Pelajaran dari Kisah Adam dan Iblis Laknatullah

Pelajaran dari Kisah Adam dan Iblis Laknatullah

Tatkala Allah menyempurnakan nikmatNya kepada Adam berupa diciptakannya Hawa sebagai pasangan hidupnya, agar Adam merasa tentram kepadanya, Allah benar-benar memperingatkan keduanya akan bahaya godaan syaitan, peringatan tersebut dimaksudkan agar syaitan tidak menjadi sebab keluarnya keduanya dari Surga.

Allah membolehkan keduanya untuk mengonsumsi segala macam buah-buahan yang ada di dalamnya kecuali buah dari pohon tertentu yang Allah haramkan bagi keduanya, Dia berfirman, (artinya), “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-A’rof : 19)

Dan,Allah berkata kepada Adam (artinya), Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang, dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya”. (Qs. Thaahaa : 118-119)

Maka Adam dan istrinya Hawa tinggal di Surga sampai masa yang dikehendaki Allah. Sementara musuh mereka yakni : syaitan senantiasa memantau dan mengawasi mereka, ia mencari kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksinya memperdaya Adam dan Hawa. Maka, tatkala syaitan melihat kegembiraan Adam dengan Surga yang tengah didiaminya dan keinginannya sedemikian besar untuk tetap tinggal di dalamnya, datanglah syaitan kepada Adam seakan ia sebagai seorang teman yang baik yang menginginkan kebaikan bagi Adam, seraya mengatakan,(artinya) “Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu Syajarotul Khuldi (pohon kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” (Qs. Thaahaa : 120).

Syaitan terus saja berupaya menghembuskan pikiran jahat dan menghiasinya sehingga terkesan sebagai nasehat berharga padahal sesungguhnya merupakan bualan beracun yang membinasakan. Namun, akhirnya Adam terpedaya, ia dan istrinya pun mengonsumsi bagian dari pohon yang dilarang oleh Allah. Maka, tatkala Adam dan istrinya mengonsumsinya tampaklah aurat keduanya setelah sebelumnya tertutup. Mulailah keduanya menutupi badannya yang telanjang tersebut dengan daun-daun Surga, sebagai ganti pakaiannya yang telah terlepas. Allah menyeru keduanya, (artinya),“Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?”(Qs. Al-A’rof : 22).

Lalu Allah memberikan ilham kepada hati Adam dan Hawa untuk bertaubat secara sempurna, benar-benar kembali kepadaNya, (artinya), Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Qs. Al-Baqoroh : 37)
Dan keduanya berdoa,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. (Qs. Al-A’rof : 23)

Maka, Allah pun menerima taubat keduanya, akan tetapi perkara yang telah Allah wanti-wanti kepada keduanya- yaitu, keluar dari Surga bila mana keduanya melanggar laranganNya tetap diberlakukan dan telah menjadi ketetapan. Maka keduanya pun keluar dari Surga, turun ke dunia, dan Allah mengabarkan kepada keduanya bahwa keduanya dan anak keturunannya harus mendapatkan cobaan, dan bahwa siapa saja yang beriman dan beramal sholeh niscaya akibat yang akan didapatkannya adalah lebih baik daripada keadaannya semasa hidup di dunia, dan siapa saja yang mendustakan kebenaran serta berpaling darinya maka akhir nasibnya adalah kesengsaraan abadi dan mendapatkan siksa yang tiada berkesudahan. Dan, Allah mewanti-wanti hal tersebut kepada anak keturunan Adam.

Allah memberikan ganti pakaian itu-pakaian yang syaithan telah melucutinya dari badan Adam dan Hawa- kepada mereka dengan dua pakaian ; (yaitu) pakaian yang berfungsi untuk menutupi aurat, dengannya pula diperoleh keindahan yang tampak dalam kehidupan seseorang, dan pakaian yang lebih tinggi nilainya daripada pakaian yang berfungsi untuk menutup aurat, yaitu pakaian ketakwaan yang mana ia adalah pakaian hati dan ruh berupa iman, keikhlasan, kembali kepada Allah, menghiasi diri dengan segala bentuk akhlak yang mulia, menanggalkan segala bentuk akhlak yang hina.
Kisah yang agung ini-wahai orang-orang yang beriman- disebutkan dalam beberapa tempat yang cukup banyak di dalam al-Qur’an. Kisah ini mengandung banyak pelajaran yang sangat berharga, di antaranya :

1.Bahwa Allah menjadikan kisah ini sebagai pelajaran bagi kita yang hendaknya kita mengambil pelajaran darinya, dan bahwa hasad, sombong, serakah merupakan akhlak yang sangat membahayakan seorang hamba. Maka, kesombongan iblis dan sifat hasadnya terhadap Adam menjadikan dirinya seperti yang Anda ketahui (yakni : terkutuk, dilaknat oleh Allah dan dikeluarkan dari tempat yang penuh dengan kenikmatan).

Allah berfirman:

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”.

Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah”.

Allah berfirman: “Kalau begitu keluarlah kamu dari surga ! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.
Dan, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. (Qs. Shaad : 75-78)

Adapun keserakahan Adam dan istrinya mendorongnya untuk mengonsumsi sesuatu yang terlarang baginya. Kalaulah saja keduanya tidak mendapatkan rahmat Allah niscaya keduanya binasa, akan tetapi rahmat Allah menyempurnakan orang yang memiliki kekurangan, menambal sesuatu yang pecah, menyelamatkan orang yang binasa dan mengangkat kembali orang yang terjatuh.

2.Hendaknya seorang hamba segera bartaubat kepada Allah bilamana terjerumus ke dalam perbuatan dosa, menyesali perbuatan dosanya tersebut, dan mengucapkan seperti halnya yang diucapkan oleh Adam dan Hawa dari lubuk hatinya yang murni, hendaknya ia benar-benar kembali kepada Allah. Maka, tidaklah Allah mengisahkan pertaubatan Adam dan Hawa melainkan agar kita meneladaninya, sehingga kita akan beruntung dengan memperoleh kebahagiaan, selamat dari kebinasaan. Dan, demikian pula halnya, tidaklah Allah mengabarkan kepada kita tentang apa yang dikatakan syaithan berupa janji dan keinginan kerasnya untuk menggoda dan menyesatkan kita dengan berbagai jalannya malainkan agar kita mempersiapkan diri untuk menghadapi si musuh yang telah menampakkan permusuhannya yang demikian luar biasa.

Allah menyukai kita untuk menghadapinya dengan segala sesuatu yang mampu kita usahakan, seperti dengan cara menjauihi jalan-jalan dan langkah-langkah syaithan, menjauhkan diri dari melakukan sebab-sebab yang dikhawatirkan akan menjerembabkan kita ke dalam perangkapnya, melakukan perkara-perkara yang diharapkan hal tersebut dapat melindungi kita dari tipu dayanya, seperti; membaca wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang valid dari Nabi , membaca doa-doa mohon perlindungan yang bermacam-macam. Dan, mempersenjatai diri dengan senjata yang ampuh yang dapat melumpuhkan godaan syaitan, di antaranya yaitu, keimanan yang benar, tawakkal yang kuat kepada Allah, menyibukkan diri dengan amal yang baik, segera mematahkan bisikan-bisikan jahat dan pemikiran-pemikiran yang nista yang dihembuskan syaithan setiap saat ke dalam hati, memusnahkannya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat.

Pembaca yang budiman, itulah pelajaran dari kisah Adam dan Iblis لعنة الله عليه yang ingin penulis sebutkan. Semoga bermanfaat. Aamiin

Menutup tulisan ini, marilah kita selalu waspada terhadap tipu daya Iblis dan bala tentaranya, dengan selalu berusaha mengamalkan pesan Rabb kita Allah Azza wa Jalla dalam kitabNya,

يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ [الأعراف : 27][/r

Wahai anak cucu Adam ! janganlah sampai kamu tertipu oleh syaitan sebagaimana halnya dia (syaitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari Surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaithan-syaithan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (Qs. al-A’raf : 27)

Ya, Allah, hanya kepadaMulah kami memohon, lindungilah kami, keluarga kami, orang tua kami, pemimpin-pemimpin kami, dan saudara-saudara kami-kaum muslimin seluruhnya dari (godaan) syaitan yang terkutuk. Aamiin

Wallahu a’lam(Redaksi)

Sumber :
Min Fawa-id Qishshoti Adam Wa Iblis “ dalam buku,” Tsalatsuuna Majlisan Fii at Tadabbur Majalisu ‘ilmiyyatun wa Imaniyyatun, Vol. 2, hal. 37-40, Cet.I, Lajnah Ilmiah Markaz Tadabbur, Penerbit : Daar al-Hadhoroh Linnasyr Wa at Tauzi’, Riyadh, dengan gubahan.

Categories