumi dibubarkan tahun 1960.

Begitulah pertentangan ideologi sudah lama di negeri ini. Soekarno yang memang masa mudanya banyak terinspirasi Mustafa Kamal Pasha, founding father Republik Turki yang sukses dengan sekulerisasinya memilih bentuk negara nasional bukan negara Islam. Sedangkan para ulama pada masa itu yang paham dengan syariat menolak ide ini dan menjalankan fungsi amar ma’ruf nahi munkarnya pada pemimpin. []

Muhammad R Ridho

Referensi:
1. Harian Mata Banua Banjarmasin, Edisi Senin, 25 September 2007. Judul Asli: Geger Nasional Karena Pentas Lokal: Catatan Kecil Sejarah Lokal
2. Tim Peneliti. 2003. Sejarah Banjar. Balitbangda Provinsi Kalimantan Selatan. Banjarmasin. Hal 527-528
3. Tim Penyusun. 2003. Lintas Sejarah Perjuangan Kemerdekaan dan Berdirinya Kabupaten Hulu Sungai Utara. Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara. Amuntai. Hal 72-73
4. Tempo Edisi 18-24 Agustus 2003. Patahnya Setangkai Payung. PT Tempo Inti Media. Jakarta.

About Author

Categories