Perang Ideologi di Era Digital

MUSTANIR.net – Edward Said lewat bukunya ‘Orientalism’ menyebut bagaimana Barat membangun citra tentang Timur: eksotik (aneh), emosional, irasional, dan inferior. Gambaran Barat itu tentu tidak netral, melainkan memiliki nilai percaturan ideologi.

Di era digital, praktik serupa menemukan arena baru. Media sosial, mesin pencari, sampai kecerdasan buatan menjadi ladang subur penyebaran stereotip.

Kalau dulu teks akademik, buku, atau karya sastra dipakai sebagai alat representatif, kini perannya juga dimainkan oleh meme, video TikTok, filter Instagram, hingga output AI. Efeknya bisa lebih cepat, lebih luas, dan secara psikologis lebih merasuk.

Menurut J Subinarto, penulis buku ‘Mengasah Otak Kecil’, inilah wajah baru perang ideologi: konten viral sering lebih dipercaya ketimbang penelitian/penulisan ilmiah. Narasi bias selain membentuk opini publik, tampak juga bisa menggiring arah kebijakan. Visual yang tampak ringan ternyata bekerja sebagai propaganda yang halus.

Stereotip (kebencian) lama tetap hidup di jagat digital: perempuan Timur digambarkan lembut dan pasrah, laki-laki Arab keras, orang Asia patuh dan pekerja keras. AI pun terlihat ikut mewarisi bias itu: ketika diminta menampilkan “pemimpin kuat” yang muncul kebanyakan berwajah Eropa. “tampilkan wanita cantik” maka mayoritas berciri Eropa. Ketik “terrorist” di laman pencarian pasti banyak muncul dari umat Islam. Teknologi yang kelihatan netral sejatinya melanjutkan proyek ideologis lama dengan wajah baru.

Perang ideologi ini bergerak melalui normalisasi. Begitu masyarakat menerima stereotip sebagai hal biasa, berarti status quo ideologi sedang menang. Di sinilah letak pentingnya kesadaran kritis.

Karena itu, melawan ideologi di era digital tidak bisa lagi hanya cukup lewat jurnal atau seminar. Meski ini juga masih sangat penting. Pertarungan utama juga terjadi di ruang komentar, podcast populer, thread Twitter, dan video singkat yang menjangkau massa luas.

Orientalisme baru tidak hanya tampil dengan bahasa kolonial kasar, melainkan lewat emoji, algoritma, dan narasi ringan.

Maka, “perang digital” menjadi uslub strategi penting pengemban dakwah untuk berani menyajikan narasi tandingan yang segar dan komunikatif. Selain dengan argumen serius, konten humor, kreativitas, dan gaya populer namun tetap bernuansa ideologis, bisa jadi senjata ideologis yang ampuh.

Tidak terlalu peduli berapa jumlah viewer. Kalau bagus alhamdulillah, kalau belum bagus, besok dicoba lagi supaya lebih baik. Begitu.

Terkadang kita masih terlalu hemat menggunakan jari, padahal Allah telah memberi fasilitas potensi untuk meraup pahala yang insya Allah melimpah.

Wallahu a’lam. []

Sumber: Ali Mustofa Akbar

About Author

Categories