
Ramadhan Mager Kami
MUSTANIR.net – Ramadhan dirayakan oleh kaum muslimin dengan berbagai tema. Ada yang fokus dengan Ramadhan bulan al-Qur’an, bulan kedermawanan (saatnya berinfaq, dan berwakaf), bulan pengampunan, ada juga yang fokus mengajak i’tikaf yang mereka sebut sebagai ibadah yang belum mendapat pehatian kaum muslimin, dan masih ada tema-tema lain.
Menurut saya semuanya baik, semuanya benar dan semuanya keren. Tapi kita coba ajak melihat satu sudut yang barangkali tidak populer, tidak banyak yang menyorot angle ini. Kalau saya sebut Ramadhan bulan perubahan. Monggo coba ikuti.
Salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Nabi adalah perang Badar. Di dalam al-Qur’an (al-Anfaal: 41) disebut sebagai yaumal furqan. Bahkan menjelang perang ini Rasulullah berdoa sangat dalam dengan redaksi penuh harap dan penuh kekhawatiran; “Ya Allah penuhilah apa yang Engkau janjikan padaku, ya Allah jika Engkau binasakan kelompok ini maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi ini.”
Sungguh ini seperti puncak pertarungan haq dan batil. Meski secara fisik perang ini adalah kecil dibanding perang-perang setelahnya. Tapi tetap disebut Badar kubro karena pentingnya dan besarnya pengaruh bagi keberhasilan dakwah Nabi. Dan berubahnya konstelasi politik jazirah Arab.
Dan satu hal yang mesti kita catat, peperangan Badar kubro ini terjadi di bulan Ramadhan. Tentu bukan sebuah kebetulan, tapi Allah telah tentukan dengan maksud tertentu.
Dan andai tidak ada peristiwa monumental lain yang terjadi di Ramadhan, maka satu peristiwa ini saja sudah cukup untuk menyebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan perjuangan, kemenangan dan perubahan.
Tapi Allah tunjukkan beberapa hal lagi. Masih peristiwa yang terjadi pada masa hidup Rasulullah ﷺ yaitu fathu Makkah, peristiwa ini adalah titik balik kemenangan Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin atas kafir Qurays yang telah mengingkari dan juga mengusir beliau.
Kini Makkah benar-benar takluk dan Rasulullah ﷺ menang telak, bahkan tanpa ada peperangan. Abu Sufyan berkata pada istrinya; “Hadza huwa annashr.” (Inilah kemenangan) Itu adalah kalimat kekalahannya ketika melihat pasukan Rasulullah ﷺ masuk Makkah dan tak ada yang bisa dilakukan penduduk Makkah kecuali berrsembunyi dan memohon pengampunan.
Peristiwa ini terjadi sekitar 19 atau 20 Ramadhan, sementara baginda Rasulullah berangkat dari Madinah tanggal 10 Ramadhan. Lagi-lagi beliau melakukan perubahan besar di bulan Ramadhan.
Pada masa setelah itu, dalam masa perang Salib yang panjang dan melelahkan, kaum muslimin juga harus sibuk melawan Mongolia yang terus melakukan perluasan dan mereka terkenal dengan keahlian perang dan kebengisannya. Hampir semua negeri yang mereka lewati dibantai habis.
Sampai akhirnya mereka mencapai Mesir yang waktu itu dipimpin Sultan Saifuddin Qutuz, pemimpin Mamluk. Sebagian besar kaum muslimin sudah kecut hati mendengar kebengisan tentara sipit dan pendek ini, tapi kemampuan tempurnya luar biasa, dan mereka suka membantai tanpa ampun.
Bahkan Sultan Qutuz sudah disarankan oleh banyak orang untuk menyerah saja. Tapi beliau bertahan. Salah satu penasihat sultan waktu itu adalah seorang ulama al-Izzu bin Abdissalam. Keputusannya adalah; “Kita lawan.” Dan terjadilah peperangan epik nan monumental di Ain Jalut yang bertepatan 25 Ramadhan 658, atau September 1260.
Dan hasilnya pasukan Mamluk menang. Akibatnya kehebatan dan popularitas Mongolia dan pasukannya itu runtuh. Kaum muslimin seantero dunia Islam tak lagi takut dengan Mongolia. Sungguh Ini perubahan besar. Catat tanggalnya, 25 Ramadhan. Ini asyrul awakhir.
Tentu masih ada peristiwa lain, seperti penaklukan Andalusia oleh Thariq bin Ziyad, juga terjadi di Ramadhan.
Semua ini memberi pesan pada kita bahwa Ramadhan bukanlah bulan mager, tapi bulan melakukan perubahan-perubahan besar dalam capaian dakwah kaum muslimin.
Ketika sekarang ini kaum muslimin masih hidup di dalam cengkeraman peradaban kapitalisme, maka hal terpenting yang seharusnya dicapai kaum muslimin di Ramadhan adalah menciptakan momentum perubahan sebagaimana Rasulullah contohkan setidaknya dalam dua peristiwa itu.
Sayangnya umat Islam masih lupa dengan agenda besarnya, malah bernikmat di selimut hangat kapitalisme sembari menikmati indahnya ibadah atau larut dalam i’tikafnya berharu-haru, dan membiarkan kekuatan besar peradaban besar ghairu Islam ini mencengkeram mereka dengan kuat.
Seharusnya malu kita.
Ya Rasulullah, kami ternyata sebegitu magernya, dengan beralasan menyempurnakan Ramadhan. Padahal engkau sempurnakan Ramadhanmu dengan penaklukan dan perang. Kami?
Wallahua’lam. []
Sumber: Subhan Ahmadi Abu Haitsam
