Jangan Putus Asa Dalam Berdoa

Jangan Putus Asa Dalam Berdoa

Allah SWT berfirman di dalam surat Al-Baqarah, 2:186:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

_”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”._

Ini janji Allah. Jika kita berdoa dan bermohon dengan sungguh-sungguh kepada-Nya, pasti Allah SWT akan mengabulkan doa tsb.

_Tetapi, mengapa ada doa yang tidak dikabulkan?_

_Benarkah demikian?_

*_Sebenarnya, apa syarat agar doa itu dikabulkan Allah?_*

Kata Allah: _*”Fal-yastajiibuu-lii”,*_ hendaklah mereka berusaha semaksimal mungkin melakukan perintah-Ku.

Jadi, jika seseorang berdoa, tapi ia tidak sholat, tidak berpuasa dan tidak mau beribadah kepada Allah, ya percuma! Tidak _”Da’aan”_, tidak sungguh-sungguh berdoa.

Allah SWT tidak berkata: _”Fal-yujiibu-lii”_, mereka wajib melakukan perintahku dulu, baru Aku kabulkan doanya.

Tapi Allah SWT berkata: _”Fal-yastajiibuu-lii”,_ jika mereka ingin dikabulkan doanya, maka hendaklah mereka berniat dan mau berusaha semaksimal mungkin melakukan perintah-Ku.

Saudara-riku tercinta…

Banyak orang salah memahami doa.
Doa itu tidak selalu instan seperti yang kita mau.
Tapi ada waktu dan cara Allah yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan.

Syarat berikutnya: _*”Wal-yu’minuu-bii..”*,_ dan hendaklah mereka percaya dan yakin kepada-Ku. Jangan su`uzzhan / berprasangka buruk kepada Allah ketika doa kita belum dikabulkan.

Ada kisah di dalam surat al-Qashash, yaitu tentang ibu nabi Musa as. Ketika ibu nabi Musa melahirkan Musa as, Fir’aun telah menginstruksikan kepada pasukannya untuk membunuh seluruh bayi laki-laki. Karena bisikan dari ahli nujumnya, bahwa kelak bayi tersebut akan menggantikan kedudukannya.

Dilakukanlah _”sweeping”_ untuk mencari bayi laki-laki di setiap sudut kampung. Ketika pasukan Fir’aun mendekati rumahnya, ibu nabi Musa berdoa kepada Allah: _”Ya Allah, selamatkanlah anakku”._

Perintah Allah kepada ibu nabi Musa: _”Susu-kan anakmu!”._

Ibu nabi Musa mematuhi perintah Allah, disusukanlah bayinya…

Bayi itu jika disusukan akan tenang, diam, tidak nangis. Maka pasukan Fir’aun tidak mendengar suara bayinya, dan selamatlah bayi nabi Musa as.

Kemudian kata Allah: _”Jika engkau khawatir akan bayimu, khawatir pasukan Fir’aun akan datang lagi esok hari, maka hayutkanlah ia ke dalam sungai!”._

Bayangkan! Seorang ibu harus menghanyutkan bayinya di sungai. Tapi ibu Musa yakin dengan perintah ALLAH. Maka diletakkanlah bayinya di sebuah keranjang, kemudian dihanyutkan ke sungai, walau saat itu ia melakukan dengan perasaan yang sangat berat, dengan perasaan yang sangat sedih, tapi ibu Musa patuh melakukan perintah Allah.

*_Lalu apa yang terjadi?_*

Sungai itu ternyata mengarah ke istana, dan keranjang itu ditemukan oleh istri Fir’aun, yang akhirnya bayi nabi Musa dipelihara dan tinggal di istana.

Tidak ada seorang pun yang dapat menyusui bayi nabi Musa kecuali ibunya. Akhirnya ibunya pun bekerja di dalam istana. Selamatlah anak dan ibu, tinggal di tempat paling aman saat itu.

Allah mengabulkan doa ibu nabi Musa dengan cara yang jauh lebih baik, walau mungkin diawali dengan perasaan sedih dan takut.

Saudara-riku tercinta…

Yakinlah bahwa Allah SWT tidak pernah *tidak mengabulkan* sebuah doa.

Pengabulan itu hanya soal *When* dan *How* saja.
Allah sangat tahu *kapan* dan *bagaimana* cara mengabulkannya.

*Kapan* dan *bagaimana* cara Allah mengabulkan itu tidaklah selalu sama dengan *kapan* dan *bagaimana* cara manusia minta dikabulkan.

Keputusan *kapan* dan *bagaimana* cara Allah mengabulkan itu adalah yang paling tepat dan jitu.

Ingat… Iblis saja yang durhaka dan jelas-jelas menentang-Nya _(artinya, dalam posisi ini Iblis penuh bergelimang dosa)_, dikabulkan doanya ketika ia meminta untuk dipanjangkan umurnya hingga kiamat tiba.

Oleh sebab itu, yang penting dalam berdoa itu adalah sikap tulus dan yakin. Kombinasi ini yang akan senantiasa menghidupkan dan mengembangkan harapan. Harapan yang tak pernah mati. Itulah cikal bakal lahirnya optimisme.

Bagaimanapun, doa seorang hamba pasti akan dikabulkan-Nya, namun…

Kadang langsung dikabulkan-Nya di dunia,
Kadang diganti dengan sesuatu yang lebih baik,
Kadang ditunda untuk di akhirat,
Kadang digunakan untuk menghapus dosa.

Seorang ulama bernama Yazid ar-Raqrasyi berkata:

_”Di akhirat nanti, ada seorang hamba yang terheran-heran melihat ganjaran pahala yang ia dapat, yang ia sendiri merasa tidak pernah melakukannya sewaktu hidup di dunia. Saat itu ada suara yang mengatakan: “Itulah ganjaran atas doa-doamu yang belum dikabulkan sewaktu di dunia”._

Beliau melanjutkan:
_”Andai saja manusia tahu bahwa ganjaran doanya lebih besar di akhirat, maka niscaya mereka akan berharap semua doa-doanya dikabulkan di akhirat saja”._

Jadi, jangan putus asa dalam berdoa, sebab Allah SWT berjanji akan mengabulkan doa dan permohonan hamba-Nya, selama hamba-Nya berdoa dengan sungguh2 sungguh dan yakin dengan Maha Pengasih dan Penyayang nya ALLAH.

_”Berdoalah kepada-Ku, pasti akan Aku Kabulkan untukmu”_ (QS. 40: 60)

_Wallaahu a’lam bish-shawwab._

Categories