Masuk Surga Dengan Kakinya Yang Pincang

Masuk Surga Dengan Kakinya Yang Pincang

Mustanir.com – Amr bin Al-Jamuh ialah saudara ipar Abdullah bin Amr bin Haram, karena ia merupakan suami saudara perempuannya, Hindun binti Amr. Ibnu Al-Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan pemimpin Bani Salamah. Ia didahului masuk Islam oleh putranya sendiri, Mu’adz bin Amr, yang termasuk tujuh puluh peserta Baiat Aqabah II. Mu’adz bin Amr—pada waktu itu bersama shahabatnya (Mu’adz bin Jabal)—menyebarkan Islam di kalangan penduduk Madinah dengan semangat seorang Mukmin muda yang gagah .

Telah menjadi kebiasaan manusia pada waktu itu yang mana golongan bangsawan selalu menyediakan duplikat berhala-berhala besar yang terdapat di tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Mu’adz bin Amr bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di Amr bin Al-Jamuh sebagai barang permainan dan  pada malam hari mereka berdua menyelinap ke dalam rumah, lalu mengambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lubang yang biasa digunakan orang untuk membuang hajatnya. Pada pagi harinya, Amr tidak melihat Manaf (nama berhala) berada di tempat biasanya. Ia mencari berhala itu dan menemukannya di tempat pembuangan hajat. Amr marah besar dan berteriak, “Celakalah! Siapakah yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kami tadi malam?” ia lalu mencuci dan membersihkan berhala itu dan menaburkan wewangian.

Malam harinya, Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu sama seperti malam sebelumnya. Hal yang sama juga berlangsung pada malam-malam selanjutnya. Akhirnya setelah merasa bosan, Amr mengambil pedangnya lalu meletakannya di leher Manaf, sambil berkata, “Jika kam benar-benar dapat memberikan kebaikan, pertahankanlah dirimu sendiri!”

Keesokan harinya, Amr bin Al-Jamuh kembali tidak menemukan berhala sesembahannya di tempat seperti biasa. Ia menemukannya di tempat pembuangan hajat seperti sebelumnya, hanya saja kali ini tidak sendirian. Berhala itu terikat bersama bangkai seekor anjing dengan tali yang kuat. Saat memuncak kemarahan, kekecewaan, dan ketidakpercayaannya, tiba-tiba beberapa bangsawan Madinah yang telah masuk Islam mendekatinya di tempat itu.

Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka mencoba menggugah akal, nurani, dan kesadaran Amr bin Al-Jamuh dengan menjelaskan kepadanya perihal Ilah yang Maha Benar lagi Maha Tinggi, yang tidak satu pun yang menyamai-Nya. Mereka juga menjelaskan tentang Muhammad, sebagai seorang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan itu untuk memberi, bukan untuk menerima. Untuk member petunjuk, dan bukan untuk menyesatkan.

Selanjutnya mereka menjelaskan tentang Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari segala macam belenggu dan menghidupkan pada mereka semangat pengabdian kepada Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.

Dalam sekejap saja, Amr bin Al-Jamuh telah menemukan jati diri dan tempat kembalinya. Beberapa saat kemudian ia pergi untuk membersihkan pakaian dan badannya, lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri hingga tampak mengesankan. Setelah itu ia berjalan dengan langkah yang mantap dan jiwa yang bercahaya untuk berbaiat kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.

Seseorang bisa saja bertanya-tanya kepada diri sendiri, mengapa orang seperti Amr bin Al-Jamuh, yang merupakan pemimpin dan bangsawan di kalangan sukunya, bisa mempercayai berhala-berhala itu sedemikian rupa? Mengapa akal mereka tidak dapat menghindarkan mereka dari keyakinan bodoh seperti itu? Dan sekarang, setelah mereka menganut Islam dan memberikan pengorbanan, kita menganggap mereka sebagai orang-orang besar?

 Pada masa sekarang ini, pertanyaan seperti itu bisa saja timbul dalam pikiran orang karena akal anak kecil saja tidak akan bisa menerima untuk mendirikan di rumahnya barang yang terbuat dari kayu lalu disembahnya. Tetapi, pada masa silam, emosi manusia mudah menerima perbuatan-perbuatan aneh, seperti itu di masa kecerdasan dan nalar mereka tiada berdaya menghadapi arus tradisi kuno tersebut.

 Athena sudah cukup menjadi contoh bagi kita. Yakni Athena pada masa Pericles, Pythagoras, dan Socrates. Athena yang telah mencapai tingkat berpikir yang menakjubkan itu, seluruh penduduknya, mulai dari para filosof, tokoh pemerintahan sampai kepada rakyat biasa, mempercayai patung-patung yang dipahat dan memujanya sampai taraf yang amat hina dan memalukan. Hal itu terjadi karena mental spiritual mereka pada waktu itu masih sangat rendah dan tidak bisa mengimbangi ketinggian daya pikir mereka.

 Amr bin Al-Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah, Rabb semesta alam. Meskipun sejak awal ia telah ditakdirkan sebagai seorang pemurah dan dermawan, Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh harta kekayaannya diserahkannya untuk kepentingan agama dan rekan-rekan seperjuangannya. Rasulullah pernah menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yang merupakan kabilah Amr bin Al-Jamuh, “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, wahai Bani Salamah?”

     Mereka menjawab, “Al-Jaddu bin Qais, hanya saja ia kikir.”

     Rasulullah menanggapi, “Apa lagi penyakit yang lebih buruk daripada kikir? Kalau begitu, pemimpin kalian ialah si Putih Kribo, Amr bin Al-Jamuh.”

     Kesaksian dari Rasulullah ini merupakan penghormatan besar bagi Amr. Sehubungan dengan hal ini, seorang penyair Anshar membuat syair:

     Amr bin Al-Jamuh dikenal karena kedermawanannya

     Maka wajar bila ia dipanggil sebagai dermawan

     Jika ada peminta-minta, ia memberikan hartanya

     Danmengatakan, ambillah, karena esok ia akan kembali berlipat ganda.

Sebagaimana Amr bin Al-Jamuh membaktikan hartanya di jalan Allah, ia juga ingin mengorbankan jiwa dan hidupnya. Tetapi, bagaimana caranya? Kakinya yang pincang membuatnya tidak layak untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putra, semuanya beragama Islam dan semuanya ksatria bagaikan Singa, dan ikut bersama Nabi dalam setiap peperangan, tabah dalam menunaikan kewajiban jihad.

 Amr telah berupaya untuk ikut bergabung dalam Perang Badar. Tetapi, putra-putranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesadaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi meski ia harus kecewa. Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacat kakinya yang berat itu. Tetapi, ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Sekarang, tibalah saatnya Perang Uhud. Amr pergi menemui Nabi dan memohon kepada beliau agar diizinkan bergabung. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, putra-putraku hendak menghalangiku pergi bertempur bersamamu. Demi Allah, aku sangat berharap dengan kepincanganku ini dapat merebut surga.”

Karena Amr terus mendesak agar diizinkan, akhirnya Nabi memberikan izin kepadanya untuk bergabung dengan pasukan. Amr mengambil senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh perasaan puas dan gembira, ia berangkat ke medan Perang. Ia berdoa kepada Allah dengan suara yang penuh ketundukan, “Ya Allah, karuniakanlah kesyahidan kepadaku dan janganlah Engkau kembalikan diriku kepada keluargaku.”

Kedua pasukan bertemu pada hari Uhud tersebut. Amr bin Al-Jamuh bersama keempat orang putranya maju ke depan menebaskan pedangnya ke kepala pasukan kesyirikan dan kegelapan.

 Di tengah-tengah pertarungan yang hebat itu, Amr bin Al-Jamuh melompat dengan kakinya yang pincang, dan sekali lompat pedangnya menebas satu kepala dari kepala-kepala penyembah berhala.ia terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan malaikat secepatnya, yang akan menemani dan mengawalnya masuk surga.

 Itu benar karena ia telah memohon kepada Allah agar dikaruniai kesyahidan dan ia yakin bahwa Allah pasti akan mengabulkannya. Ia sangat mendambakan kakinya yang pincang itu berada di dalam surga, agar ahli surga nanti mengetahui bahwa Muhammad Rasulullah itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.

 Saat yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang. Sebuah pukulan pedang yang menjadi aba-aba bahwa saat menjadi pengantin telah tiba; pengantin kesyahidan yang mulia di kebun-kebun yang abadi dan di surga Firdaus karunia Dzat Yang Maha Pengasih. Ketika kaum Muslimin sedang melakukan proses pemakaman para syuhada mereka, Rasulullah mengeluarkan perintah yang telah kita dengar sebelumnya, “Perhatikan, Kuburkanlah Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Al-Jamuh di satu liang karena mereka berdua saling mencintai dan saling menyayangi di dunia.”

 Kedua shahabat yang saling menyayangi dan gugur syahid dalam satu peperangan itu dikuburkan dalam satu liang kubur, dalam pangkuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci, setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.

 Empat puluh enam tahun setelah pemakaman mereka berdua itu, terjadilah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah perkuburan, disebabkan oleh galian mata air yang dialirkan oleh Mu’awiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka mereka , “Jasad mereka terasa lembut dan ujung-ujung anggota tubuh mereka juga tidak kaku.”

Ketika itu, Jabir bin Abdullah masih hidup. Ia bersama keluarganya pergi ke sana untuk memindahkan kerangka ayahnya, Abdullah bin Amr bin Haram dan kerangka suami bibinya, Amr bin Al-Jamuh. Mereka juga mendapati mereka di dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak. Tubuh mereka tidak sedikit pun dimakan oleh tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis pertanda kerelaan dan kebanggaan yang telah terlukis sejak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu.

Apakah kalian merasa heran? Tidak, janganlah kalian merasa heran karena roh agung orang-orang besar yang suci dan bertakwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya memeliki kekebalan yang dapat mencegah semua faktor penguraian dan pengaruh tanah. SUMBER

Categories