Menyoal Perbedaan

Menyoal Perbedaan

Oleh: Subhi Abdillah

Mustanir.com – Pada suatu ketika, saya pernah diajak seseorang untuk mendakwahi kawan-kawan NU di sebuah wilayah. Saya tanya: “Apa yang Ente maksud dengan dakwah?”. Ternyata ada yang memahami dakwah sebagai mengajak orang lain masuk ke dalam kelompoknya.
Hal ini terjadi luas di negeri-negeri Muslim dan seringkali menjadi akar pertentangan yang dalam. Kita sering keliru mendudukan mana wilayah partai, mana wilayah kelompok, mana wilayah jamaah.Itu kekeliruan yang meratus tahun, khususnya ketika para modernis menganggap bermadzhab (baik dalam fikih, kalam, apalagi dalam tasawuf dan filsafat) merupakan sesuatu yang tak perlu. Tak diajarkan Rasul Allah.
Akhirnya lahir generasi-generasi tak bermadzhab. Alasan para modernis ialah kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah tentu saja tidak bermadzhab. Siapa yang bermadzhab, ia tidak kembali ke mana-mana. Maka mereka menyimpulkan madzhab tidak perlu. Bahkan ada yang keras, menyatakan: yang bermadzhab itu tempatnya di neraka. Saya berharap mereka sedang becanda ketika bilang begitu. Kalau serius, ya urus sendiri lah dunia akhirat.
Tentu saja ada juga orang-orang yang keliru dalam memperlakukan madzhab. Ada orang yang memperlakukan madzhab macam agama. Ada yg menempatkan amalan khas tiap madzhab sebagai syariat. Tapi kekeliruan-kekeliruan itu harus dipandang sebagai kekeliruan dalam bermadzhab, bukan hakikat madzhab itu sendiri.
Madzhab sebenarnya lahir sebagai bagian dari kekayaan dan kemampuan peradaban Islam dalam mendudukan serta mengelola perbedaan. Keberagaman memang tak mungkin dihilangkan. Tetapi selain keberagaman, ada juga persatuan. Selain ada yang berbeda, ada yang sama. Selain ada yang berubah, ada juga yang tetap. Bagaimana mempertahankan persatuan, persamaan dan ketetapan dalam keberagaman, perbedaan dan perubahan? Nah itu salah satu alasan kenapa ada madzhab. Dulu.
Madzhab memang bisa saja dibid’ahkan, diharamkan atau pun dihilangkan. Tapi perbedaan tidak. Dan tanpa madzhab kita rupanya bingung bagaimana menghadapi perbedaan. Kita nampak khawatir dengan perbedaan. Kita gusar pada yang berbeda. Kita kurang memahami atau malah tidak tahu kedudukan perbedaan dan bagaimana menyikapinya.
Perbedaan pandangan terhadap bagaimana seharusnya laku jari telunjuk pada saat bertahiyat tentu berbeda dengan perbedaan preferensi politik. Perbedaan antara Syiah dan Sunni, Nu dan Muhammadiyah, PKS dan HTI, atau antara Pak Gulen dan Paman Erdogan tentu berbeda dengan perbedaan antara Islam dan Kristen. Apalagi dengan Viking dan The Jakmania. Jelas kedudukan setiap perbedaan itu berbeda. Walau di akar rumput kelakuan orang-orang dalam berbeda kadang sama saja. Baik anak-anak Viking dan The Jak atau pun yang itu.
Dalam masalah perbedaan ini ada juga yang menarik. Kawan-kawan lucu dari kalangan sekular-liberal sering juga berceracau tentang perbedaan ini. Mereka sering bilang bahwa perbedaan antara agama itu hanya ada di taraf eksoteris, dalam hal laku keagamaan belaka. Di taraf esoteris, hakikat semua agama menyatu, perbedaan luntur seperti jenis jamu. Jadi mereka sangat yakin kalau semua pemeluk agama punya peluang yang sama untuk masuk ke dalam surganya ALLAH. Yakin betul mereka ini kalau surga dan ALLAH itu memang seperti yang mereka pikirkan.
Seyakin mereka pada tak terdamaikannya perbedaan-perbedaan yang ada dalam Islam. Bahwa Islam itu tidak tunggal, tidak ada tafsir yang utuh dan satu atasnya. Yang ada hanya keberagaman. Setiap penafsir dan pelaku Islam mengejawantahkan Islam hasil penafsirannya dalam hidupnya. Tidak ada Islam yang murni. Bahkan Islam yang dijalani Rasul pun sering dikurangajari dengan disebut sebagai terlibat dengan hasrat Muhammad secar pribadi.
Jadi begitu kawan-kawan liberal itu. Terutama liberal pemula tingkat pertama. Mereka yakin semua agama itu hakikatnya sama seyakin bahwa perbedaan-perbedaan dalam Islam itu tak terdamaikan.
Namun kita lupakan saja kawan-kawan liberal itu. Ada urusan yang lebih penting. Kita semua secara bersama-sama sedang gagal memahami perbedaan dan tiba-tiba saja menjarah perilaku The Jakmania dan Viking, khususnya di media sosial. Wilayah berantem tambah elek-elekan itu sebenarnya wilayah “ulayat” para pendukung kesebelasan sepakbola. “Adat” para pendaku dakwah Islam, seharusnya lebih baik dari itu. Kegagalan mendudukan taraf perbedaan berdampak pada kekeliruan dalam menyikapi perbedaan. Dan ini sebenarnya agak terkait dengan soal madzhab tadi.
Ketika kita telah keliru dalam mendudukan perbedaan, akan lahir sebuah sikap yang lebih akut.
Beberapa kelompok, karena tidak dapat mengelola perbedaan, akhirnya berfikir untuk menyamakan semua muslim di seluruh kawasan. Bahkan di seluruh dunia. Artinya semua muslim harus masuk ke dalam kelompok mereka. Harus sama dan sekelompok dengan mereka. Sesuatu yang pada taraf tertentu menyelisihi sunatullah.
Sebuah kelompok misalnya, katakan lah Kelompok Palawijaya dari Desa Bedoyo (bukan nama sebenarnya), hanya bisa berhasil mencapai tujuan politiknya kalau dan hanya kalau semua orang Islam di Indonesia sudah masuk dalam Kelompok Palawija dari Desa Bedoyo tersebut. Kalau masih ada orang-orang yang bergabung dengan Kelompok Unggas-unggasan dari Desa Sebelah (juga bukan nama sebenarnya), tujuan Kelompok Palawija tidak akan pernah tercapai.
Yang terjadi adalah saling mendakwahi antar Kelompok Palawija dan Kelompok Unggas-unggasan, yang mengakibatkan kekecewaan di antara sebagian masing-masing kelompok dan akhirnya melahirkan kelompok ultra-palawija dan kelompok ultra-unggas-unggasan. Kelompok ultra-ultraan yang selalu lahir dari bermacam kekecewaan terhadap kelompok induknya disertai ketidakmampuan untuk “berdialog” dengan kenyataan.
Tujuan-tujuan politik macam ini jadi terlihat muskil karena di Indonesia ada orang-orang NU Madura. Bagaimana cara mengajak mereka masuk ke dalam kelompok lain? Perlu waktu berapa lama? Dan ngapain mereka di-tidak-NU-kan, toh dengan menjadi orang NU pun, kalau mereka benar, mereka bisa masuk surga dan mendapat ridla ALLAH. Jadi yang bener aja lah.
Di beberapa negara perbedaan-perbedaan yang tak terkelola tapi berkelanjutan ini menghasilkan pertentangan panjang dan bahkan peperangan antar sesama muslim. Pertentangan yang telah mengeras berakibat saling bunuh dan pengkafiran. Satu keadaan tak beradab yg memang menjadi ujian bagi muslim hari ini. Kita buang-buang waktu dan tenaga berhantam tak ada artinya sesama kita.
Kita sesama muslim adalah saudara. Saudara yg diikat iman, keyakinan terhadap ALLAH dan kesatuan sebagai sesama Umat Muhammad. Tapi kita juga ada dalam keberagaman. Dan keberagaman ialah sebuah keniscayaan, sunatullah. Bagaimana kita bisa bersaudara dalam bermacam perbedaan yang ada? Di situ kita memerlukan kemampuan menakar rasa, fikir, sikap dan kata. Kemampuan mengenali diri dan hubungannya dengan keseluruhan di luar diri. Kemampuan menempatkan diri. Orang-orang Melayu menyebut kemampuan ini sebagai “tahu diri”.
Di Turki, Mesir, Suriah, Irak, Palestina dan beberapa tempat lain Muslim sedang diuji untuk menghadapi perbedaan. Di negeri kita tentu ada juga sedikit-sedikit pengaruhnya. Sebab saat ini, selain sepakbola dan Pokemon, berantem juga sudah menjagat (sebuah ikhtiar dari beberapa fihak dalam pembahasa-Indonesiaan secara utuh kata ‘globalize’).
Mari kita berikhtiar untuk menyikapi penjagatan berantem-beranteman tersebut dengan baik dan benar seperti mana J.S. Badudu memperlakukan Bahasa Indonesia. Perbedaan sebenarnya menyenangkan dan akan melahirkan laku-laku baru yang dinamis. Jika dulu kritik terhadap perilaku bermadzhab (bukan terhadap madzhab itu sendiri sebenarnya) melahirkan sikap anti-madzhab, siapa tahu perbedaan harakah akhir-akhir ini juga melahirkan manusia-manusia baru nir-harakan tak ultra-madzhab namun penuh dengan cinta. Muslim-muslim berdaulat yang siap mengulur cinta pada muslim lain dari golongan dan negara manapun. Muslim nir-harakah yang siap bekerja demi peradaban Islam yang sehat, yang akan bermanfaat untuk semua. Muslim yang banyak bekerja dan sedikit berantem.
Muslim nir-harakah memang sering ditengarai sebagai muslim yang terpisah dari kawanannya dan mudah diterkam srigala-srigala. Tentu saja postulat macam ini memang ditujukan kepada muslim nir-harakah kelas kambing. Sebab bukan hanya orang-orang tak berharakah yang mungkin diterkam srigala, tetapi ada juga kemungkinan srigala yang akan diterkam muslim nir-harakah.
Demikian lelantur saya ini. Moga-moga bermanfaat.

Categories