Zionis Berupaya Menutup Opini Dunia tentang Gaza

MUSTANIR.net – Pemerintah Zionis mendanai kampanye propaganda melalui para influencer di platform media sosial. Mereka masing-masing menerima sekitar 7.000 dolar AS atau sekitar 116 juta rupiah untuk setiap unggahan yang mempromosikan narasi Zionis.

Dalam operasi yang digencarkan di media sosial, Zionis makin mengintensifkan upaya-upaya untuk mendominasi ruang informasi melalui jaringan influencer berbayar, manipulasi algoritma, content framing melibatkan AI, dan kemitraan media secara rahasia atau diam-diam. Praktik itu terungkap dari dokumen yang diajukan berdasarkan Undang-undang Pendaftaran Agen Asing Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan bagaimana kampanye Zionis secara luas dirancang untuk mendistorsi wacana publik, terutama di kalangan muda, dan menangkis tuduhan genosida yang makin meningkat.

Perdana Menteri Netanyahu sendiri secara terbuka mengakui pentingnya perang informasi dalam mempertahankan citra Zionis di mata dunia. Ia menilai para influencer memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik internasional yang lebih simpatik terhadap Zionis.

Di dalam negeri sejumlah perusahaan yang terafiliasi dengan Zionis Yahudi menggunakan berbagai strategi untuk melemahkan gerakan boikot yang meluas di Indonesia. Mereka mendekati para ulama, tokoh masyarakat, dan komunitas muslim dengan berbagai cara agar produk mereka tidak lagi menjadi sasaran boikot.

Salah satu cara yang mereka tempuh adalah memberi donasi untuk Palestina. Selain itu, mereka aktif menjadi sponsor dalam berbagai kegiatan keagamaan, terutama pada hari-hari besar umat Islam.

Cara Licik Membungkam Kebenaran

Upaya pemerintah Zionis untuk mendominasi ruang informasi ini dilakukan saat opini publik global meluas secara tajam dalam menentang perang yang dikobarkan Zionis di Jalur Gaza, dan genosida yang telah dilakukannya. Bukan kali ini saja pemerintah Zionis berupaya mengendalikan opini dunia untuk menutupi kebrutalannya. Akhir Agustus lalu Zionis membunuh para jurnalis yang bekerja untuk kantor berita internasional seperti Associated Press, Reuters, al-Jazeera, dan Middle East Eye. Pembunuhan para jurnalis itu ditujukan agar kebiadaban Zionis tidak terpublikasikan.

Sebelumnya Zionis Yahudi berupaya mengendalikan berita tentang kebrutalannya melalui propaganda yang dikenal dengan ‘Hasbara’, istilah yang merujuk pada propaganda Zionis dalam mengendalikan narasi seputar genosida Gaza. Zionis telah menganggarkan dana sebesar US$ 150 juta (sekitar Rp 2,4 triliun) untuk anggaran propaganda 2025 sebagai upaya membentuk opini global atas genosida Gaza.

Fenomena dibayarnya para influencer dunia untuk menyebarkan narasi pro Zionis, pembunuhan jurnalis, dan propaganda ‘Hasbara’ menunjukkan betapa Zionis sangat takut bila kejahatannya terungkap. Mereka menyadari bahwa dukungan publik global terhadap Palestina makin menguat, terutama setelah berbagai kekejaman mereka terekspos di media sosial.

Zionis Yahudi lalu berusaha mengendalikan opini publik dengan cara yang licik, yakni membayar para pesohor digital agar dunia berpihak pada narasi palsu yang mereka bangun. Mereka tidak segan mengeluarkan dana besar untuk mencapai tujuan itu.

Wajah Asli Kapitalisme

Fakta di atas memperlihatkan wajah asli sistem kapitalisme di mana opini publik dapat dibeli oleh siapa pun yang memiliki uang. Dalam sistem ini, media dan influencer tidak lagi menjadi corong kebenaran, melainkan alat propaganda yang tunduk pada kepentingan finansial.

Akibatnya, media kian jauh dari independensi, hakikat, dan integritasnya sebagai penyampai berita, informasi, dan kebenaran. Sebaliknya, media justru menjadi instrumen penyesatan, bahkan menyembunyikan kebenaran.

Sistem kapitalisme menjadikan manfaat sebagai satu-satunya perkara yang menentukan nilai perbuatan. Tolok ukur ini membuat masyarakat berubah menjadi sekumpulan manusia yang mengejar manfaat tanpa merasa terikat dengan nilai apa pun.

Dua tahun serangan Zionis di Gaza telah menewaskan sedikitnya 67.000 warga Palestina, 20.000 di antaranya adalah anak-anak. Tidak berhenti pada korban jiwa, lebih dari 169.000 orang terluka, dan 4.000 anak kehilangan satu atau lebih anggota tubuhnya. Ratusan rumah sakit hancur total, kelaparan dan malnutrisi meluas, sedangkan lokasi distribusi bantuan menjadi ladang pembantaian. Semua fakta ini tidak bisa menumbuhkan rasa kemanusiaan pada Zionis. Kapitalisme telah mengubah manusia menjadi iblis. Nilai moral dan kemanusiaan telah hilang dikalahkan oleh transaksi yang menghasilkan cuan.

Ironis, praktik semacam ini justru mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, negara yang kerap mengklaim diri sebagai pembela demokrasi dan hak asasi manusia. Amerika Serikat bukan hanya menjadi sponsor utama Zionis dalam bentuk dana dan senjata, tetapi juga memberikan dukungan politik tanpa batas di berbagai forum internasional.

Yang lebih menyedihkan, para penguasa Arab dan negeri-negeri muslim justru memilih diam, bahkan mendukung kebijakan Amerika. Mereka mengandalkan Trump dalam menyelesaikan masalah Palestina. Emir Qatar misalnya, dalam sebuah pertemuan dengan Trump di sela-sela Sidang Umum PBB akhir bulan lalu dengan jelas mengatakan bahwa ia mengandalkan Trump dalam menyelesaikan masalah Palestina. Pernyataan Emir Qatar ini diamini oleh pemimpin-pemimpin negeri muslim yang hadir pada acara itu. Mereka melakukan semua itu demi menjaga takhta serta hubungan politik dan ekonomi mereka dengan Barat.

Semua ini menegaskan bahwa persoalan Palestina bukan sekadar konflik wilayah, melainkan benturan antara kebenaran dan kebatilan, antara keberanian menegakkan prinsip Islam dengan ketundukan terhadap sistem kapitalisme global yang dikuasai oleh kekuatan Zionis dan sekutunya.

Urgen Membangun Sistem yang Melindungi Kebenaran

Kenyataan di atas menunjukkan betapa umat membutuhkan sistem yang mampu melindungi kebenaran dari manipulasi dan kebohongan musuh. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam. Dalam pandangan Islam, opini publik bukanlah komoditas yang bisa dibeli atau dikendalikan oleh kekuatan uang, melainkan amanah besar yang harus dijaga agar senantiasa berpihak pada kebenaran.

Allah ﷻ mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS al-Hujurat [49]: 6)

Ayat di atas menggambarkan bahwa orang fasik adalah orang yang harus diwaspadai ketika dirinya membawa berita. Pada titik ini, kita bisa menyimpulkan bahwa urgensi peran media adalah menyampaikan kebenaran.

Dalam sistem Islam, yakni khilafah, media dan para influencer tidak diarahkan untuk kepentingan ekonomi semata, melainkan untuk menyeru kepada kebenaran. Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya dan jika tidak mampu maka dengan hatinya dan itu selemah-lemahnya iman.” Hadis ini menegaskan bahwa menyuarakan kebenaran dan melawan kebatilan adalah kewajiban setiap muslim, termasuk melalui media dan ruang publik.

Dalam negara khilafah, opini publik dibangun berdasarkan akidah Islam sehingga setiap pemberitaan, narasi, dan konten, diarahkan untuk memperkuat kesadaran umat terhadap hakikat perjuangan, menjelaskan makar musuh, dan menyeru pada persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam.

Khilafah memosisikan media semata-mata sebagai sarana penerangan dan penyiaran konten-konten Islam sehingga layak untuk mencerdaskan umat. Meski khilafah membolehkan individu/swasta memiliki perusahaan media, khilafah akan mengeluarkan UU yang menjelaskan garis-garis umum politik negara dalam mengatur informasi sesuai ketentuan syariat. Hal ini adalah wujud kewajiban khilafah dalam melayani kemaslahatan Islam dan kaum Muslim.

Dengan begitu, media tidak akan seenaknya memuat beragam kepentingan tertentu. Individu pemilik lembaga media informasi harus bertanggung jawab atas semua konten media yang disebarkannya, termasuk jika ada bentuk penyimpangan terhadap syariat ketika media miliknya memuat konten-konten yang diharamkan Islam.

Dakwah Ideologis

Melawan narasi batil, yang berasal dari Zionis atau yang lain, bukan sekadar soal informasi, tetapi bagian dari perang pemikiran untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebohongan penjajah. Di bawah satu kepemimpinan global yakni daulah khilafah, opini publik dapat kembali diarahkan pada kebenaran hakiki. Di sinilah urgensinya umat melakukan dakwah ideologis untuk menegakkan kepemimpinan global itu.

Penegakan khilafah ini membutuhkan konsolidasi dan peran semua pihak yang sudah memahami untuk melibatkan diri melakukan gerakan perubahan pemikiran global. Tidak ada pilihan bagi umat selain terus menggelorakan pembelaan terhadap Gaza dengan mewujudkan khilafah sampai janji Allah terwujud.

Inilah janji Allah yang senantiasa kita nantikan,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS an-Nur [24]: 55)

Khilafah yang akan memimpin pembebasan Palestina dengan mengerahkan tentara beserta segala kekuatan yang dimilikinya. Ini sebagaimana yang sudah dilakukan oleh para pendahulu mereka Khalifah Umar bin Khaththab dan Sultan Salahuddin al-Ayyubi.

Umat Islam harus berjuang dengan sungguh-sungguh, tekun, jujur, ikhlas dalam memperjuangkan tegaknya khilafah hingga Allah menurunkan malaikat untuk membantu perjuangan ini. Dengan itu, Allah akan menganugerahkan kita kemenangan dan kejayaan di dunia dan akhirat, dan itulah kemenangan yang agung.

“Dan pada hari itu orang-orang yang beriman akan bergembira atas kemenangan yang dikehendaki Allah. Dia memberikan kemenangan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sebab Dialah yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang.” (QS ar-Rum [30]: 4—5) []

Sumber: M News

About Author

Categories