Ketika Khilafah Runtuh, Umat Kehilangan Sesuatu yang Sangat Berharga

MUSTANIR.net – Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto memaparkan, ketika khilafah runtuh, umat kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu penjaga agama.

“Ketika khilafah ini runtuh, umat kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga yaitu penjaga dari agama ini,” paparnya dalam Fokus to the Point: 100 Tahun Tanpa Khilafah, di youtube.com/uiyofficial (20/2/2024).

Ini sebagaimana disebut oleh Imam al-Ghazali bahwa agama itu fondasi dan penguasa itu penjaga. Ketika penguasa ‘Islam’ tidak ada, maka penjaga agama tidak ada. Ketika penjaga agama tidak ada, agama bukan hilang sebagai sebuah risalah, tetapi hilang sebagai sebuah eksistensi.

“Sebab agama tidak lagi dipakai untuk mengatur kehidupan masyarakat dan negara,” jelasnya.

Ia melanjutkan, apa yang hilang ketika penjaga itu tidak ada? Yang hilang adalah peradaban. Bukan sembarang peradaban, tetapi peradaban yang agung, yang oleh para sejarawan disebut-sebut mewarnai dunia lebih dari 700 tahun (golden age).

Ketika peradaban agung ini hilang, yang rugi bukan hanya umat Islam, tetapi umat selain Islam, termasuk Yahudi,” tegasnya.

Dalam keterangannya ia menegaskan, jangan salah, orang Yahudi menikmati kebaikan itu bukan sekarang, ketika Zionis itu berdiri. Karen Amstrong mengatakan, the Jews enjoyed a golden age under Islam in Andalusia (orang-orang Yahudi itu menikmati abad keemasannya di Andalusia di bawah Islam).

“Orang Yahudi saja, kehilangan abad keemasan mereka, karena abad keemasan itu terwujud di bawah Islam,” imbuhnya.

Jadi ketika khilafah runtuh, ucapnya, penjaga hilang, abad keemasan hilang, manusia berada di peradaban yang rendah, peradaban yang sangat buruk, peradaban sampah (garbage civilization), seperti yang terjadi hari ini.

“Dunia penuh dengan eksploitasi, penjajahan, di bidang budaya terjadi proses dehumanisasi, kesenjangan kaya-miskin dan lain-lain, yang sebenarnya itu mengancam eksistensi kehidupan manusia, baik secara fisik maupun non fisik,” ucapnya sedih.

Menurutnya, yang paling menyedihkan sekarang ini adalah genosida yang terjadi di Palestina. Ini adalah dampak langsung, karena umat Islam tidak lagi ada yang menjaga dan melindungi. Akibatnya nyawa kaum muslimin demikian murah.

“Berbeda jauh dengan apa yang dialami umat Islam pada masa lampau. Ada seorang perempuan di Amuria yang diganggu oleh orang kafir. Dia berteriak, wahai Mu’tasim di mana engkau? Mendengar ini kemudian Khalifah Mu’tasim Billah mengirim 40.000 pasukan lengkap untuk melindungi perempuan tersebut,” tandasnya.

Hari ini cetusnya, tidak hanya satu perempuan yang dizalimi, tetapi ribuan, tidak hanya perempuan, tetapi anak-anak, bahkan bayi, orang tua, laki-laki dan semua.

“Padahal sejatinya nyawa atau jiwa seorang muslim itu sangat tinggi nilainya di hadapan Allah subḥānahu wa taʿālā. Tergambar apa yang dikatakan Rasulullah ﷺ hancurnya dunia atau dalam lafadz yang lain hancurnya Ka’bah itu lebih remeh di sisi Allah subḥānahu wa taʿālā ketimbang terbunuhnya seorang muslim,” pungkasnya. []

Sumber: Faizah

About Author

Categories