Pasca Brexit Kekerasan Terhadap Muslim Meningkat

rsz_pasca_brexit_kekerasan_terhadap_muslim_meningkat

Pasca Brexit Kekerasan Terhadap Muslim Meningkat

Mustanir.com – Muslim Inggris mulai merasakan ketakutan pascakeputusan referendum British Exit. Seperti dikutip Independent pada Senin (27/6), komunitas Muslim bisa menerima perlakukan kebencian lebih parah dari biasanya.

Disebutkan banyak perempuan Muslim yang kini takut beraktivitas sehari-hari. Pasalnya, laporan terbaru menunjukan adanya kemungkinan peningkatan isu rasial usai hasil Brexit.

Survei tahunan oleh kelompok monitor kebencian dan anti-Muslim, Tell MAMA menunjukan peningkatan insiden melawan Muslim mencapai 326 persen tahun lalu. Sementara kelompok Dewan Muslim Inggris mengatakan ada sekitar 100 aksi berlatar kebencian per pekannya.

Para pemimpin politik, David Cameron dan Jeremy Corbyn telah menyuarakan kekhawatiran di dewan pada Senin. Sementara perwakilan Partai Buruh, Harriet Harman mengatakan kini tanda-tanda musim rasial mulai terbuka.

Menurut National Police Chiefs Council, serangan verbal pada kelompok minoritas meningkat 57 persen dalam beberapa hari terakhir. Tell MAMA menyangkal peningkatan ini karena referendum Brexit.

Menurut mereka, hal ini dipicu oleh insiden terorisme. Survei menemukan aktivis kanan jauh seringkali berada di balik insiden penyerangan di daring. Banyak kasus berlanjut di kehidupan nyata.

Aksi kebencian ini biasanya terjadi di sekolah, kampus, restoran hingga transportasi publik. Total jumlah kasus pada 2015 tercatat 437 insiden. Tahun sebelumnya, tercatat 146 kasus. Sebagian besar terjadi pada perempuan Muslim karena mereka lebih terlihat.

Pemimpin Tell MAMA, Shahid Malik mengatakan angka statistik mengindikasikan ledakan anti-Muslim baik di daring maupun di jalanan. Pertumbuhan eksponensial ini adalah fakta bahwa upaya memerangi kebencian masih gagal.

“Dengan latar Brexit dan peningkatan insiden rasial, pemerintah harus melakukan sesuatu dengan cepat untuk para minoritas,” kata dia. Penduduk membutuhkan pemerintah, partai politik dan media untuk menanggung tanggung jawab atas xenofobia ini.

Laporan menyebut 61 persen dari korban aksi kebencian adalah perempuan. Sebanyak 75 persen sangat mudah dikenali sebagai Muslim. Tell MAMA mengatakan perempuan sering kali jadi sasaran empuk ketika sedang bepergian di transportasi umum, pusat kota hingga pusat perbelanjaan.

Sekitar 11 persen terjadi di sekolah atau kampus. Sebanyak 35 kasus terkait serangan fisik. Pada Senin di Commons, Cameron menggambarkan insiden rasial terkait migran dan hasil referendum sangat tercela. Walikota London, Sadiq Khan meminta penduduk untuk waspada tinggi.

Sementara, Sekretaris Jenderal Muslim Council of Britain, Shuja Shafi menyatakan kekhawatiran bahwa krisis politik akibat Brexit akan mengancam kedamaian sosial. “Saya menyeru semua politisi untuk bersama dan menyembuhkan hasil kampanye ini,” kata dia.

Inggris telah menyaksikan dampak perpanjangan dari referendum. Dimana laporan aksi dan celaan kebencian terhadap minoritas jadi semakin sering terjadi. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Tanpa ada Brexit, sesungguhnya rakyat Eropa, termasuk Inggris memiliki ketakutan berlebih kepada Islam dan pemeluknya. Mereka korban dari media massa Sekuler-Liberal yang telah mendiskreditkan Islam di berbagai kesempatan. Akhirnya Islam digambarkan seolah agama yang mengerikan.

Meningkatnya kekerasan yang terjadi di Inggris terhadap kaum muslimin adalah salah satu bukti bahwa kaum muslimin butuh pelindung mereka. Sebuah institusi yang akan melindungi darah dan harta mereka, yakni Daulah Islam, atau Khilafah.

Categories