MUSTANIR.net – Modernitas yang kita kenal ini tidak bebas nilai. Modernitas lahir dan berkembang dominan seperti sekarang karena asas rasionalitas. Apa-apa yang efisien, objektif, dan empiris, maka itulah yang jadi rule of the game dari modernitas.

Mesin yang memacu modernitas ada di semua dimensi kehidupan manusia: ekonomi harus efisien, politik harus one man one vote, teknologi harus terus berinovasi, masyarakat harus bebas berkehendak, lingkungan harus mendukung kemajuan manusia.

Ulrich Beck memandang modernitas demikian akhirnya melahirkan banyak kerusakan di semua dimensi manusia di atas yang disebutnya sebagai “masyarakat risiko”: lingkungan rusak, nuklir untuk perang, kesehatan terganggu karena kecanggihan teknologi makanan-minuman, dll.

Modernitas yang asasnya rasional ini semangatnya adalah sekularisasi multi-dimensi, Bisa juga dikatakan bahwa modernitas ini karena serba rasional maka otomatis dia nir-etik, nir-moral.

Agama bukan hal yang rasional. Dikatakan sebagai candu, tempat pelarian dari ganasnya kapitalisme. Bukan untuk melakukan perlawanan.

Kota adalah representasi modernitas yang serba rasional di atas. Dampaknya, kaum urban banyak yang terserap dalam arus modernitas yang serba rasional: bisnis yang penting cuan, fashion yang penting laris, gaya hidup yang hedonistik-konsumeristik. Terkait agama, kajian-kajian perkotaan dominannya membahas ranah privat (ibadah dan urusan diri sendiri).

Ruang pertama (rumah), ruang ke dua (kantor), ruang ke tiga (leisure), dan ruang ke empat (dunia maya) jadi multi-ruang untuk memaksimalkan pemuasan diri sendiri.

Pengemban dakwah punya misi untuk melakukan de-sekularisasi: menyatukan agama dengan semua kehidupan umum. Islam adalah antitesis dari modernitas. Bukan kita malah membagi-bagi Islam dengan istilah “Islam modernis”, “Islam tradisional”, dan lainnya.

De-sekularisasi ini adalah misi politik. Politik dalam Islam adalah “ri’ayatu syuuni al ummat bi al-Islam”. Melakukan apresiasi atas ketertarikan orang belajar Islam, sekaligus juga mengajak orang untuk meletakkan Islam sebagai “baju baru” menggantikan “baju lama” yaitu modernitas.

Politik secara etimologis berangkat dari tradisi Yunani di mana “polis” adalah kota dan “politeia” adalah masyarakat/citizen. Maka, politik tidak lepas dari fenomena urban itu sendiri dan sudah semestinya misi de-sekularisasi ini mendapatkan ruang yang tepat untuk menggarap masyarakat kota.

Pengemban dakwah mesti berpikir secara politik untuk tujuan de-sekularisasi di atas. Ingat, politik yang kita yakini juga jangan termakan oleh definisi modern “who gets what, when, and how” tapi politik bagi kita adalah “how to organize people’s matters by Islamic way of thinking and ruling”.

Last but not least, melawan modernitas urban butuh gerakan politik, tidak individual. []

Sumber: Hanafi Rais

About Author

Categories