Jerman Mewajibkan Muslimah Ikut Renang Campur

Jerman Mewajibkan Muslimah Ikut Renang Campur

Mustanir.com – Pengadilan tinggi Jerman mewajibkan pelajar Muslimah mengikuti kelas renang campuran pria dan wanita di sekolah. Keputusan ini sekaligus menolak keluhan yang diajukan oleh gadis berusia 11 tahun yang mengatakan memakai burkini (pakaian renang Muslimah) pun melanggar cara berpakaian seorang Muslimah.

Dilansir dari AFP, pelajar keturunan Maroko di Jerman menolak ikut dalam pelajaran renang dengan murid pria lainnya, dan diberi nilai tidak memuaskan oleh gurunya. Gadis itu berpendapat bahkan berenang menggunakan burqinipun memperlihatkan bentuk tubuh seorang wanita, dan pandangan murid lain ketika ia berpakaian renang membuatnya kurang nyaman.

“Mahkamah Konstitusi Federal Jerman di Karlsruhe diberhentikan banding gadis yang telah mencari excusal dari kelas,” Süddeutsche Zeitung melaporkan dilansir Russian Today (RT) awal Desember lalu.

Menurut Mahkamah Konstitusi Jerman gadis itu tidak bisa membuktikan bahwa burqini tidak sesuai dengan hukum Islam. Pengadilan yang lebih rendah telah juga telah memutuskan tidak ada aturan yang mengikat dalam Islam dan menentukan pakaian yang sesuai.

Hasil penelitian Pew Research Center, Jerman dan Perancis memiliki populasi Muslim terbesar di Uni Eropa. Kedua negara pun menegaskan bahwa hukum negara diutamakan di atas hukum Syariah Islam.

Kanselir Jerman, Angela Merkel pun telah mengusulkan larangan cadar di Jerman. “Cadar harus dilarang di manapun secara hukum,” kata Merkel dalam kongres Partainya Persatuan Demokrat Kristen Jerman (CDU) beberapa waktu lalu.

Pada tahun 2010, Perancis adalah negara Eropa pertama yang melarang mengenakan cadar di tempat umum. Larangan itu dikuatkan oleh Pengadilan HAM Eropa pada tahun 2014, yang mengatakan larangan itu tidak melanggar kebebasan beragama. Belgia mengikuti pada tahun 2011 dan memperkenalkan larangan serupa.

Pada bulan lalu, majelis rendah parlemen Belanda memilih untuk melarang cadar wajah dan lainnya wajah meliputi pakaian di tempat umum tertentu, seperti sekolah, rumah sakit, dan gedung-gedung pemerintah, mengutip kekhawatiran keamanan. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Pengadilan Jerman tersebut jelas menganggap bahwa kedudukan wanita dan pria di mata publik memiliki hak dan kewajiban yang sama, sehingga itulah dasar dari kebijakan pencampuran antara renang pria dan wanita. Ini jelas merujuk pada keyakinan dasar dari Hak Asasi Manusia.

Tentu saja Islam memiliki pandangan berbeda. Ketidakbolehan pencampuran antara pria dan wanita dalam beberapa hal dilandaskan pada wahyu, yakni Hadits Nabi tentang dilarangnya khalwat dan kebiasaan Nabi serta Shahabat yang memisahkan antara kehidupan pria dan wanita (infishol). Inilah standar yang benar dalam Islam. Karena Islam sesuai fitrah, maka seharusnya apa yang diperintahkan Islam akan menjaga fitrah manusia.

Maka jangan kita heran jika akibat dari kebijakan pengadilan semacam ini, dan juga kebiasaan orang-orang Barat dengan kehidupan campur baur antara pria dan wanita, menyebabkan banyak kerusakan moral dan kehidupan sosial. Pelecehan seksual, freesex (zina), impotensi, perselingkuhan dan sebagainya muncul karena pengaturan kehidupan pria dan wanita yang tidak sesuai tuntunan Pencipta manusia, Allah Rabbul’Izzati.

Categories