Persoalan yang Melanda Kaum Muslim Terus Terjadi Akibat National Interest

MUSTANIR.net – Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto menilai, persoalan yang melanda kaum muslim di berbagai negara terus terjadi karena para pemimpin negeri muslim bergerak atas dasar national interest (kepentingan nasional).

Kepada M News, Rabu (20-5-2026), ia menuturkan, persoalan di Palestina, Myanmar, Xinjiang, Kashmir, Sudan, Somalia, Afganistan, Irak, Libya, Yaman, Suriah, Iran, dan negeri muslim lainnya bukanlah daftar masalah yang terjadi satu persatu dalam sejarah yang berbeda. “Namun, ini terjadi secara bersamaan dan umat Islam seluruh dunia menyaksikannya. Ini pasti ada yang salah,” ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, alih-alih bertindak, yang ada para pemimpin negeri-negeri muslim hanya mengirim perwakilannya ke PBB untuk berpidato keras dan menghasilkan berbagai resolusi yang sebagian besarnya tidak pernah dilaksanakan.

“Para pemimpin ini bergerak atas dasar national interest. Akibatnya, saat terjadi krisis, umat Islam tidak bisa bergerak dalam satu blok. Kita bergerak dalam 57 negara yang masing-masing takut kehilangan hubungan diplomatik, kontrak perdagangan, hubungan dengan kekuatan besar, dan takut kehilangan national interest masing-masing,” bebernya.

“Penjara”

Menurutnya, national interest inilah yang membuat negara bangsa (nation state) benar-benar telah menjadi ‘penjara’ bagi umat Islam. Ia mencontohkan yang terjadi pada perang Iran, Arab Saudi justru membuka ruang udaranya bagi jet-jet tempur Amerika Serikat (AS). “Pangkalan-pangkalan militer AS pun ada di tanah Arab, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab,” jelasnya.

Tanah Arab, ungkapnya, yang merupakan tempat Islam bermula dan Nabi ﷺ dilahirkan, juga tempat di mana ada dua kota suci justru menjadi pangkalan militer asing dengan kepentingan yang tidak sejalan dengan kepentingan Islam dan umatnya.

“Ironisnya, para pemimpin Arab tidak merasa bersalah dan berlindung di balik argumen bahwa perlu menyeimbangkan kekuatan untuk melindungi keamanan negara sehingga perlu menjaga hubungan antarnegara. Itulah bahasa ‘negara bangsa’ yang telah menghapus bahasa persatuan Islam, ukhuah islamiah,” cetusnya.

Lalu, ia bertanya, ketika Iran dan Arab Saudi bertikai, siapa yang tertawa? “Yang tertawa senang adalah AS dan Israel. Ini karena sumber daya umat muslim akan terus terkuras untuk saling menghancurkan. Selanjutnya, saat negeri-negeri muslim itu lelah, AS akan masuk dengan leluasa dan mengambil apa saja yang mereka inginkan. Melalui strategi ‘pecah dan kuasai’, para penjajah ini menguasai negeri muslim dan negeri muslim terus terjebak di dalam strateginya,” paparnya.

Padahal, UIY menerangkan, dunia Islam sesungguhnya dunia yang besar dengan sumber daya yang besar. “Umat Islam berjumlah lebih dari dua miliar orang, menguasai lebih dari 50% cadangan gas dan minyak dunia, lahan yang subur, padang pasir, jalur perdagangan strategis, memiliki artefak-artefak berusia ratusan tahun, bahkan sejarah peradaban yang gemilang,” ujarnya.

Namun, ia menyesalkan, semua potensi itu seperti tidak berarti apa-apa karena umat Islam terpecah menjadi 57 negara. “Itu artinya, ada 57 presiden atau raja, 57 angkatan bersenjata, 57 kebijakan luar negeri, 57 national interest yang berbeda-beda. Maka, wajarlah dunia Islam tidak lagi diperhitungkan. Yang ada, dunia Islam justru menjadi objek santapan negara-negara besar persis seperti yang disampaikan Rasulullah ﷺ,” jabarnya.

Bekerja Sesuai Sistem

Memang, UIY menyampaikan, sering disampaikan bahwa jika ada pemimpin yang baik, pasti keadaan akan berubah. “Namun, pertanyaan lebih dalamnya, apakah dengan pemimpin yang baik, pasti akan lahir masyarakat yang baik? Bukankah, pemimpin di mana pun akan bekerja sesuai dengan sistem yang ada yang saat ini dibuat oleh negara-negara besar? Sebuah sistem yang melindungi yang kuat dan menghukum yang lemah?” tanyanya lugas.

Lalu, sambungnya, sistem apakah yang seharusnya digunakan oleh pemimpin yang baik itu untuk menghasilkan masyarakat yang baik?

UIY menegaskan, umat Islam hanya akan benar-benar kuat, berdaya, dan bermartabat ketika bersatu di bawah satu sistem yang bersumber dari wahyu Allah Taala, bukan sistem buatan manusia yang mudah berubah sesuai selera.

“Bukan sistem yang bisa diveto dan dibeli oleh penguasa. Sistem itu sumber hukumnya adalah Al-Qur’an dan Sunah. Sistem yang batas-batasnya bukan garis-garis imajiner yang dibuat para penjajah dalam bentuk negara bangsa, tetapi batas-batas syariat yang melindungi seluruh manusia, tanpa memandang warna kulit dan garis geografis,” ungkapnya.

Tiga Hal

Untuk itu, UIY mengingatkan, ada tiga hal yang harus dilakukan kaum muslim.

• Pertama, ucapnya, meluruskan cara berpikir. “Selama cara berpikirnya; Indonesia first, Arab first, Pakistan first, Malaysia first, baru selanjutnya tentang kita sebagai kaum muslim, maka kita akan lemah dan tidak akan pernah mencapai kejayaan. Sebaliknya, kita harus berpikir sebagai satu umat,” tegasnya.

• Ke dua, lanjutnya, berhenti menjadi penonton. “Ketika umat Islam di mana pun dizalimi, itu bukanlah masalah negara yang bersangkutan saja, tetapi itu urusan kita juga. Jadi, mari kita bersatu. ‘Perumpamaan kaum mukmin dalam hal saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain turut merasakan sakit.’,” jelasnya mengutip hadis riwayat Muslim.

• Ke tiga, ujarnya, kaum muslim harus bersungguh-sungguh memahami Islam sebagai satu sistem kehidupan yang lengkap, bukan Islam yang sekadar mengurusi ibadah. “Namun, Islam sebagaimana yang dimaui Allah Taala, yakni mengatur kehidupan pribadi, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan nasional, dan seluruh aspek kehidupan. Islam yang pernah memimpin peradaban terbesar dalam kehidupan manusia selama 1300 tahun,” urainya.

Jika benar-benar paham, ungkapnya, maka kaum muslim akan bergerak untuk menerapkannya secara paripurna. “Oleh karena itu, yang dibutuhkan dari kita adalah sedikit saja keberanian untuk kembali kepada-Nya, kepada Islam dengan berjuang menegakkan sistem yang mulia itu pada masa kita,” tegasnya.

Selain itu, tuturnya, kita pun harus memahami bahwa sejarah tidak pernah berhenti bergerak. “Peradaban-peradaban besar naik dan jatuh. Romawi Timur yang dahulu tampak tidak bisa dikalahkan, akhirnya pun jatuh. Imperium Inggris runtuh. Dan percayalah, kesombongan kekuatan-kekuatan dunia saat ini tidak akan bertahan selamanya,” ujarnya.

Namun, ia mempertanyakan, ketika lembaran sejarah itu berbalik dan jatuh, apa peran kita sebagai kaum muslim?

“Apakah terus membiarkan diri kita diam sebagai penonton dan menjadi bagian dari masalah? Atau menempatkan diri kita sebagai bagian dari solusi yang memilih sadar dan bangkit berjuang demi terwujudnya persatuan dan izzul Islam wal muslimin? Jawabannya, ada di tangan kita sendiri. Hanya dengan kembali kepada-Nya, pertolongan Allah Taala akan datang dan hanya dengan pertolongan-Nya, kita akan memperoleh izzul wal muslimin,” tandasnya. []

Sumber: M News

About Author

Categories