Ketika Nabi Isa AS Menerima Kabar Datangya Muhammad SAW

Ketika Nabi Isa AS Menerima Kabar Datangya Muhammad SAW

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَاءِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ {6} وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى اْلإِسْلاَمِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ {7} يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ {8} هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ {9} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ {10} تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرُُ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ {11} يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ {12} وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرُُ مِّنَ اللهِ وَفَتْحُُ قَرِيبُُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ {13} يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَاِرى إِلَى اللهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللهِ فَئَامَنَتْ طَّآئِفَةُُ مِّن بَنِي إِسْرَاءِيلَ وَكَفَرَتْ طَّآئِفَةُُ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ {14}

”Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata:”Hai bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:”Ini adalah sihir yang nyata”. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam Dan Allah tida memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya).Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?”. Pengikut-pengikut yang setia itu berkata:”Kamilah penolong penolong agama Allah!”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaff: 6-14)

Maka ‘Isa ‘alaihissalam adalah Nabi penutup bagi para Nabi dari Bani Israil, dan beliau pernah berdiri berkhutbah di hadapan mereka, lalu memberikan kabar gembira dengan seorang Nabi yang menjadi penutup (akhir) para Nabi yang akan datang setelah beliau‘alaihissalam. Beliau ‘alaihissalam menyebutkan nama dan sifatnya (ciri-ciri), agar mereka (Bani Israil) mengetahui dan mengikutinya, jika mereka menjumpainya, sebagai bentuk menegakkan hujjah kepada mereka dan kebaikan dari Allah kepada mereka. Sebagimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَاْلأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {157}

”(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raaf: 157)

Muhammad bin Ishaq rahimahullah mengisahkan dari beberapa orang Shahabatradhiyallahu ‘anhum, bahwasanya mereka berkata:


يا رسول الله اخبرنا عن نفسك. قال :دَعْوَةُ أَبِى إِبْرَاهِيمَ وَبُشْرَى عِيسَى وَرَأَتْ أُمِّى كأَنَّهُ خَرَجَ مِنْهَا نُورٌ أَضَاءَتْ لََهُ قُصُور بُصْرَى مِنْ أَرْضِ الشَّامِ

“Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami tentang dirimu.” Beliau menjawab :“Do’a bapakku, Ibrahim, kabar gembira dari Nabi ‘Isa, dan ibuku pernah bermimpi seolah-olah keluar darinya cahaya yang menerangi istana-istana Bushra di negeri Syam (Syam adalah kawasan yang mencakup Suriah, Palestina, Yordan, dan Libanon).”(Hadits Hasan, diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dalam as-Sirah, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan yang lainnya. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah)

Hal itu karena ketika Ibrahim ‘alaihissalam membangun Ka’bah beliau berdo’a:


رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ …{129{

”Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka….” (QS. Al-Baqarah: 129)

Dan ketika kenabian di Bani Israil berakhir pada Nabi ‘Isa ‘alaihissalam, maka beliau berpidato di tengah-tengah mereka, lalu mengabarkan kepada mereka bahwasanya kenabian telah terputus dari mereka, dan bahwasanya setelah beliau (‘Isa) kenabian akan ada pada seorang Nabi yang umi (tidak bisa membaca dan menulis) yang berbangsa Arab, ia adalah penutup para Nabi, namanya Ahmad, yaitu Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdil Muththalib bin Hasyim, yang beliau adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim Khalilullah (kekasih Allah) ‘alaihimussalam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


… فَلَمَّا جَآءَهُم بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُّبِينٌ {6}

”… Maka tatkala dia (Rasul itu) datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata:”Ini adalah sihir yang nyata.” (QS. Ash-Shaff: 6)

Dhamir (kata ganti orang, dia) dalam ayat itu bisa jadi kembali ke ‘Isa ‘alaihissalamatau bisa juga kembali ke Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memotivasi hamba-hamba-Nya yang beriman untuk membela Islam dan para pemeluknya, dan membela dan mendukung Nabi-Nya serta membantunya menegakkan Agama dan menyebarkan dakwah. Maka DiaSubhanahu wa Ta’ala berfirman:


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنصَاِرى إِلَى اللهِ … {14}

”Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putera Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah? …..” (QS. Ash-Shaff: 14)

Maksudnya, siapakah yang akan membantuku dalam berdakwah di jalan Allah?


… قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللهِ … {14}

”….Kaum Hawari itu (para pengikut setia Nabi ‘Isa) berkata:”Kamilah penolong penolong agama Allah!….” (QS. Ash-Shaff: 14)

Dan hal itu terjadi di sebuah desa yang bernama Nashirah, sehingga mereka dinamakan Nashara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


… فَئَامَنَتْ طَّآئِفَةُُ مِّن بَنِي إِسْرَاءِيلَ وَكَفَرَتْ طَّآئِفَةُُ …{14}

”…Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; ….” (QS. Ash-Shaff: 14)

Maksudnya, ketika Nabi ‘Isa ‘alaihissalam menyeru (mengajak) Bani Israil dan selain mereka ke jalan Allah, di antara mereka ada orang-orang yang beriman, di antara mereka ada yang kafir. Dan di antara yang beriman kepada beliau (‘Isa ‘alaihissalam) adalah penduduk Anthakiya (sebuah kota peradaban yang dahulu terletak di negara Turki) secara keseluruhan, menurut yang disebutkan oleh beberapa Ahli sejarah, dan Ahli tafsir.

Beliau (‘Isa ‘alaihissalam) mengutus kepada mereka (penduduk Anthakiya) tiga orang utusan, salah satunya adalah Syam’un ash-Shafa, lalu mereka pun beriman dan menerima dakwahnya. Dan mereka itu bukanlah orang-orang yang disebutkan dalam surat Yaasiin, sebagaimana yang telah kami tetapkan dalam kisah Ashabul Qaryah. Dan sebagian yang lain dari kalangan Bani Israil tidak beriman (kafir), dan mereka adalah mayoritas orang-orang Yahudi. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menguatkan (mendukung) orang-orang yang beriman atas orang-orang kafir pada masa setelahnya, sehingga mereka (orang-orang yang beriman) menjadi golongan yang unggul dan berkuasa atas orang-orang kafir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:


إِذْ قَالَ اللهُ يَاعِيسَى إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ … {55}

” (Ingatlah), ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. ….” (QS. Ali ’Imraan: 55)

Maka siapa saja yang paling dekat dengan-Nya (denga Allah), maka ia akan unggul dan menang dari orang yang jauh dari-Nya. Dan dikarenakan perkataan kaum Muslimin tentang beliau ‘Isa ‘alaihissalam adalah yang benar yang tidak ada keraguan sedikitpun, bahwasanya beliau (‘Isa) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, maka mereka unggul (menang) di atas orang-orang yang Nashara (kristen), yang mereka bersikap ekstrem terhadapnya, berlebihan dan memposisikannya di atas posisi yang telah Allah berikan kepadanya (yaitu posisi seorang hamba dan Rasul). Dan dikarenakan orang Nashara secara umum lebih dekat (dengan kebenaran) dibandingkan dengan orang Yahudi –semoga laknat Allah atas mereka- dalam masalah ‘Isa ‘alaihissalam, maka kaum Nashara bisa berkuasa di atas orang-orang Yahudi pada zaman-zaman Fatrah(zaman kekosongan Rasul), sampai datangnya zaman Islam dan pemeluknya. Wallahu A’lam.

(SUMBER: Kisah Shahih Para Nabi. Pustaka Imam Syafi’i hal 587-593 dengan sedikit perubahan dari Qashahul Anbiya’ karya Ibnu Katsir rahimahullah, cetakan Dar Ibnul Jauzi. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

Categories