(FB: Nun Alif)

Logika Seniwen Kaum Liberal

MUSTANIR.net – Dalam doktrin kaum liberal-demokrasi-sekuler yang memuja kebebasan dan syahwat hawa nafsu serta materi: bahwasanya lukisan bugil, gambar bugil dan foto bugil seperti lukisan/gambar/foto wanita telanjang merupakan sebuah karya seni dan sebuah kemajuan.

Jadi, sangat wajar bila mereka memiliki pandangan dan pemahaman serta logika liberal-sekuler memandang foto bugil wanita adalah karya seni, seperti foto bugil/telanjang si artis Tara Basro yang sering umbar aurat itu adalah seni, karena itu harus didukung dan dibela serta diapresiasi.

Sebagaimana kata Menkominfo yang membela si artis Tara Baso tersebut. Menkominfo Johnny G Plate menegaskan foto yang diunggah Tara Basro di media sosial tidak melanggar UU ITE. Johnny menyebut foto tersebut merupakan bagian dari seni karena sebagai bentuk menghormati terhadap tubuh sendiri.

Bahkan politisi PSI pun seperti Tsamara Amany pun sangat mendukung dan membela foto bugil Tara Basro tersebut, sebagaimana dalam cuitnya di Twitter: “Tara Basro mengajak publik untuk keluar dari konstruksi sosial tentang kesempurnaan dan kecantikan yang berkutat pada kulit putih & badan kurus. Ia sedang menebarkan energi positif. Masa’ mengedukasi & menebarkan energi positif juga harus kena sensor pornografi?” tulis Tsamara di akun Twitter-nya @TsamaraDKI.

Begitupula dengan politisi PSI si Guntur Romli pun sangat mendukung dan membela foto bugil Tara Basro tersebut.

Lukisan/gambar/foto bugil seperti foto bugil/telanjang artis Tara Basro dan mendukung serta membela dan mengapresiasi foto bugil Tara Basro tersebut, itu mah namanya Seniwen alias gendeng alias sudah hilang akalnya dan sudah putus urat malunya.

Sungguh aneh bin ajaib dan kebolak-balik di negara demokrasi ini, atas nama seni, foto telanjang dibiarkan, bahkan ada yang mendukung dan membelanya dan dianggap sebagai sebuah karya seni. Sebaliknya hijab, cadar dan celana cingkrang disebut radikal dan ekstrimis serta dianggap ciri-ciri teroris, bahkan terkadang dicap pula intoleran, anti Pancasila dan anti NKRI. Begitulah logika Seniwen dari kaum liberal tersebut.

Dalam negara demokrasi yang memuja kebebasan atau liberalisme dan sekulerisme, agama hanya dijadikan aksesoris KTP belaka dan hanya ditempatkan di rumah ibadah belaka. Namun, agama tidak dipakai dalam perkara makanan, minuman, pakaian dan akhlaq serta dalam kehidupan mu’amalah baik dalam politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, hukum, peradilan, persanksian, pertahanan dan keamanan.

Maka, sangat wajar kerusakan moral dan kebejatan moral akan dianggap sebagai sebuah kemajuan dan karya seni seperti foto telanjang si artis Tara Basro tersebut. Sementara ketaataan dalam beragama dan keshalihan seperti berbusana taqwa Muslim menutup aurat yang syar’i misal untuk wanita berupa hijab dan cadar, serta untuk laki-laki seperti celana cingkrang, justru menjadi objek bully-an dan cacimakian serta fitnahan.

Begitulah wajah asli demokrasi-liberalisme-sekulerisme yang sangat buruk rupa hingga menyebabkan pemuja dan penikmatnya makin democrazy dan makin dungukrasi hingga laksana mayat hidup yang menyebarkan virus-virus liberal-sekuler yang merusak akal, iman, hati nurani dan kehidupan umat manusia. Masihkah percaya demokrasi? Mikir, bro!

Wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

Categories