
Meneladani Perjuangan dan Kepemimpinan Rasulullah ﷺ
MUSTANIR.net – Kelahiran dan kehadiran Rasulullah Muhammad ﷺ di dunia ini semestinya tidak hanya melahirkan peringatan yang bersifat seremonial semata. Peringatan atas kelahiran (maulid) beliau sejatinya merupakan kesyukuran dan kecintaan atas datangnya cahaya petunjuk yang mengandung makna kemenangan.
Demikian sebagaimana yang Allah SWT firmankan:
هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ
Dialah Tuhan Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun kaum musyrik tidak suka (TQS at-Taubah [9]: 33).
Mencintai Rasulullah ﷺ adalah kewajiban. Mencintai beliau bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan iman seorang Muslim. Akan tetapi, kecintaan kepada beliau tidak boleh sekadar ungkapan emosional.
Ia mesti diwujudkan dengan menaati sunnah beliau, membela kehormatan beliau, serta menjadikan ajaran beliau sebagai pedoman hidup. Ittibaa’ kepada Rasulullah saw. adalah bukti kecintaan kepada Allah SWT. Demikian sebagaimana firman Allah SWT:
قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (TQS Ali ‘Imran [3]: 31).
Bahkan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya harus lebih diutamakan di atas kecintaan kepada keluarga, harta dan seluruh kenikmatan dunia ini (Lihat: QS at-Taubah [9]: 24).
Rasulullah ﷺ juga telah bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dia cintai daripada ayahnya, anaknya dan seluruh manusia (HR al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis yang lain beliau bersabda:
اَلْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
Seseorang akan bersama dengan orang yang dia cintai (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hal ini menegaskan bahwa mencintai Rasulullah ﷺ merupakan jalan menuju kesempurnaan iman, jalan memperoleh cinta dan ampunan Allah SWT, serta jalan yang menjadikan seorang Mukmin bisa dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.
Kewajiban Meneladani Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah teladan sempurna (uswah hasanah) bagi setiap Muslim dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam. Allah SWT menegaskan:
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا
Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan (kedatangan) Hari Akhir serta banyak mengingat Allah (TQS al-Ahzab [33]: 21).
Selama lebih dari dua puluh tiga tahun masa kerasulan, Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah memperjuangkan kepentingan pribadi, keluarga, suku, ataupun kelompok. Beliau semata-mata berjuang mendakwahkan risalah tauhid agar menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Ketika kaum Quraisy menawarkan harta, kekuasaan dan kedudukan agar beliau menghentikan dakwah beliau, beliau menolak semua itu dengan keteguhan yang luar biasa. Beliau bahkan menegaskan kepada mereka (melalui paman beliau, Abu Thalib):
يَا عَمِّ، وَاللهِ، لَوْ وَضَعُوْا الشَّمْسَ فِي يَمِيْنِى وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِى عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا اْلأَمْرَ – حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ أَوْ أَهْلِكُ فِيْهِ – مَا تَرَكْتُهُ
Demi Allah! Andai mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, niscaya aku tidak akan meninggalkan dakwah ini hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya (Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiiq al-Makhtuum, 1/69).
Pernyataan ini menjadi simbol integritas beliau yang tidak pernah menggadaikan prinsip demi kepentingan duniawi, materi dan jabatan. Allah SWT pun mengingatkan beliau agar tidak mengikuti keinginan kaum kafir dan munafik. Demikian sebagaimana firman-Nya:
وَلَا تُطِعِ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَدَعۡ أَذَىٰهُمۡ وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ وَكِيلٗا
Janganlah engkau (Muhammad) mengikuti kaum kafir dan kaum munafik. Janganlah engkau menghiraukan gangguan mereka. Bertawakallah engkau kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung (TQS al-Ahzab [33]: 48).
Keteladanan Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran Islam menuntut keistiqamahan, keberanian dan kemurnian niat hanya karena Allah SWT. Selain keteguhan prinsip, Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa jalan dakwah adalah jalan kesabaran dan keyakinan penuh terhadap pertolongan Allah SWT.
Di medan dakwah, Rasulullah ﷺ menghadapi caci-maki, pemboikotan, penyiksaan, pengusiran dari tanah kelahiran hingga berbagai peperangan. Akan tetapi, beliau tidak pernah kehilangan harapan terhadap janji Allah SWT. Sebabnya, Allah SWT telah berfirman:
فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ…
Karena itu bersabarlah kamu (Muhammad) seperti para rasul sebelumnya yang mempunyai keteguhan hati… (TQS al-Ahqaf [46]: 35).
Pada ayat lain Allah SWT memberikan kabar gembira:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian (TQS Muhammad [47]: 7).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّ النَّصْرَ مَعَ الصّبْرِ وَإِنَّ الْفَرَجِ مَعَ الْكَرْبِ وَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya pertolongan itu datang bersama kesabaran, jalan keluar datang bersama kesulitan dan bersama kesukaran ada kemudahan (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).
Meneladani Rasulullah ﷺ berarti membangun komitmen untuk memperjuangkan Islam secara istiqamah. Tidak tunduk pada intimidasi, godaan maupun kompromi yang bertentangan dengan syariah; utamanya sistem sekuler warisan penjajah. Senantiasa bersabar dan meyakini bahwa kemenangan dan pertolongan Allah SWT akan datang pada waktu yang telah Dia tetapkan.
Inilah karakter para pewaris perjuangan para nabi yang menjadikan iman sebagai kompas, kesabaran sebagai bekal dan pertolongan Allah sebagai sumber optimisme sepanjang zaman.
Teladan Rasulullah ﷺ dalam Memimpin Negara
Kepemimpinan Rasulullah ﷺ sebagai kepala negara di Madinah dibangun di atas prinsip ketundukan penuh pada wahyu Allah SWT, keadilan yang tidak memandang status sosial, serta pengangkatan pejabat berdasarkan integritas, ketakwaan dan kompetensi. Allah SWT menegaskan:
وَأَنِ ٱحۡكُم بَيۡنَهُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَلَا تَتَّبِعۡ أَهۡوَآءَهُمۡ
Hendaklah kamu (Muhammad) memutuskan perkara di antara mereka menurut wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka… (TQS al-Maidah [5]: 49).
Ayat ini menunjukkan bahwa hukum Allah SWT menjadi landasan utama dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam menegakkan keadilan, Rasulullah ﷺ tidak pernah membeda-bedakan antara orang kaya dan miskin, keluarga dekat maupun orang lain. Ketika ada upaya meminta keringanan hukuman bagi seorang perempuan dari kalangan bangsawan Quraisy yang melakukan pencurian, beliau bersabda:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ فَاطِمَةُ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad melakukan demikian (mencuri), niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa keadilan harus ditegakkan tanpa diskriminasi. Ada pun dalam memilih pejabat, Rasulullah ﷺ mengedepankan amanah dan kemampuan. Ini sejalan dengan firman Allah SWT:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ
Sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya (TQS al-Qashshash [28]: 26).
Allah SWT juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا…
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu memberikan amanah kepada yang berhak menerima amanah tersebut… (TQS an-Nisa’ [4]: 58).
Kepemimpinan Nabi ﷺ menjadi teladan bahwa pemerintahan yang baik dibangun di atas supremasi syariah Islam yang mengutamakan ketakwaan serta profesionalisme. Semua ini demi mewujudkan kemaslahatan masyarakat, kehidupan islami serta terbebas dari berbagai bentuk penjajahan ideologi kufur.
Meneladani Rasulullah ﷺ Secara Kaaffah
Salah satu dampak pemikiran sekularisme adalah kecenderungan memisahkan agama dari urusan publik. Akibatnya, sebagian kaum Muslim hanya memandang Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam aspek ibadah ritual dan akhlak pribadi beliau saja.
Sebaliknya, perjuangan beliau sebagai pemimpin masyarakat, kepala negara, hakim, panglima dan negarawan kurang mendapat perhatian. Padahal al-Quran memerintahkan kaum beriman untuk menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan yang menyeluruh, bukan hanya dalam satu aspek kehidupan.
Keteladanan tersebut mencakup seluruh dimensi kehidupan yang dijalani oleh beliau; sebagai hamba Allah SWT, pendidik, da’i, pemimpin keluarga, hakim, panglima perang, pemimpin masyarakat dan kepala pemerintahan di Madinah.
Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan shalat, puasa dan akhlak mulia. Beliau pun membangun masyarakat yang berkeadilan, menegakkan hukum Islam, memimpin musyawarah, mengangkat pejabat yang amanah dan kompeten, membuat perjanjian dengan berbagai kelompok, serta menjaga keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
Kesempurnaan meneladani Rasulullah ﷺ ini hanya mungkin terwujud dengan menegakkan kembali sistem pemerintahan Islam (Khilafah). Sebabnya, hanya dalam sistem Khilafah, seluruh aspek kehidupan Islam—sebagaimana dipraktikkan dan dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ—akan bisa diwujudkan secara kaaffah (menyeluruh), sebagaimana yang Allah SWT perintahkan (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 208).
WalLaahu a’lam bi ash-shawaab. []
Sumber: Buletin Kaffah Edisi 457
