Islam Moderat: Islam Rasa Barat

MUSTANIR.net – Ada jenis Islam baru yang sedang dipromosikan di dunia: Islam moderat. Katanya, inilah Islam yang paling ideal. Bukan Islam yang keras, kaku, apalagi “radikal”.

Namun, jangan salah, yang dimaksud “moderat” di sini bukanlah Islam yang lurus di tengah antara dua ekstrem, melainkan Islam yang sudah dimasak ulang di dapur politik Barat.

Resepnya sederhana:

Ambil Islam asli. Buang semua bagian yang bikin Barat alergi: syariah, khilafah, jihad, hijab, penolakan terhadap Israel. Lalu tambahkan “bahan pengawet” bernama liberalisme dan sedikit “penyedap rasa” pluralisme. Jadilah “Islam rasa Barat”. Enak di lidah penjajah. Lembut di perut kapitalis.

Gembong imperialis seperti Tony Blair, George Bush, dan kawan-kawannya di Washington serta London dulu bahkan sudah merumuskan Islam moderat ini. Mereka menyebut Islam sejati sebagai “evil ideology”—ideologi setan—karena berani menolak penjajahan Israel, menegakkan syariah, dan menolak nilai-nilai Barat liberal.

Anehnya, mereka tetap butuh Islam. Asal Islam versi jinak, yang bisa diajak selfie bareng di forum demokrasi global.

Maka dari itu, lahirlah proyek besar “Islam moderat”. Itulah “Islam” yang tidak lagi mempersoalkan siapa tuan dan siapa penjajah. Islam yang senang diajak bicara tentang toleransi, tetapi dilarang bicara tentang penegakan hukum Allah. Islam yang boleh berdakwah, asal tidak mengusik sistem sekular. Islam yang sibuk menata hati, tetapi tidak boleh menata negeri dengan syariah Islam.

Betapa indah bagi Barat!

Kini mereka tak perlu lagi mengebom Baghdad atau Kabul. Cukup sebarkan bea siswa, dana LSM dan jargon “moderasi agama”. Biarkan umat Islam membanggakan diri karena dianggap “moderat”. Padahal sejatinya mereka sudah kehilangan gigi, taring dan keberanian.

Lucunya, sebagian kaum Muslim malah merasa bangga disebut “moderat”. Mereka mengira sedang menempuh jalan tengah. Padahal mereka sedang berjalan di jalan tol menuju penjinakan.

Padahal Islam itu satu. Tidak ada Islam moderat, Islam radikal, atau Islam rasa vanila. Yang ada hanya Islam yang kaaffah, sebagaimana diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya: tegak dengan syariah, bersatu dalam khilafah, menolak penjajahan, dan menegakkan keadilan sejati.

Namun, bagi Barat, Islam semacam itu terlalu “keras”. Ya, keras—karena tak bisa dibentuk sesuai selera mereka. Maka dari itu mereka pun menawari kita versi lembutnya: Islam moderat. Islam yang tidak menantang dan tidak melawan serta tentu saja sangat bisa dinegosiasikan.

Kini saatnya kaum Muslim berhenti bangga dengan label yang diciptakan musuhnya sendiri. Kita tidak butuh pengakuan dari Barat untuk menjadi “Islam yang baik”. Kita hanya butuh satu hal: kembali tunduk sepenuhnya pada syariah Allah SWT. Tanpa edit, tanpa sensor dan tanpa kompromi.

Sebabnya, Islam bukan untuk menyesuaikan diri dengan selera Barat, tetapi untuk menggantikan peradaban rusak yang mereka banggakan itu. Selama umat ini masih sibuk memilih antara “moderat” atau “radikal”, mereka akan terus jauh dari satu-satunya identitas sejati: sebagai umat terbaik yang membawa risalah Allah SWT untuk mengubah dunia dengan cahaya-Nya. []

Sumber: Arief B Iskandar

About Author

Categories