Mereka Mengaku Ingin Memajukan Islam Tetapi Malah Meruntuhkannya

MUSTANIR.net – Sesosok lelaki pembawa kesyirikan ke kota Makkah, jauh sebelum masa kelahiran Rasulullah. Namanya Amru bin Luhay. Dia termasuk orang shalih dan terpandang di masyarakat Makkah. Perkataannya didengarkan, pertimbangannya dijadikan keputusan.

Suatu hari, Amru bin Luhay melakukan perjalanan ke negeri Yaman, yang pada saat itu merupakan salah satu pusat kemajuan peradaban. Amru bin Luhay terpesona dengan kemajuan peradaban di negeri tersebut. Ia berusaha mencari tahu apa yang menjadi faktor penyebab kemajuan negeri itu.

Lama ia melakukan pengamatan, hingga ia menarik sebuah kesimpulan dari apa yang dilihatnya ada di Yaman namun tidak ditemukannya di kota Makkah, yaitu, penduduk Yaman menyembah patung-patung dalam peribadatannya.

Amru bin Luhay menyimpulkan bahwa hal itulah yang menyebabkan kemajuan negeri Yaman. Maka ia berupaya mendapatkan satu patung untuk dibawa pulang ke kota Makkah, dengan harapan agar Makkah juga dapat mengalami kemajuan sebagaimana Yaman.

Sesampai di kota Makkah, ia memperkenalkan berhala tersebut kepada penduduk Makkah. Dan satu demi satu berhala-berhala yang terkubur milik kaum terdahulu (bangsa-bangsa Arab kuno yang sudah punah) pun ditemukan melalui kerjasama Amru bin Luhay dengan syaithan, hingga seluruh sisi dalam ruangan Ka’bah dipenuhi oleh tiga ratus enam puluh berhala.

Waktu terus berjalan, dan jadilah itu sebagai agama baru di kota Makkah, yang mendarah daging bagi para penduduk Makkah sesudahnya. Amru bin Luhay telah berhasil membawa cara beribadah orang Yaman kuno ke negeri Makkah. Ia telah menjadikan masyarakat Makkah yang pada awalnya adalah pengikut agama Nabi Ibrahim, menjadi para penyembah berhala.

Namun ada satu yang aneh. Tujuan Amru bin Luhay membawa berhala dan tata cara peribadatan orang Yaman pada waktu itu adalah untuk membawa kemajuan peradaban ke kota Makkah. Pertanyaannya, apakah kemajuan tersebut berhasil dibawa ke Makkah?

Sayang sekali, jawabannya adalah tidak. Dan yang terjadi justru kemunduran peradaban. Berbagai tradisi yang tidak memanusiakan manusia, tidak mewanitakan wanita, tumbuh subur di negeri Makkah.

Amru bin Luhay salah bawa oleh-oleh. Inginnya membawa kemajuan, justru membawa kemunduran dan kehancuran. Dan Rasulullah diutus menjadi Nabi dan Rasul ketika kemunduran itu semakin merajalela. Beliau diutus untuk membersihkan semua kekufuran tersebut, dan memajukan tidak hanya kota Makkah, bahkan membangkitkan peradaban dunia.

Kembali ke Amru bin Luhay. Tampaknya, kita masih bisa menemukan orang-orang yang mirip kisahnya seperti dia. Orang-orang yang takjub pada kemajuan di negara-negara Barat, kemudian mencari tahu apa yang menyebabkan majunya peradaban Barat.

• Mereka menyimpulkan bahwa majunya peradaban Barat adalah semenjak mereka meninggalkan ajaran agamanya (agama yang berkuasa di dunia Barat pada waktu itu).

• Mereka melihat Barat maju dengan menjalankan paham sekularisme, liberalisme, kapitalisme, pluralisme, demokrasi, dan berbagai falsafah kehidupan Barat lainnya.

• Mereka membawa semua itu ke negeri kaum Muslimin (spesifiknya Indonesia), dan membuat propaganda agar orang-orang Muslim mau mengambilnya sebagai jalan hidup.

Hasilnya? Apakah kemajuan itu bisa hadir di negeri kita semenjak menjalankan falsafah hidup negeri kafir tersebut?

Jawabannya: Bisa kita lihat sendiri faktanya sekarang, bukan kemajuan yang didapatkan, justru kemunduran dan penjajahan ideologi yang kita rasakan. Sungguh, mereka sangat mirip seperti Amru bin Luhay. Mereka salah bawa oleh-oleh. Inginnya membawa kemajuan, namun justru membawa kemunduran dan kehancuran.

Jangan Belajar pada Serigala tentang Cara Menjadi Domba yang Baik

Jika ada domba yang belajar kepada serigala tentang bagaimana menjadi domba yang baik, mungkin serigala akan mengajari berbagai cara tentang domba yang baik versi mereka, yaitu domba yang tidak melawan ketika diserang dan dimangsa oleh serigala, yang mau menerapkan karakter domba yang memudahkan serigala untuk terus memangsanya dan tidak pernah melawan kepada mereka.

Begitulah ketika seorang Muslim yang menjadikan standar Barat untuk mengukur kualitas keislaman diri mereka, maka yang terjadi adalah mereka akan menjadi umat Muslim yang akan terus bisa dimangsa dengan mudah oleh musuh-musuh Islam.

Jangan belajar dari Barat tentang cara menjadi Muslim yang baik. Tidak usah jauh-jauh ke Boston, Chicago, atau Jerman untuk belajar tentang Islam. Di sana bukan tempatnya. Kalau mau belajar teknologi ke sana, ya bolehlah. Tapi kalau belajar Islam, belajarlah kepada para ulama, bukan kepada para orientalis.

Jangan gunakan standar Barat untuk mengukur keberislaman. Gunakanlah standar Islam yang telah digali oleh para ulama berdasarkan nash-nash yang tersedia.

Sebab itulah, di belakang kata Islam, tidak perlu ditambahkan label apa pun yang berasal dari peradaban selain Islam, semisal Islam moderat, Islam nasionalis, Islam liberal, Islam demokratis, dan lainnya. Islam ya Islam saja.

Semoga Allah jaga kita, anak-anak, keluarga, dan masyarakat kita dari pemahaman-pemahaman kufur yang terbit dari Barat itu. Allahumma aamiin. []

Sumber: Abi Syarbaini/Abay Abu Hamzah

Catatan: Perumpamaan domba dan serigala hanya untuk memudahkan pemahaman saja, tidak ada maksud menyamakan manusia dengan binatang.

About Author

Categories