Mahasiswa Baru Dijejali Moderasi Beragama

MUSTANIR.net – Beberapa kampus Islam menyambut mahasiswa baru dengan agenda wawasan kebangsaan dan moderasi beragama.

Sebagaimana, Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin (UIN STS) Jambi telah menggelar Dialog Keumatan, Senin (11-8-2025). Kegiatan ini dijadikan langkah strategis memperkuat nilai moderasi beragama dan nasionalisme di lingkungan sivitas akademika dan masyarakat Jambi.

Selanjutnya, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah Simposium Moderasi Beragama bertajuk Harmony in Diversity, Senin (25-8-2025), yang menghadirkan tokoh nasional seperti Yenny Wahid, Ketua PP Muhammadiyah K.H. Saad Ibrahim, Direktur Eksekutif Maarif Institute Andar Nubowo, serta pimpinan Muhammadiyah dan Kementerian Agama se-Malang Raya.

Fakta serupa, juga terlihat di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau, yakni moderasi beragama menjadi materi utama Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) dengan tujuan menanamkan toleransi dan harmoni sejak awal perkuliahan.

Tidak hanya di STAIN, di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, ribuan mahasiswa menyambut antusias tema tersebut yang disebut sebagai fondasi pemahaman agama yang selaras dengan spirit kebangsaan.

Ideologisasi Terselubung

Aktivis muslimah dan pengamat pergerakan kampus Azizah Retnowati, S.PWK., mengatakan, mahasiswa baru dijejali agenda PBAK yang sarat materi tentang demokrasi, pluralisme, dan tafsir kontemporer.

“Agenda semacam ini menunjukkan ideologisasi terselubung, kampus kian diarahkan sebagai instrumen agenda sekularisasi. Wawasan kebangsaan yang mereka maksud bukanlah netral, tetapi sarat dengan upaya menanamkan loyalitas pada sistem demokrasi sekuler. Sementara jargon moderasi beragama kerap digunakan untuk membatasi ruang Islam kafah agar tidak tumbuh di kalangan mahasiswa,” tegasnya kepada M News, Ahad (7-9-2025).

Menurutnya, arah ini berbahaya karena generasi muda dicetak untuk menerima demokrasi sebagai satu-satunya pilihan politik, padahal realitas menunjukkan sistem inilah yang justru melahirkan korupsi, kesenjangan, dan ketidakadilan.

“Alih-alih membina mahasiswa dengan tsaqafah Islam dan keimanan kokoh, mereka justru dijejali konsep moderasi yang membingungkan. Padahal Islam tidak mengenal moderasi dalam arti kompromi dengan sekularisme. Wasathiyah yang sebenarnya adalah istikamah pada hukum Allah tanpa condong ke kiri atau kanan,” jelasnya.

Ia menilai, jika kampus terus diarahkan menjadi corong demokrasi dan moderasi ala Barat, maka lahirlah generasi yang tercerabut dari identitas Islam.

“Mahasiswa akan fasih berbicara pluralisme, tetapi tumpul membaca realitas ketidakadilan kapitalisme. Mereka lancar mengulang jargon demokrasi, tetapi alergi pada solusi Islam. Ini jelas bentuk penjinakan intelektual,” paparnya.

Kampus, paparnya, seharusnya menjadi episentrum lahirnya pemikir kritis yang berani menggugat sistem rusak, bukan menjadi pabrik pengulang narasi status quo.

“Kebangkitan intelektual sejati hanya ketika kampus berani kembali pada Islam kafah, sertamenanamkan tsaqafah Islam dan visi politik Islam pada mahasiswa. Dengan begitu, kampus tidak sekadar melahirkan lulusan yang manut (taat) sistem, tetapi generasi pejuang yang siap membebaskan umat dari penjajahan kapitalisme,” pungkasnya. []

Sumber: M News

About Author

Categories