MUSTANIR.net – Rekayasa terjahat yang dibuat oleh kaum komunis adalah pernyataan bahwa Islam berhaluan kiri. Islam muncul berhaluan kiri di bawah pimpinan Muhammad ﷺ, kemudian terpecah menjadi kanan dan kiri. Abu Bakar berhaluan kanan dan Umar bin Khaththab berhaluan kiri. Golongan kanan memperoleh kemenangan dengan berkuasanya Dinasti Umayah dan Abbasiyah pada masa tabiin. Lalu Islam berakhir dengan seorang raja diktator-reaksioner dan dengan aliran kanan konservatif-primitif.

Hal ini merupakan pelabelan bohong dan usaha menunggangi Islam serta menundukkannya demi tujuan-tujuan materialisme-dialektis. Hal itu juga merupakan bagian dari tipu daya mereka dan usaha untuk menjerat para pemuda muslim (terutama orang-orang fanatik terhadap Islam, namun bodoh) agar bergabung dengan golongan kiri.

Pernyataan bahwa Abu Bakar berhaluan kanan dan Umar bin Khaththab berhaluan kiri sama dengan pernyataan bahwa Abu Bakar adalah Zamlakawi dan Umar bin Khaththab adalah Ahlawi. Kata kanan dan kiri merupakan kata-kata baru yang tidak ada pada aspek semantik dalam bahasa Quraisy. Kita menolak usaha pengalihan makna kata kiri menjadi tanda revolusi yang bertujuan mengadakan perubahan sosial.

Islam datang sebagai dakwah peringatan akan akidah yang diturunkan kepada Adam dan semua nabi. Kemudian dengan bergulirnya waktu, akidah itu selalu diselewengkan manusia. Islam mengembalikan akidah yang diturunkan kepada Adam dan mengingatkan kembali akan tauhid serta mengenalkan Allah dengan sifat-sifat, nama-nama, dan syariat-syariat-Nya. Islam bukan revolusi perubahan sosial dan Muhammad ﷺ tidak sama dengan Guevara, Castro, dan Lenin (Inilah yang mereka maksudkan dan mereka nyatakan pada kita.)

Keadilan sosial dalam Islam merupakan hasil yang dicapai dari tauhid dan takwa kepada Allah serta menaati ajaran-ajaran-Nya, namun keadilan sosial tersebut bukan merupakan esensi wahyu. Dengan makna ini, Islam bukan revolusi perubahan, tetapi merupakan kata peringatan dan penegasan ajaran lama yang azali serta pengembalian kalimat “tiada Tuhan selain Allah”.

Tidak ada kata kiri di sini, demikian pula kata kanan, sampai orang komunis memunculkan makna kedua kata itu. Ada pun agama merupakan wahyu Ilahi yang tidak mengikuti nafsu seseorang, tidak membujuk golongan proletar, tidak membaguskan petani dan buruh, dan tidak berpihak pada salah satu golongan. Islam berbicara tentang jalan kebenaran, jalan yang lurus, dan jalan penengah di antara semua golongan yang bertikai. Islam adalah jalan yang tidak berbelok ke kanan atau ke kiri.

Lalu, revolusi-revolusi Lenin, Guevara, Castro, dan para pemimpin penipu manusia lainnya, semuanya berusaha mengobarkan dendam orang miskin kepada orang kaya. Revolusi-revolusi itu mengundang kehancuran agar satu golongan membantai golongan yang lain. Keadilan dalam revolusi itu hanya terlaksana dengan mencabut kepemilikan dan sumber-sumber produksi, penangkapan, memperketat pengawasan, dan penyiksaan.

Oleh karena itu, reformasi ekonomi di setiap negara-negara itu berakhir dengan kelumpuhan ekonomi. Karena, dendam terhadap golongan minoritas yang aktif dan produktif telah menyebabkan mereka meninggalkan bidang keahliannya. Mereka lari bersama kecakapan dan keahlian mereka, meninggalkan negara yang sibuk dengan golongan baru dari anggota partai dan ribuan pegawai pemalas yang telah kehilangan motivasi. Mereka selalu tidur di meja mereka. Dengan demikian, produksi jatuh dan revolusi berakhir dengan semboyan-semboyan kosong.

Sementara keadilan sosial dalam Islam, jalannya berbeda sama sekali. Keadilan sosial tidak mengobarkan dendam orang miskin pada orang kaya, tetapi berusaha membangkitkan potensi umat dan berusaha menyebarkan kasih sayang dan persaudaraan, sehingga umat bersatu padu tanpa ada perbedaan, tidak terpecah belah, dan tidak ada rasa takut.

Hal ini mengobati persoalan dari akarnya, di mana orang kaya membantu orang miskin. Dengan ikhlas dan rela, orang kaya memberikan hartanya sesuai ketentuan berupa zakat, infak, dan pajak, tanpa ada ancaman untuk dicabut kepemilikannya, atau diawasi dengan ketat, tanpa penangkapan, tanpa paksaan dan siksaan.

Perbedaan Islam dan komunisme adalah perbedaan antara kepandaian dan kebodohan, antara langit dan bumi, antara wahyu Ilahi dan berhala manusia, antara kenabian ilhami yang murni dan makar jahat yang menyimpan tujuan tertentu. Sebenarnya, tidak ada satu aspek pun yang mirip atau sama di antara keduanya.

Usaha pencampuran konsep-konsep, penunggangan gelombang Islam, dan peneriakan semboyan-semboyannya, atau penggunaan semboyan-semboyan hina, seperti kanan dan kiri, merupakan corak lain dari pemalsuan-pemalsuan komunis. Saya tidak tahu mengapa kawan-kawan kita, para haji Marxis itu, sekarang tidak membela Islam. Mereka menggunakan semboyan Islam satu kali dan menggunakan semboyan mereka berkali-kali.

Bukankah hal itu menjadi bukti bahwa dagangan mereka tidak laku, bahwa mereka tidak lagi mampu mengedarkan filsafat mereka, bahwa mereka sudah tahu pasaran filsafat ini tidak laku dan akhirnya bangkrut total, dan bahwa kelemahan aliran ini telah tersingkap.

Mereka hanya bisa memakai topeng dan penyamaran, memalsukan pemikiran, dan mencampuradukkan konsep. Mereka menyusup ke dalam benteng tinggi yang sepi, mereka berusaha masuk ke dalamnya dengan panji-panji darwisy dan muridiah untuk menghancurkannya dari dalam. Bukankah hal ini merupakan kebiasaan baru penampilan para haji Marxis itu. []

Sumber: Musthafa Mahmud

About Author

Categories