Munajat Seorang Kepala Keluarga

Munajat Seorang Kepala Keluarga

Mustanir.com – Bermunajat kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang utama yang hendaknya dilakukan oleh setiap hamba Allah tak terkecuali seorang kepala keluarga. Hal demikian karena Allah memerintahkannya dan seorang hamba sangat membutuhkannya, karena sifat lemah yang melekat pada dirinya. Dan, Allah banyak menyebutkan di dalam firmanNya contoh munajat yang dipanjatkan oleh hamba-hambaNya yang shaleh agar kita merenungkan dan mengambil pelajaran darinya. Salah satu contohnya adalah munajat yang dipanjatkan kepadaNya oleh Nabiyullah Ibrahim, seorang kepala keluarga yang sholeh, ia berkata,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ [إبراهيم : 37]

Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur (Qs. Ibrahim : 37)

Pembaca yang budiman,
Ini adalah munajat seorang kepala keluarga yang telah lanjut usianya, Allah mengaruniakan anak kepadanya saat beliau telah lanjut usia. Meski demikian, ia memuji Rabbnya dan menyanjungNya, ia menunjukkan munajatnya kepada Rabbnya perihal keturunannya setelah kematiannya.

Sungguh, usianya telah berlalu dalam masa yang cukup panjang dan tidak tersisa umurnya melainkan hanya sedikit saja yang hanya Allah saja yang mengetahuinya secara pasti. Dengan demikian, siapakah gerangan yang nantinya akan menjaga mereka setelah kematiannya selain Allah ?!, sungguh Allah adalah sebaik-baik penjaga dan sebaik-baik Dzat untuk menyandarkan masalah.

Urusan keluarga Nabiyullah Ibrahim di Makkah menyibukkan pikirannya. Karena, tempat tersebut adalah tempat yang tak ditumbuhi tanaman dan tidak pula nyaman kondisinya, maka bagaimana mereka menjalani kehidupannya nantinya. Maka, ia pun menyodorkan permasalahan tersebut kepada rabbnya dengan gaya bahasa yang lembut. Ia berkata,

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

“Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati”. Yakni, di lembah yang tak layak untuk ditanami tanaman karena lembah tersebut merupakan areal bebatuan.

Sungguh, Ibrahim mengkhawatirkan keluarganya akan binasa karena demikian itu kondisi tempat mereka. Namun, dia kemudian menjelaskan sebab kenapa dirinya menempatkan keluarganya di tempat tersebut, di dekat Baitullah yang dihormati, seraya berkata,

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat”.

Ini adalah perhatian yang sangat penting dari seorang kepala keluarga terkait penempatan keluarganya. Hendaknya, ia tidak hanya memperhatikan soal kebutuhan fisik belaka dan kelezatan hidup secara materil, seperti ; tempat yang indah, nyaman lagi asri, menyejukkan pandangan mata dan menyamankan perasaan jiwa mana kala memandangnya, dengan mengesampingkan aspek kebutuhan ruhani. Bahkan, yang semestinya dilakukan adalah mendahulukan kebutuhan ruhani dan sesuatu yang diharapkan akan membantu terwujudnya kebaikan pada diri keluarga dan anak-anaknya. Karena, tempat memiliki peran yang strategis dalam proses pendidikan.

Dan, Ibrahim pun seorang ayah yang penyayang, tidak melupakan perkara yang sangat boleh jadi bisa menjadikan seseorang merasa terasing dalam kehidupan karena berada dalam kesendirian, kesepian dan tekanan hidup yang menyempitkan dada. Oleh karenanya, ia memohon kepada rabbnya seraya mengatakan,

فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ

“Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka “.

Dan ini mengisyaratkan bahwa menyendiri (tidak bergaul) dan jauh dari khalayak bukan perkara yang menyenangkan. Sungguh betapa banyak aktivitas ibadah dalam ajaran Islam tidak dapat terwujud melainkan harus membaur di tengah-tengah khalayak dan hidup bersama mereka.

Di sini, Ibrahim menyebutkan,” hati”, ia berkata, “أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ “ (hati sebagian manusia), ia tidak mengatakan, “ maka jadikanlah sebagian manusia”. Hal demikian itu karena hati bila cenderung kepada suatu tempat niscaya ia terikat dengan tempat tersebut. Ibrahim menginginkan banyak orang tinggal dan hidup di tempat ini agar mereka memakmurkannya, ia tidak menginginkan agar mereka sekedar lewat, singgah lalu pergi meninggalkannya.

Begitu juga Ibrahim sang ayah yang penyayang ini tidak melupakan untuk keluarganya perkara yang akan menjadi sarana berlangsungnya kehidupan keluarganya, maka Ibrahim berdoa kepada Allah untuk mereka seraya mengatakan,

وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur “.

Dalam ungkapan ini terdapat beberapa petunjuk dan kelembutan, di antaranya,

a. Di dalamnya terdapat isyarat bahwa perhatian seorang kepala keluarga terkait masalah penghidupan untuk keluarganya merupakan hal yang sangat penting. Hal ini sama sekali tidak menjadikan seseorang tercela, bahkan seorang kepala keluarga bertanggungjawab akan hal tersebut. Dan, tidaklah selayaknya seorang kepala keluarga mempersulit urusan penghidupan orang-orang yang dibawah tanggung jawabnya. Hendaknya ia justru berusaha keras sekuat tenaga untuk mengais rizki yang halal dengan cara yang halal pula. Dan, setelah mendapatkanya, ia tidak bakhil untuk memberikannya kepada keluarganya.

b. Di dalamnya juga pada penyebutan, “buah-buahan” mengisyaratkan bahwasanya tersedianya buah-buhan termasuk bentuk keamanan dalam bidang pangan. Boleh jadi pula hal tersebut mengisyaratkan adanya harapan akan adanya cocok tanam tanaman-tanaman yang cocok untuk di tanam di daerah yang dekat dengan kota Makkah. Atau, bisa jadi pula terisyaratkan sebuah harapan agar buah-buahan dari segenap penjuru dunia yang cukup jauh jaraknya berdatangan ke daerah tersebut. Hal ini diperkuat dengan berita yang Allah sampaikan dalam firmanNya,

يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezki (bagimu) dari sisi Kami?. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Qs. Al-Qashash : 57)

Abu Sa’ud mengatakan, hal ini telah terwujud sampai-sampai terdapat di daerah tersebut buah-buahan musim semi, buah-buahan musim panas, dan buah-buahan musim gugur dalam satu waktu (Tafsir Abu Sa’ud, 4/42)

c. Di dalamnya juga terdapat isyarat akan pentingnya pendidikan bagi keluarga untuk mensyukuri nikmat yang Allah karuniakan. Ibrahim berkata, “ mudah-mudahan mereka bersyukur”. Maka, tidaklah cukup diperolehnya nikmat, namun seharusnya seseorang mengusahakan agar kenikmatan yang telah diperolehnya tersebut tetap ada bahkan bertambah. Dan, salah satu caranya adalah dengan mensyukurinya, sebagaimana Allah menegaskan dalam firmanNya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Qs. Ibrahim : 7)

Pembaca yang budiman,
sungguh munajat seperti ini merupakan pola pendidikan dan pengajaran yang sangat penting yang kita ambil melalui kisah para Nabi yang mulia bersama anak-anak mereka, dan sangat boleh jadi kita tidak akan mendapati contoh yang lebih lembut, tidak pula lebih agung daripada kisah-kisah mereka.

Saudaraku, wahai orang-orang yang beriman inilah sebagian petunjuk munajat yang dipanjatkan seorang kepala keluarga yang shaleh, maka tak ada sesuatu yang lebih indah daripada meneladaninya, hendaklah kita memperhatikan adab-adabnya, dan hendaknya pula kita memiliki semangat dan harapan yang tinggi dalam bermunajat kepadaNya Dzat yang Maha mengabulkan permohonan hamba yang bermunajat kepadaNya. Wallahu a’lam (Redaksi)

Sumber :
Munaajaa-tu Nabiyyiin, Dr.‘Uwaidh al-‘Athowi, Kepala Bagian Urusan Penelitian Ilmiah di Tabuk University, dengan gubahan.

Categories