Umat Islam Tidak Memerlukan Konsep Islam Moderat

MUSTANIR.netKantor Menteri Urusan Agama bekerja sama dengan Departemen Perkembangan Islam Malaysia (JAKIM) dan Liga Muslim Dunia (Muslim World League/MWL) dari Arab Saudi baru-baru ini menyelenggarakan The 2024 World Religious Leaders Conference dan The 2024 Asian Scholars Council di Kuala Lumpur. Konferensi ini bertujuan untuk mengembangkan visi peradaban bersama yang menyatukan nilai-nilai moderasi dan persatuan, mengatasi ancaman pemikiran ekstremis, dan mengubah konflik menjadi pemahaman, kerja sama, dan persatuan.

Namun, aktivis muslim Dr. Mohammad mengkritik penyelenggaraan konferensi tersebut pada Rabu (29-5-2024). Ia menyatakan bahwa umat Islam tidak memerlukan konsep Islam moderat.

“Umat Islam tidak memerlukan konsep Islam moderat dan jalan toleransi yang dijajakan dan dirintis oleh AS. Selama 1.400 tahun, umat Islam hidup rukun dengan berbagai bangsa dan agama di bawah Islam,” tegasnya.

Ia lantas membeberkan bukti yang didokumentasikan dengan baik dalam catatan sejarah dan banyak buku, bahkan sejarawan non muslim pun mengakui fakta ini.

“Buku The Ornament of the World yang ditulis oleh seorang sarjana Amerika telah memaparkan kekayaan keragaman budaya ketika umat Islam memerintah al-Andalus di Spanyol berdasarkan hukum Islam,” paparnya.

Pada masa itu, lanjutnya, umat Islam, Yahudi, dan Kristen tidak hanya hidup berdampingan tetapi juga memupuk budaya toleransi yang tinggi, bahkan disebut sebagai masa keemasan bagi orang Yahudi!

“Di sisi lain, tersebarnya berbagai pemikiran Barat telah membawa berbagai bencana bagi keharmonisan dan kesejahteraan hidup umat manusia. Ide-ide inilah yang diminta oleh Barat untuk diadopsi oleh umat Islam atas nama Islam moderat,” kritiknya.

Langkah Barat

Ia kemudian membeberkan berbagai langkah yang dilakukan Barat untuk mewujudkannya.

“Pada Mei 2016, sebuah komite dibentuk di Washington untuk merencanakan kerja sama dengan Arab Saudi sebagai pusat penanganan ekstremisme. Selanjutnya, pada Mei 2017, Global Center for Combating Extremist Ideology (GCCEI) didirikan dan diluncurkan pada saat kunjungan Presiden Donald Trump ke Riyadh, Arab Saudi,” urainya.

MWL, lanjutnya, memainkan peran penting dalam memberdayakan agenda Islam moderat ini. Melalui kepemimpinan Muhammad bin Abdulkarim al-Issa, MWL memprakarsai Piagam Mekkah pada Mei 2019, yang didukung oleh sekelompok ulama terkemuka yang berkumpul di kota suci untuk mempromosikan narasi Islam moderat.

“Islam moderat adalah aliran pemikiran yang disponsori oleh Barat yang menggabungkan ajaran Islam dengan prinsip-prinsip sekuler dan keterbukaan, mendorong penafsiran fleksibel yang seringkali menyimpang dari kelurusan dan kebenaran Islam,” jelasnya.

Untuk tujuan ini, lanjutnya, Arab Saudi dan MWL bertanggung jawab sebagai platform untuk menyebarkan agenda ini ke negara-negara muslim lainnya melalui berbagai konferensi dan dewan ulama dengan fokus membangun generasi muda muslim yang pemikirannya didasarkan pada gagasan Piagam Mekkah.

“Apa yang dapat kita baca dari hal ini adalah bahwa Barat bersikeras bahwa Islam harus disesuaikan dengan keadaan, bukan keadaan yang disesuaikan dengan Islam,” paparnya.

Saat ini, lanjutnya, keadaan yang dijalani umat didominasi oleh pemikiran dan budaya Barat.

“Bagi umat Islam yang menginginkan penerapan Islam secara penuh dan benar, mereka seringkali dicap sebagai Islamis, dan tidak jarang sebagai ekstremis dan radikal!” ucapnya miris.

Palestina

Ia mengungkapkan bahwa hari ini seharusnya para ulama memfokuskan seluruh upayanya untuk membangun persatuan dan kekuatan di dunia Islam untuk membebaskan Palestina dan seluruh wilayah yang tertindas, dan tidak terjebak dalam permainan hegemoni Barat ini.

“Negara-negara Barat sejatinya tidak memenuhi syarat dan tidak pernah memiliki landasan moral untuk mengajar atau memimpin komunitas global mengenai makna hidup dan perdamaian,” tegasnya.

Ia kemudian menyatakan, saat ini yang paling memenuhi syarat untuk mengajarkan dunia tentang kemanusiaan adalah umat Islam di Palestina.

“Sudah cukup kita melihat penderitaan dan penindasan yang menimpa umat Islam di sana dan pengkhianatan yang dilakukan para pemimpin dunia Islam. Para ulama harus menolak seruan Islam moderat yang disponsori Barat dan mulai memfokuskan upaya untuk menyatukan umat di bawah bendera khilafah,” tegasnya. []

Sumber: M News

About Author

Categories