‘Islam Moderat’ Sebuah Distorsi Istilah

664xauto-dengar-azan-raja-baru-saudi-tinggalkan-presiden-obama-1501283-rev1501284

Oleh: Yan S. Prasetiadi, M.Ag

SEBUAH istilah terkadang mampu menyihir dan memperdaya siapa pun, terlebih jika dikatakan dengan penuh retorika oleh tokoh terpandang. Hal ini nampaknya berlaku dalam wacana ‘Islam moderat’ yang belakangan dikampanyekan kembali sebagian pihak, setelah sebelumnya gagasan ini sempat diusung gerakan liberal, yang akhirnya kandas dan ditolak umat Islam. Karenanya patut disayangkan jika beberapa tokoh negeri ini, malah mempropagandakan kembali gagasan basi ‘Islam moderat’ ini.

Masih hangat dalam memori kita, ketika sambutan acara ta’aruf Kongres Umat Islam Indonesia VI di Yogyakarta, Menteri Agama menyatakan bahwa Islam Indonesia yang moderat adalah versi Islam yang diharapkan dunia (08/02/2015). Di hari berikutnya, selasa (10/02/2015), pada acara yang sama, Wapres mengatakan pemikiran Islam Indonesia diharapkan bisa menjadi referensi terbesar di dunia, karena itu, umat Islam di Indonesia harus bisa menunjukkan Islam yang moderat dan toleran, menjadi jalan tengah, serta mampu menjaga kebersamaan dan kedamaian.

Apa yang disampaikan wapres dan menteri Agama itu, sebetulnya sudah pernah diopinikan juga mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidatonya di depan peserta APEC CEO Summit tahun 2011 di Honolulu, Amerika Serikat (12/11/2011).

SBY mengatakan Indonesia akan menjadi model Islam moderat yang berkomitmen menekan radikalisme dengan cara yang tidak melanggar HAM dan menjujung demokrasi.

Di sini terlihat, tokoh politik di negeri ini memiliki irama dan pandangan yang senada tentang Islam. Bahwa Islam harus menjadi moderat, jalan tengah, damai, anti radikal, toleran, sesuai HAM, menjunjung demokrasi dan dicintai ‘dunia’.

Sepintas gagasan ‘Islam moderat’ merupakan gagasan yang seolah asli dan elegan. Akan tetapi, setelah ditelusuri, kampanye ‘Islam moderat’ tidak lepas dari peristiwa WTC 11 September 2001, di mana kelompok Muslim dituduh bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Akhirnya umat Islam menjadi tertuduh, dan diciptakanlah istilah ‘Islam radikal’ untuk menggiring kaum Muslim agar menerima istilah ‘Islam moderat’.

Dari berbagai pernyataan para politisi dan intelektual Barat terkait klasifikasi Islam menjadi ‘Islam moderat’ dan ‘Islam Radikal’ atau Ekstrimis, kita akan menemukan bahwa yang mereka maksud ‘Islam Moderat’ adalah Islam yang tidak anti Barat (baca: anti Kapitalisme); Islam yang tidak bertentangan dengan sekularisme Barat, serta tidak menolak berbagai kepentingan Barat. Substansinya, ‘Islam Moderat’ adalah Islam sekular, yang mau menerima nilai-nilai Barat seperti demokrasi dan HAM, serta mau berkompromi dengan imperialisme Barat dan tidak menentangnya. Kelompok yang disebut ‘Islam Moderat’ ini mereka anggap sebagai ‘Islam yang ramah’ dan bisa jadi mitra Barat.

Sebaliknya, menurut Barat, yang disebut ‘Islam radikal’ atau ‘ekstrimis’ adalah Islam yang menolak ideologi Kapitalisme-Sekular, anti demokrasi, dan tidak mau berkompromi dengan Barat.

Dengan kata lain, ‘Islam radikal’ adalah Muslim yang setia dengan pandangan hidup dan nilai-nilai Islam, serta taat pada ideologi dan syariat Islam. Atau, orang radikal adalah orang yang ingin menerapkan Islam kaffah. Bagi Barat, kelompok Islam ini bukan saja dianggap sebagai Islam yang ‘keras’ dan anti-Barat, tetapi juga dianggap sebagai ancaman buat peradaban mereka.

Karena itu, Noam Chomsky dalam Pirates and Emperors, Old and New International Terorism in The Real World (new edition, 2002), mengatakan: “We note another pair of Newspeak concepts: ‘extremist’ and ‘moderate,’ the latter referring to those who accept the position of the United States, the former to those who do not.” (Kita mencatat sepasang konsep basabaru: ‘ekstrimis’ dan ‘moderat’; predikat ‘moderat’ disandangkan pada pihak-pihak yang mendukung kebijakan AS dan sekutunya. Sementara predikat ‘ekstrimis’ disandangkan pada pihak-pihak yang menantang, mengancam, mengusik kebijakan AS dan sekutunya).

Jelas, klasifikasi demikian menggambarkan cara pandang Barat terhadap Islam dan kaum Muslim sesuai ideologi mereka. Karena itu, umat Islam wajib menyadari, pemilahan Islam menjadi moderat dan radikal adalah demi kepentingan Barat, yakni untuk memunculkan satu kelompok Islam dan menekan kelompok Islam yang lain. Dengan begitu, Barat berambisi, hanya ada satu Islam, yakni Islam yang mau menerima ideologi, nilai-nilai, dan peradaban Barat serta berbagai kepentingan mereka.

musdah_barat

Tokoh liberal Indonesia, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia kembali mendapat pujian Barat. Kali ini, ia terpilih sebagai “Women of the Year 2009” pada Il Premio Internazionale La Donna Dell ‘Anno (International Prize for the Woman of the Year) 2009 yang berlangsung di Saint-Vincent, Italia

Padahal dalam keilmuan Islam, tidak ada yang namanya Islam moderat, Islam ramah, Islam radikal, ataupun Islam ekstrimis. Karena Islam adalah agama (diin) yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan antara manusia dengan Allah, dengan sesamanya, dan dengan dirinya sendiri.

Karena itu, Islam tidak cuma mengajarkan akidah yang mengharuskan setiap pemeluknya mengimani rukun iman. Islam juga mengharuskan setiap pemeluknya untuk terikat dengan syariat-Nya; baik yang berkaitan dengan masalah ibadah, muamalat (seperti sistem ekonomi), munakahat (seperti sistem pergaulan pria-wanita), hudud dan jinayat (seperti sistem sanksi dan peradilan), jihad, maupun ahkam sulthaniyah (seperti sistem pemerintahan), dsb. Inilah yang disebut Islam kaffah. Inilah keberislaman yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala.

Itulah sejatinya hakikat Islam yang disepakati para ulama. Akan tetapi dilapangan, pelaksanaan Islam oleh para pemeluknya tidak selalu berbanding lurus dengan ajaran yang dipeluknya. Misal, korupsi jelas diharamkan Islam, tetapi para koruptor di negeri ini ada yang Muslim.

Demikian pula dengan satu-dua aksi pengeboman terhadap rakyat sipil, juga jelas dilarang Islam, meski pelakunya ternyata ada yang Muslim. Jika kasus korupsi tersebut mewakili Muslim moderat, kemudian kasus pengeboman mewakili Muslim radikal, apakah masuk akal jika kemudian Islam yang disalahkan? Jelas tidak, karena kesalahan bukan pada Islam, tetapi pada masing-masing oknum pelakunya.

Semua tindakan itu jelas bertentangan dengan Islam dan tidak ada kaitan dengan Islam. Jika kemudian ada oknum Muslim yang melakukan kesalahan, seharusnya ia dilihat sebagai orang yang melakukan pelanggaran terhadap (hukum) Islam, dan bukan sedang mempraktikan ajaran Islam. Wallahu A’lam.*

Penulis akademisi dan penulis buku “Studi Islam Paradigma Komprehensif”, tinggal di Purwakarta

Categories