Mengambil Ibroh dari Peristiwa Gerhana Matahari

Mengambil Ibroh dari Peristiwa Gerhana Matahari

Oleh: Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

Peristiwa gerhana adalah peristiwa dahsyat, penuh ibroh dan pelajaran bagi hamba. Kalau gerhana Matahari pernah terjadi hanya sekali pada zaman Nabi, sekarang pada zaman ini begitu sering kita dapati peristiwa gerhana matahari. Namun sudahkan kita mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut?! Ataukah hati kita sudah membeku seperti batu?!

1. Gerhana matahari pernah terjadi pada zaman Nabi di hari Senin 29 Syawwal tahun 10 Hijriyyah/bertepatan dg 27 Januari 632 Masehi, pukul 08.30 pagi.

2. Disyariatkan Sholat gerhana secara berjamaah di masjid pria dan wanita dg bacaan keras dan panjang sebanyak 2 rakaat dg 4 kali rukuk dan 4 kali sujud.

3. Matahari dan bulan merupakan makhluk Allah yg agung, yg menunjukkan kebesaran Sang Pencipta. (QS. Fushilat: 37). Allah bersumpah dengan keduanya dalam Al Qur’an. (QS. Asy-Syamsu: 1-2) karena kemuliaan keduanya dan besarnya manfaat keduanya bagi kehidupan manusia.

4. Gerhana matahari atau bulan tidak ada kaitannya dg mati atau lahirnya manusia. Ini adalah keyakinan jahiliyyah yg dibatalkan Nabi Muhammad yg datang membawa cahaya serta menghapus kegelapan perangai jahiliyyah yg masih bercokol hingga sekarang seperti pengkultusan kuburan, ramalan bintang dan kiamat, perpecahan, merasa sial dg angka 13 atau bulan syuro dll. Kita dimuliakan dg Islam, jika ingin meraih kejayaan maka kembalilah kpd Islam bukan kembali kpd jahiliyyah.

5. Tujuan inti adanya gerhana adalah sebagai peringatan bagi hamba agar mereka taubat dari dosa, semangat mengumpulkan bekal akherat, tidak tertipu dg fatamorgana dunia, dan selalu ingat akan hari akhir (Lihat QS. Al Isra’: 59)
Maka termasuk kesalahan jika gerhana malah disambut dg penuh canda dan tertawa, selfie, apalagi dg ngadain konser bersama artis ibu kota !! Sudah begitu keraskah hati kita?!
Jangan anggap peristiwa gerhana hanya sekedar peristiwa biasa yg datang dan berlalu begitu saja tanpa membuahkan perubahan pada diri kita.

6. Menghadapi Teguran Dengan Ibadah
Ketika terjadi gerhana, Nabi menganjurkan agar kita segera melakukan sholat, memperbanyak doa dan istighfar, serta bershodaqoh.
Ini pelajaran penting bagi kita bahwa ketika Allah menurunkan teguran kpd kita baik berupa tsunami, banjir, tanah longsor, meletusnya gunung, krisis ekonomi dll, maka solusinya adalah dengan kembali kpd Allah, memperbaiki kwalitas iman dan ibadah kita, bukan dg menyalahkan pemerintah, menyalahkan makhluk Allah seperti gunung, api, laut, udara dll, krn mereka tidak berdosa, yg berdosa adalah kita manusia.
Kalau ketika terjadi perubahan alam seperti gerhana, Nabi merubah model sholatnya, maka itu artinya kita harus merubah keadaan kita saat gerhana dg bnyk ibadah.

(Intisari khutbah gerhana Matahari yg disampaikan penulis Rabu 9 Maret 2016 di Masjid Namiroh, Lamongan, Jatim)

Categories