Bahaya Menyebut al-Qur’an Mirip Bibel Tanpa Menyinggung Perbedaannya

MUSTANIR.net – Untuk mempromosikan lembaga pendidikan Islam yang diiklankanya itu menjunjung tinggi toleransi, seorang Muslim meminta mahasiswi Kristen naik ke panggung tempatnya berdiri. Kemudian mempersilakan mahasiswi tersebut membacakan Bibel. Salah satu dari tiga mahasiswi Kristen yang naik ke panggung pun membacakan Yohanes 3:16,

“Karena begitu besar kasih Allah atas dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal (Isa/Yesus), supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan peroleh hidup yang kekal.”

Tampaknya si Muslim tadi tidak ingin mengangkat perbedaan antara keimanan Islam versus keimanan Kristen. Indikasinya, setelah dirinya membacakan al-Qur’an surah Maryam 30-31, yang disebutnya sebagai surah Maryam 31 (harusnya Maryam 30-31), ia menerjemahkannya seperti ini:

“Tuhan telah mengutus aku untuk menyebar risalah yang terbaik dan membawa berkah bagi siapa pun yang kuajarkan, mirip ya?”

Lalu ketiga mahasiswi Kristen itu pun mengangguk.

Mengapa terjemahannya jadi menyebar risalah yang terbaik bukan hamba Allah dan nabi-Nya? Padahal dalam terjemah resmi Kementerian Agama adalah:

Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi (ayat 30), dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup (ayat 31).”

Mengapa pula menyatakan ayat yang dibacakan si mahasiswi dan yang dibacakan dirinya itu mirip? Kalau pakai terjemah Kemenag tentu saja berbeda, tidak ada miripnya sama sekali tetapi justru secara telak menyanggah Yohanes 3:16.

Dalam Yohanes 3:16, Isa/Yesus disebut sebagai anak Allah. Sedangkan dalam Maryam 30, disebut hamba dan nabi-Nya. Tidak ada miripnya sama sekali. Namun itu merupakan sanggahan yang sangat mendasar bahwa Isa/Yesus bukanlah anak-Nya, melainkan hamba dan nabi-Nya.

Bahaya

Ini menurut penulis, sangat berbahaya. Karena jika tidak memungkinkan menyatakan kebatilan akidah Kristen (yang menjadikan Isa/Yesus sebagai anak Tuhan), janganlah menerjemahkannya menjadi menyebar risalah yang terbaik lalu berkata ayat tentang Isa/Yesus di Bibel itu mirip dengan ayat tentang Isa/ Yesus di al-Qur’an. Sama sekali jangan singgung masalah itu.

Cukup saja katakan, lembaga pendidikan Islam yang diiklankannya itu toleran, buktinya: menerima mahasiswa non-Muslim (dalam kasus ini Kristen). Mereka tidak dipaksa masuk Islam, mereka diperlakukan baik, sebaik memperlakukan mahasiswa Muslim. Sudah begitu saja.

Tidak perlulah meminta mahasiswa Kristen tersebut membacakan ayat dalam Bibel di atas panggung. Lalu dicari-cari persamaannya dengan ayat di dalam al-Qur’an, lalu dibacakanlah ayat al-Qur’annya, lalu diterjemahkan sedemikian rupa, kemudian dikatakan, “Mirip!”

Mencari-cari persamaan dengan menerjemahkan sedemikian rupa dan tanpa menjelaskan perbedaan yang sangat prinsip antara Islam dan Kristen itu sangat berbahaya. Bahayanya akan menimbulkan kesan bahwa Islam dan Kristen itu sama, sama benarnya. Bahkan bisa dianggap Kristen itu sebagai agama yang terbaik di mata non-Muslim maupun di mata Muslim yang masih awam, karena diterjemahkan oleh si Muslim tadi bahwa Isa/Yesus itu menyebar risalah yang terbaik.

Padahal jelas-jelas Islam itu agama yang benar (dengan tegas menyatakan Isa/Yesus itu hamba, nabi dan utusan Allah subḥānahu wa taʿālā, dan bukan anak Tuhan/Allah karena Tuhan/Allah tidak punya anak) sedangkan Kristen salah (karena menganggap Isa/Yesus sebagai anak Tuhan).

Dilihat dari perbedaan tersebut, jelaslah, meskipun ada persamaan (sama-sama membahas Isa/Yesus), tetapi perbedaannya itu sangat prinsip, berada di dalam relung iman yang paling pokok.

Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman dalam al-Qur’an surah al-Ikhlas, yang artinya:

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah yang Maha Esa (ayat 1). Allah tempat meminta segala sesuatu (ayat 2). Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (ayat 3).” []

Sumber: Joko Prasetyo

𝐷𝑖𝑚𝑢𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑑𝑎 𝑟𝑢𝑏𝑟𝑖𝑘 𝐾𝑟𝑖𝑠𝑡𝑜𝑙𝑜𝑔𝑖 𝑡𝑎𝑏𝑙𝑜𝑖𝑑 𝑀𝑒𝑑𝑖𝑎 𝑈𝑚𝑎𝑡 𝑒𝑑𝑖𝑠𝑖 367 (𝑎𝑤𝑎𝑙 𝑂𝑘𝑡𝑜𝑏𝑒𝑟 2024).

About Author

Categories