Negara Lakukan Standar Ganda dalam kasus Aceh Singkil

Gereja-di-Aceh-Singkil1-627x284

Negara Lakukan Standar Ganda dalam kasus Aceh Singkil

Mustanir.com – Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai ada perbedaan perlakuan yang ditunjukkan pemerintah dalam menghadapi dua kasus keagamaan, yakni kasus Tolikara dan Kasus Aceh Singkil.

Menurut Abu Ulya, porsi perhatian dan sikap pemerintah sangat terasa tidak adil dan proporsional. Dalam kasus Aceh Singkil, ia melihat Presiden Jokowi begitu cepat merespon bahkan meminta kepada Kapolri dan Menkopolhukam untuk  segera menangani.

Bahkan Kapolri menyimpulkan bahwa bentrokan yang terjadi di Aceh Singkil itu direncanakan. Berbanding terbalik ketika dihadapkan kepada kasus pembakaran masjid di Tolikara, Papua pada 17 Juli lalu.

“Seolah pemerintah bahkan Pak Presiden gagap untuk menyikapi. Banyak retorika yang esensinya mengaburkan masalah sebenarnya,” ungkap Abu Ulya, Rabu (14/10).

Menurut Abu Ulya, sikap kemarahan di Aceh Singkil bisa jadi karena dipicu lambannya Pemda menyelesaikan kasus gereja yang tidak punya legal formal pendiriannya. Atau karena faktor minoritas yang tidak menghormati dan menghargai religiusitas setempat.

“Kondisi tersebut terakumulasi hingga menemukan momentum untuk mengekspresikan kemarahan yang terpendam,” pungkasnya.

Kasus Tolikara dan Aceh Singkil bukan Kebetulan

Ketua DPP Front Pembela Islam (FPI) Munarman mencurigai ada target tertentu dalam kasus pembakaran gereja di Aceh Singkil, Aceh, Selasa (13/10) kemarin. Ia menduga ada pihak-pihak tertentu yang berupaya memancing emosi umat Islam dengan sentuhan isu-isu agama.

“Dari sudut pandang intelejen, peristiwa kekerasan yang muncul pada perayaan hari besar keagamaan jelas punya makna dan target tertentu. Tampaknya ada pihak yang ingin memancing emosi umat Islam karena peristiwa kekerasan di hari raya keagamaan oleh masyarakat awam bisa langsung diasosiasikan dengan simbol agama. Cara ini ampuh, terutama ketika ada pihak yang ingin melakukan mobilisasi massa,” kata Munarman, Rabu (14/10), seperti dikutip Republika Online. 

Menurut dia, beberapa informasi dan data yang dikumpulkan dari ‘pihak luar’ atau asing, Indonesia di tahun 2015 memang berusaha diletupkan berbagai tindakan kekerasan. Isunya adalah dengan meledakan konflik berbasis agama, adat, dan soal kedaerahan lainnya. Dalam hal ini wilayah yang diduga akan dijadika target adalah Aceh, Papua, Kalimantan, Ambon, serta Bali.

“Lima wilayah itu akan dijadikan ‘pemicu’ ledakan konflik kekerasan sosial. Jadi data Mapping Global Future tahun 2015 yang saya baca itulah memang ada kesesuaian antara munculnya berbagai peristiwa yang belakangan terjadi. Ingat kasus pembakaran masjid di Tolikara Papua terjadi pada Idul Fitri. Sedangkan kasus di Aceh Singkil terjadi pada perayaan tahun baru hijrah. Saya kira tak ada yang kebetulan,” ujarnya.

Atas munculnya peristiwa, Munarman menyatakan umat Islam waspada. Apalagi kini tampak sekali ada suasana yang ingin membenturkan posisi antarkelompok masyarakat, adat, dan agama. (si/adj)

Categories