Mensyukuri Nikmat dari Allah

Mensyukuri Nikmat dari Allah

(Tadabbur Surat adh-Dhuha dan Surat asy-Syarh)

Sesungguhnya bersyukur kepada Dzat yang telah memberi nikmat termasuk bentuk ibadah yang mulia, qurbah (pendekatan diri) yang paling utama. Dan, inilah petunjuk-petunjuk yang paling nampak pada dua Surat; adh Dhuha dan asy Syarh (al-insyirah). Pada kedua surat tersebut Allah menyebutkan sejumlah kenikmatan sebagai pemuliaan kepada RasulNya dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut. Dan, pada kedua surat tersebut Allah juga menjelaskan wajibnya mensyukuri nikmat baik secara terperinci maupun secara global. Baik nikmat tersebut sesuatu yang dapat diindra maupun yang bersifat maknawi.

Nikmat Allah dalam Surat adh-Dhuha

Saudaraku, Adapun nikmat yang disebutkan dalam Surat adh-Dhuha ada enam, yaitu :

1.Bahwa Allah Dzat yang Mahaagung dalam ketinggiannya tidaklah meninggalkan RasulNya, Muhammad dan tidak pula membencinya. Sekali-kali tidak dan tak akan pernah Allah meninggalkan dan membenci rasulNya. Allah telah bersumpah atas hal itu dengan dua sumpah ; yang pertama Dia bersumpah dengan “Dhuha“ (waktu matahari sepenggalah naik), yang kedua Dia bersumpah dengan “malam apabila telah sunyi (gelap) “

2.Bahwa akhirat itu lebih baik baginya daripada dunia.

3.Bahwa Allah akan memberikan kepadanya dari keluasan karuniaNya hingga dia puas. Dan Allah telah mempertegas kedua janjinya tersebut dengan dua buah sumpah.

4.Bahwa Allah melindunginya tatkala beliau dalam keadaan yatim dengan cara Allah memberikan kecondongan kepada kakeknya Abdul Muththalib dan pamannya Abu Thalib untuk memeliharanya, mencintainya dan memuliakannya.

5. Bahwa Allah menurunkan wahyu kepadanya, Allah menerangi hatinya dengan wahyu tersebut yang mana sebelumnya ia tidak mengetahuinya. Dia berfirman, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk).

6.Bahwa Allah memberikan kecukupan kepadanya setelah sebelumnya dia dalam keadaan kekurangan. Allah memenuhi dirinya dengan kecukupan, Allah menjadikan dunia di genggaman tangannya, namun beliau tidak mengambil darinya melainkan sebatas kecukupan saja.

Nikmat Allah dalam Surat asy Syarh

Adapun kenikmatan yang disebutkan di dalam surat asy-Syarh, ada empat,yaitu :

1.Kenikmatan,“kelapangan dada” untuk segala bentuk kebaikan, kesanggupan beliau untuk memikul segala beban, keridhaannya untuk menghadapi setiap musibah, kecintaannya terhadap setiap orang-orang yang beriman, dan keselamatan hatinya terhadap semua makhluk.

2.Kenikmatan,“diampuninya dosa-dosanya dan dihilangkannya beban darinya“ hingga Allah tak menyisakan sedikitpun dari dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, melainkan Allah telah memaafkannya.

3.Kenikmatan,“ ditinggikannya penyebutan (nama) beliau dan ketinggian kedudukannya serta buah tutur yang baik di antara alam semesta hingga penyebutan namanya terkait dengan nama Allah dalam banyak kesempatan, dan jadilah nama beliau diagungkan di segenap penjuru, tak terputus sepanjang zaman.

4.Kenikmatan,“kemudahan setelah kesulitan”. Maka tidaklah ia terjatuh ke dalam kondisi yang sedemikian sulit melainkan Allah menjadikan setelah itu kemudahan dan kasih sayang serta kelembutan dan keutamaan, sebagai bentuk pemuliaan dariNya terhadap hambaNya, bahkan atas seluruh hamba-hambaNya.

Saudaraku, itulah sejumlah kenikmatan yang disebutkan di dalam dua surat yang mulia ini (surat adh Dhuha dan surat asy Syarh). Allah menyebutkannya secara terperinci dalam kedua surat tersebut. Allah menyebutkan satu per satu untuk menjelaskan wajibnya bersyukur kepadaNya atas setiap nikmat secara terperinci dan atas keumuman segala nikmat secara global.

Telah datang pada kedua surat tersebut penjelasan mengenai hal tersebut secara terperinci pada nikmat-nikmat yang dapat diindra, maka Allah memberikan bimbingan kepada beliau agar memuliakan anak yatim, Allah berfirman, فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang) sebagai bentuk balasan atas nikmat terpeliharanya beliau ketika dalam keadaan yatim. Allah juga mengarahkannya untuk memberikan pengajaran terhadap orang-orang yang bodoh dan menanggapi permintaan orang-orang yang meminta-minta dengan tindakan yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Allah berfirman, وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya) sebagai bentuk balasan atas nikmat yang disebutkan dalam firmanNya, وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَى (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk).

Allah juga membimbingnya agar memberikan makan kepada orang-orang fakir miskin dan memuliakan orang-orang yang meminta-minta dengan tanpa ada unsur menyakiti ataupun hardikan, Allah berfirman, وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya) sebagai balasan atas nikmat yang disebutkan dalam firmanNya, وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَى (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan). Ini semuanya merupakan penjelasan secara terperinci.

Adapun penjelasan secara global, Allah berfirman, وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya), yakni : sebut-sebutlah hal tersebut sehingga akan semakin menambah hubungan dan kebergantunganmu dengan rabbmu, semakin menambah pengakuanmu akan karuniaNya, serta sebut-sebutlah kepada orang lain tentang apa yang Allah karuniakan kepadamu agar hal tersebut menjadi tanda kesyukuranmu kepada rabbmu, karena syukur itu sebagaimana dilakukan dengan hati, syukur juga hendaknya dilakukan dengan lisan dan anggota badan.

Dan, setelah Allah menyebutkan beberapa kenikmatan di dalam Surat asy Syarh (al-Insyirah), Dia berfirman, فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ (7) وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ (8) Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Yakni, jika engkau telah selesai dari urusan yang menyibukkanmu dan dari apa-apa yang ada di hadapanmu, maka segeralah engkau untuk bersungguh-sungguh pula dalam beribadah kepada rabbmu dan berharap kepadaNya, serta jadikanlah ketamakanmu terhadap apa yang di sisi Allah ; karena segala bentuk kebaikan berada di tanganNya, hendaknya engkau lakukan hal itu sebagai bentuk kesyukuranmu kepadaNya atas segala nikmat, karunia dan keutamaan yang dikaruniakan kepadamu, karena syukur nikmat itulah yang akan menyebabkan kenikmatan tersebut tetap ada padamu bahkan menjadi bertambah, sebagaimana Allah berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim : 7)

Dengan ini, jelaslah bahwa setiap kenikmatan mengharuskan untuk disyukuri secara umum dengan cara menyebut-nyebutnya, mengakuinya bahwa kenikmatan tersebut Allahlah yang mengaruniakannya, dan hendaknya mendayagunakannya dalam ketaatan kepada Allah. Begitu juga setiap kenikmatan mengharuskan untuk disyukuri secara khusus, yaitu dengan melakukan yang sejenis dengan karunia yang diterima jika hal tersebut mungkin untuk dilakukan.

Oleh karenanya, jika Allah memberikan karunia kepada Anda berupa makan, maka hendaklah Anda memberi makan orang lain, jika Allah memberikan kepada Anda ilmu maka ajarkanlah ilmu tersebut kepada orang lain dan janganlah anda bakhil (dengan tidak mau memberikannya atau mengajarkannya kepada orang lain). Allahlah Dzat yang memberikan taufiq dan Dzat yang memberikan petunjuk serta bimbingan ke jalan yang lurus.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabatnya semuanya.

SUMBER

Categories