Lovejek Adalah Layanan Ojek Yang Melenceng Dari Syariah

lovejek

Lovejek Adalah Layanan Ojek Yang Melenceng Dari Syariah

Mustanir.com – PT Love Moto Taxi Indonesia (Lomotaxi) meluncurkan layanan LoveJek. Founder sekaligus CEO LoveJek, Nabilla Mardim, mengatakan, LoveJek menawarkan jasa transportasi dengan sepeda motor. Namun, para pengemudi LoveJek akan memiliki beberapa layanan lain, salah satunya adalah jasa teman curhat.

Bahkan, ojek premium dengan kode warna pink ini juga menawarkan jasa pendamping temporer bagi para klien yang membutuhkan teman untuk curhat, jalan-jalan, berbelanja, makan-makan, ataupun pergi ke acara lainnya.

“Jadi, untuk para klien yang kebetulan sedang jomblo atau belum punya pendamping, bisa menggunakan jasa driver LoveJek untuk teman jalan-jalan ke mal, shopping, ke tempat rekreasi, atau candlelight dinner. Kami sangat merekomendasikan layanan kami ini untuk ke acara-acara yang membutuhkan pendamping seperti acara reuni, kawinan, wisuda, temu keluarga, dan lainnya. Untuk ke depan, kami menyiapkan paket pendamping eksklusif harian, sudah termasuk dengan bunga, foto selfie bersama, dan candlelight dinner. Ini berlaku baik untuk klien berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan,” jelas Nabilla lebih jauh.

Untuk menjamin kualitas dari layanan LoveJek, Lomotaxi hanya menerima driver yang memiliki paras wajah dan tubuh menarik, sarjana atau kuliah, IPK minimal 3,0. Diprioritaskan lulusan psikologi atau konseling.

“Para driver kami orangnya tampan-tampan dan cantik-cantik, ditambah lagi mereka anak kuliahan atau sarjana. Jadi, klien tidak perlu khawatir atau gugup saat mengajak mereka bertemu teman dan keluarga. Kami akan bekali para personel kami dengan pendidikan lanjutan untuk menjadi teman curhat dan pendamping yang baik. Latar belakang pendidikan psikologi atau konseling akan menjadi nilai plus karena mereka akan lebih siap menghadapi curhatan klien,” ujarnya.

“Kami memanggil semua mahasiswa dan sarjana untuk bergabung dan menikmati keuntungan menjadi LoveJek Driver. Daripada sulit mencari kerja di masa perekonomian seperti ini, lebih baik bergabung dengan kami. Ada kemungkinan bisa mendapat jodoh sebagai bonusnya,” imbuhnya. (Merdeka.com, 21/12/2015)

Komentar Ustadz Pediyanto (pemerhati liberalisme)

Layanan ojek berbasis aplikasi LoveJek sudah melenceng jauh dari paradigma transportasi yang aman dan nyaman. Bahkan ini hanya modus yang menyuburkan hubungan seksual, bukan layanan transportasi.

Alasannya:

1. Menyediakan “pasangan sewaan”, yang bisa diajak curhat, shopping, hingga candlelight dinner. Jelas ini memicu hubungan singkat yang bersifat intim. Khalwat, laki-laki dan perempuan yang bukan mahrom, itu udah pasti. Bahkan memicu lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) untuk mencari pasangan. Ya, para LGBT jomblo akan mudah mencari teman kencan, yang penting bayar. Ya, kan?

2. Kemaksiatan bukan hanya dari niat, juga kesempatan. Dengan dibukanya “kencan dengan tukang ojek” sama artinya membuka lebar-lebar kesempatan untuk berbuat maksiat. Siapa yang menjamin setelah curhat tidak terjadi apa-apa? Apalagi kalau sudah dibungkus dengan perasaan suka sama suka.

3. Eksploitasi manusia. Tukang ojeknya dipilih yang tampan-tampan dan cantik-cantik. Ini mau nyupir kendaraan atau jadi foto model? Ini mau kerja nyari duit atau mengeksploitasi tubuh? Ini mau jadi tukang ojek apa tukang pelet?

4. LoveJek Driver direkrut dari anak kuliahan, atau sarjana dengan IPK minimal 3,0. Lulusan psikolog atau konseling diutamakan. Kira-kira ada yang mau melamarkah? Kalau ada, kasihan sekali. Padahal mereka bisa mengaplikasikan ilmunya dengan lebih terhormat dan bermartabat. Apakah tukang ojek tidak terhormat? Jika “hanya” melayani curhat, diajak shopping, nemenin kondangan, atau jadi pendamping acara wisudaan orang yang sama sekali nggak dikenal sebelumnya; apakah ini bisa dibilang profesi bermartabat? Masih mending tukang ojek beneran, yang kerjaannya jelas: mengantarkan penumpang ke tempat tujuan dengan aman, nyaman dan selamat.

Jadi, tampaknya tidak berlebihan jika LoveJek lebih tepat disebut layanan Sex-Jek. Sebab, hanya membuka peluang munculnya hubungan intim, bahkan bisa mengarah ke seksual. Ya, siapa menjamin.

So, menurut saya, layanan ini layak dan bahkan wajib ditolak. Nah, kalo kamu, ya, kamu, merasa masih kurang alasan untuk menolak LoveJek, silakan tambahkan…

Categories