LGBT dalam Tatanan Dunia Baru

MUSTANIR.net – Maraknya fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) akhir-akhir ini membelalakkan mata berbagai pihak. Berbagai diskusi di media sosial maupun di ruang publik umum digelar.

Intinya satu, kaum LGBT meminta legalisasi hukum atas keberadaan mereka di Indonesia. Banyak yang kontra, namun yang pro juga tidak sedikit. Meski jelas, ini bertentangan dengan naluri manusia.

Berbicara LGBT dalam perspektif semua agama jelas tidak diterima. Dalam Islam ijma’ ulama mengharamkan, hanya para ulama berbeda pendapat dalam mengklasifikasikan hukumannya ke dalam hadd atau ta’zir.

Namun, bukan itu persoalannya, karena perilaku menyimpang ini sudah ada semenjak zaman Nabi Luth. Tapi siapa yang memunculkannya keruang publik itulah yang seharusnya menjadi fokus. Ibarat kita panik dengan kotornya air kamar mandi kita, fokus kita bukan pada krannya, tapi sumber airnyalah yang harus dicek.

Pertanyaannya, mungkinkah kaum yang mempunyai orientasi seks menyimpang ini secara kebetulan memiliki fikiran yang sama untuk berkumpul membentuk sebuah lembaga yang menuntut legalisasi hukum negara tanpa adanya fasilitator media dan dana? Tentu akan aneh jika ada yang menjawab “ya”.

Pasti di balik itu ada invisible hand yang mengendalikannya secara sistemik. Siapakah mereka? Itu yang harus diungkap ke ruang publik sebagai bentuk kontra narasi dari opini yang sedang mereka bangun.

Sayangnya sebagian besar media massa justru terkesan membesar-besarkan LGBT-nya. Mereka yang menolak habis-habisan, mengeluarkan beribu argumentasi, untuk menyerang balik logika yang dipakai kaum LGBT.

Ini bukan tidak perlu, hanya saja hal yang semacam ini bukan menjadi fokus dalam menyelesaikan masalah. Dan hanya berfungsi membangun opini di awal saja. Pepatah Cina mengatakan “Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik ambil lilin dan nyalakan”. Maknanya fokus kita bukan pada permasalahan yang ada. Tapi pada solusinya.

Gerakan LGBT yang ada saat ini bukan muncul by accident tapi by design, di belakang mereka ada gerakan kuat super rahasia yang menjadi dalang bagi kemunculan LGBT ke ruang publik. Gerakan ini memiliki sejarah panjang, serta merupakan implementasi dari sebuah konspirasi global dunia. Mereka adalah kelompok Illuminati.

Illuminati adalah organisasi rahasia Yahudi yang bergerak di “bawah tanah”, menjalankan segenap agenda Zionisme yang didasarkan pada ajaran Kabbalah, secara terbuka, maupun klandestin (rahasia).

Organisasi ini terbentuk berdasarkan ajaran Kabbalah yang telah ada sekitar 4.000 tahun yang lalu. Pendirinya adalah Adam Weishaupt (1748-1830), ia adalah utopis pertama yang memimpikan Tatanan Dunia Baru (Novus Ordo Seclorum) atau yang kita kenal dengan The New World Order. Dialah sebenarnya peletak dasar ideologi The New World Order.

Kemudian pada tanggal 1 Mei 1776 didirikan Illuminati zaman pencerahan sebagai kelanjutan dari Illuminati sebelumnya. Mereka terinspirasi dari karya fiksi ilmiah berjudul ‘The Illuminatus! Triology’ karya Robert Shea dan Robert Anton Wilson tahun 1775. Sama dengan Illuminati sebelumnya, Illuminati zaman pencerahan ini juga menginginkan tatanan baru dalam dunia (The New World Order).

Dalam kongres Zionis Internasional I yang berlangsung pada tanggal 29-31 Agustus 1897 di Basel Switzerland mengesahkan dokumen rahasia ‘The Protocols’. Sebagai acuan utama Zionis seluruh dunia. Perlu diketahui, sebenarnya protokol ini dulunya adalah buah karya Adam Weishaupt yang dikirimkan melalui seorang kurir yang mati disambar petir di Bavaria. Saat diperiksa oleh polisi, di lipatan bajunya terdapat pesan bersandi yang dijahit berisi ‘The Protocols of the Elders of Zion‘ (Protokol dari Para Pinisepuh Zion).

Dokumen ini memuat sebuah agenda besar dengan tujuan utama untuk penguasaan dunia oleh kaum Zionis. Inilah yang menjadikan acuan dasar Zionisme di seluruh dunia.

Adapun istilah The New World Order sendiri adalah ungkapan bahasa Inggris, sama seperti kita mengatakan “Tatanan Dunia Baru” dalam bahasa Indonesia. Asalnya dari bahasa Latin Novus Ordo Seclorum. Ordo adalah sebuah wadah ikatan persaudaraan Yahudi yang ada sejak zaman Kabbalah kuno. Slogan mereka adalah Novus Ordo Seclorum (Tatanan Dunia Baru) dan E Pluribus Unum (Pemerintahan Satu Dunia).

Dalam sejarahnya Ordo ini kemudian terpecah menjadi tiga, Ordo Hijau, Ordo Kuning, dan Ordo Putih. Namun yang tersisa saat ini adalah Ordo Putih, eksistensinya diduga karena gerakannya yang super rahasia. Ordo ini di samping mengembangkan ajaran Kabbalah juga merumuskan misi Kabbalah untuk menentukan jalannya peradaban umat manusia dengan membentuk pemerintahan satu dunia (E Pluribus Unum) di bawah kepemimpinan kaum Yahudi.

Tentang misi The New World Order, seorang penulis senior Barat, Ralph Epperson, dalam sebuah tulisannya yang juga berjudul ‘The New Word Order’ mengatakan:

“Tatanan Dunia Baru akan memasukkan perubahan pada:

Keluarga: Perkawinan sesama jenis/homoseksual akan dilegalkan, negara akan melarang orang tua untuk tidak memelihara/membesarkan anak-anak mereka [menghambat pertumbuhan manusia di muka bumi]. Semua wanita akan diperbudak oleh negara dan tidak diperbolehkan untuk berkeluarga. Perceraian akan menjadi sangat mudah ditemui [merebak] dan menikah antara laki dan perempuan sedikit demi sedikit akan dihapus secara bertahap;

Tempat kerja: Pemerintah akan menjadi pemilik semua pabrik produksi dan pemilik rahasia properti akan dilindungi;

Agama: Agama akan tidak diakui/dilegalkan dan penganutnya akan disingkirkan/dibunuh atau di penjarakan. Dan akan nada sebuah agama baru yang menjadi kepercayaan manusia”

(Ralph Epperson, The New World Order, (tt, tp), hal. 18)

Maksud agama baru di sini, justru bukan sebuah agama layaknya Islam, Kristen, Hindu atau Budha. Tapi mereka akan merusak agama dan menjadikan masyarakat dunia bebas dari keterikatan pada semua agama. Dan hidup bebas tanpa tata dan nilai.

Dengan sistem demokrasi, liberalisme, sekularisme dan pluralisme, mereka berhasil menghantarkan semua agama pada jurang kehancuran. Kelompok ini juga menguasai hampir seluruh sektor kehidupan manusia, sektor pemerintahannya, ekonomi perbankan, sosial, politik, kesehatan, keamanan, dan lainnya. Sehingga dari sinilah dapat mengerti dengan jelas apa dan siapa yang LGBT itu sebenarnya.

Apa yang harus kita lakukan sebagai umat Islam? Sebuah pertanyaan wajar bagi yang masih peduli dengan masa depan. Di atas sudah kita singgung bahwa kita tidak harus melulu fokus pada sebuah persoalan, tapi kita mencoba fokus pada solusinya.

Melawan tatanan dunia baru bukan berbicara bagaimana melawan mereka dengan senjata, juga bukan untuk berebut kekuasaan dengan mereka tapi bagaimana menyadarkan diri kita dan orang di seluruh dunia agar berada dalam koridor al-Qur’an dan as-sunnah, dan menyingkap siapa musuh dan jebakannya. Yang menjadi ancaman adalah rusaknya aqidah dan taruhannya adalah tempat kembali kita apakah surga atau neraka.

Meskipun hampir seluruh sektor kehidupan saat ini di bawah kendali Yahudi, cara solusi satu-satunya untuk membalik serangan ini adalah dengan Islam itu sendiri. Kita harus berpikir bagaimana caranya agar kaum muslimin kembali kepada aqidah yang benar. Sehingga umat Islam benar-benar menjadi muslim yang ideologis, itulah satu-satunya cara. Jika umat Islam kuat dalam hal ini, tidak akan pernah dikuasai dan dikalahkan oleh siapapun.

Organisasi yang mengusung The New Wold Order bergerak dalam sebuah sistem yang teroganisir rapi. Maka, melawannya juga harus dengan sebuah sistem yang terorganisir pula. Kebenaran yang tidak terorgnisir akan dikalahkan dengan kebathilan yang terorganisir, begitu kata sahabat Alī bin Abī Ṭālib.

Melihat kenyataan ini maka bisa kita simpulkan, hanya sistem khilāfah ‘ala minhaj an-nubuwah yang bisa menjawab tantangan ini. Tapi hal ini tidak akan pernah terwujud jika aqidah umat Islam masih amburadul sehingga seruan untuk menegakkan khilāfah kalah dengan suara sumbang agen-agen Zionis yang menebar syubhat di setiap sudut negeri Islam.

Wallahu a’lam bishawab. []

Sumber: Ashab el-Yamin

About Author

Categories