
Lebaran Bersama Kaum Muslimin Seluruh Dunia, Bisakah?
MUSTANIR.net – Lebaran tahun ini sama atau beda?
Kalimat ini sering muncul layaknya pandemi tahunan seiring selesainya bulan Ramadhan. Perbedaan lebaran seolah tidak bisa tidak terjadi di tengah-tengah kaum muslimin dan pada ujungnya menganggapnya sebagai persolan furu’iyah semata.
Mengawali puasa bulan Ramadhan dan mengawali Idul Fitri sebenarnya sangat sederhana jika kita melihat dalil-dalil yang datang dari Rasulullah.
صوموا لرأيته وافطروا لرأيته فان غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين
“Berpuasalah karena melihat hilal dan berharirayalah karena melihat hilal. Jika terhalang awan maka sempurnakan bulan menjadi 30 hari.”
Jadi, Ramadhan dan Syawal itu sebabnya karena rukyat hilal, jika mendung dan tidak terlihat hilal maka tinggal digenapkan 30 hari
Rukyat yang syar’i adalah rukyat global internasional. Artinya jika terlihat hilal di mana pun negara maka seluruh negara bisa menjadikan patokan untuk puasa dan lebaran.
Dengan rukyat global internasional ini, mengawali dan mengakhiri Ramadhan bersama sama seluruh dunia sehingga terasa syiar dan keagungan hari raya bukanlah hal yang mustahil diwujudkan.
Rukyat internasional ini membutuhkan kesatuan politik, tanpa persatuan politik maka yang ada hanya sentimen nasionalisme yang tidak ada dalilnya.
Akan tetapi sejak munculnya negara bangsa akibat semangat nasionalisme yang dihembuskan oleh penjajah Barat dalam perjanjian Sykes-Picot 1917 maka persoalan mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan menjadi rumit dan berbelit seolah tidak bisa terselesaikan.
Indonesia berbeda lebaran dengan Malaysia, atau Mesir beda dengan Palestina puasa padahal secara matla’ dekat tetapi karena berbeda nasionalisme maka berbeda hari raya atau puasanya.
Maka kesatuan politik ini mutlak sebagaimana masa Rasulullah dan Khilafah. Tanpa itu, kita ini sering gontok-gontokan masalah lebaran dan puasa hingga hari kiamat.
Saatnya kaum muslimin menyadari kondisi ini dan bergegas dan berupaya menghapus sekat-sekat nasionalisme ini karena semua itu tidak lebih garis imajiner buatan penjajah yang membuat kaum muslimin terus lemah dan tidak berdaya di hadapan musuh-musuhnya.
Wallahua’lam bi shawab. []
Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)
