(Tempo/Andry Prasetyo)

Membongkar Selubung Sejarah

MUSTANIR.com – Menurut Dr. Syamsuddin Arif, ada 3 tipe penulisan sejarah:

1. History Remembered

Biasa disebut popular history, yang terangkum dalam aneka mitos, legenda di mana antara dongeng dan kenyataan sudah bercampur aduk menjadi satu

2. History Recovered

Merupakan academic history, yang mengandung sebuah upaya rekonstruksi atas jalannya sejarah.

3. History Invented

Adalah official history yang bertipe ‘from fiction to fact‘, biasanya dibuat untuk proses pelanggengan sebuah kekuasaan.

Karenanya pemaparan materi oleh Ust. Susiyanto pada diskusi Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) pada 2012 bertujuan untuk mengupas selubung sejarah kaum Teosofi di Indonesia, yang ketika memperkenalkan diri kepada para bangsawan kraton dengan wajah ‘tasawuf Islam’ dan secara perlahan melakukan deviasi pemahaman sampai akhirnya menampakkan jejak Kabbalah dan kebijakan Hindustan yang sama sekali berbeda dengan Islam bahkan menyimpan kebencian terselubung terhadap Islam.

Pada perkembangannya ideologi impor transnasional yang bernama Teosofi ini menyusup ke dalam kalangan kebatinan bahkan kejawen yang kemudian melakukan penyimpangan makna atas kebatinan dan kejawen yang pada gilirannya memposisikan kebatinan dan kejawen menjadi bersifat memusuhi Islam. Di mana Islam selalu dicitrakan sebagai ‘Arab’ dan ‘agama asing’ bagi penduduk Nusantara.

Namun, penyimpangan sejarah sudah akut, sehingga umat Islam di Indonesia sering tidak lagi mampu membedakan mana cerita rekaan, mitos, legenda dan mana yang merupakan sejarah asli, maka diskusi PSPI seolah baru menjadi pintu pembuka.

Semisal kirab Satu Suro yang melibatkan kerbau Kyai Slamet sebagai cucuk lampah, banyak yang menduga bahwa itu adalah tradisi Kraton Mataram yang sudah berlangsung berabad dan lama.

Padahal itu merupakan tradisi baru yang muncul pada 1974. Di mana pasca peristiwa Malari yang cukup mengguncang ibukota Jakarta pada saat itu, menyebabkan Jendral Sujono Humardani, yang merupakan guru spiritual Suharto di era awal Orde Baru, datang ke Kraton Kasunanan Surakarta, menemui Pakubuwono XII, untuk mencari sebuah prosesi ritual untuk meredam gejolak yang mulai bermunculan di Indonesia.

Akhirnya kemudian dilakukan kirab pusaka pada tanggal 1 Suro. Yang pertama kali dikirab adalah pusaka yang bernama Kyai Slamet, sedangkan fungsi kerbau adalah sebagai pelengkap, sebagaimana kalau dilakukan karnaval saat peringatan 17 Agustus ada mobil hias. Sebab kerbau bule di Kraton Surakarta memang merupakan hewan klangenan para Raja Surakarta, sejak masa Pakubuwoono XII.

Namun pada perkembangannya, kerbau bule tersebut menjadi lebih terkenal dibandingkan pusaka yang dikirab, lebih parahnya lagi justru kerbau bule itu akhirnya diberi nama ‘Kyai Slamet’ yang sebetulnya merupakan nama pusaka yang dikirab.

Kejadian yang dirumuskan pada 1974 saja sudah sangat panjang deviasinya. Lalu bagaimanakah dengan sejarah Islam di negeri ini yang telah terselubung kepentingan kolonialisme selama berabad-abad? []

Sumber: Arif Wibowo, Direktur PSPI

Categories