Pengakuan terhadap Israel adalah Pengkhianatan terhadap Palestina dan Islam

MUSTANIR.net – Di tengah duka panjang yang belum kunjung berakhir di Gaza—di mana anak-anak syahid di pelukan ibunya, rumah-rumah luluh lantak dihujani rudal, dan para ayah menggendong jenazah putrinya dengan tangis tertahan—sebuah pernyataan dari pemimpin negeri mayoritas Muslim ini sungguh mencabik-cabik hati.

“Indonesia siap mengakui Israel sebagai negara yang berdaulat, asalkan Israel juga mengakui Palestina.”

Sebuah kalimat yang terdengar seperti diplomasi, namun sejatinya adalah pengkhianatan. Seolah membela Palestina, padahal dengan terang-terangan menusukkan belati ke punggung saudaranya sendiri.

Bagaimana mungkin kita bicara soal resiprokal dengan entitas penjajah? Sejak kapan penjajah diberikan hak untuk menduduki tanah yang tidak pernah menjadi miliknya? Bahkan, seandainya Palestina diakui pun, apakah itu membuat darah 40 ribu lebih syuhada Gaza terbayar? Apakah pengakuan itu dapat mengembalikan Masjidil Aqsha ke tangan umat?

Pernyataan ini menyakitkan bukan hanya bagi rakyat Gaza, tapi bagi seluruh umat Islam yang masih memiliki iman dan rasa peduli terhadap tanah yang diberkahi. Tanah Palestina bukan sekadar konflik geopolitik—ia adalah tanah wakaf umat Islam. Sejengkal pun tak boleh diserahkan kepada kafir penjajah, apalagi dilegalkan dengan pengakuan kenegaraan.

Beginilah watak penguasa sekuler nasionalis. Mereka memandang konflik Palestina dengan kaca mata politik semata, tanpa ruh keimanan, tanpa pandangan historis kaum Muslim. Mereka lupa bahwa Palestina adalah amanah, bukan isu diplomatik.

Berbeda dengan para pemimpin Islam terdahulu. Lihatlah Shalahuddin al-Ayyubi. Ia tidak sibuk mencari titik tengah atau solusi dua negara. Ia justru berjuang seumur hidupnya untuk membebaskan al-Quds dari cengkeraman Salibis. Ketika berhasil membebaskan Yerusalem pada 1187 M, ia tidak membalas dengan kebiadaban. Ia hormati hak-hak non-Muslim, namun tidak pernah ia izinkan penjajah menginjakkan kaki sebagai pemilik tanah itu.

Begitu pula Sultan Abdul Hamid II, Khalifah terakhir yang memiliki kekuasaan penuh atas Palestina. Ketika Theodor Herzl datang menawarkan emas berton-ton untuk membeli tanah Palestina, sang Khalifah menjawab dengan tegas:

“Aku tidak akan menjual satu inci pun dari tanah ini, karena ia bukan milikku melainkan milik umat Islam.”

Itulah kalimat seorang pemimpin sejati. Ia tak butuh validasi negara lain, apalagi pengakuan dunia Barat. Ia tahu bahwa tanah Palestina adalah bagian dari Islam, dan penjagaannya adalah bagian dari keimanan.

Saat dunia Islam hari ini berada dalam kondisi terpecah, dan umat disuguhi ilusi perdamaian melalui kompromi busuk, kita harus terus menyuarakan: Tidak ada pengakuan terhadap penjajah! Tidak ada Palestina berdampingan dengan Israel, karena Israel tidak pernah punya hak atas tanah itu!

Kita tidak diam. Kita menolak dengan keras segala bentuk normalisasi dan pengkhianatan terhadap Palestina. Dan kita menanti—dengan keyakinan penuh—datangnya kembali kepemimpinan Islam sejati, yang akan menyatukan barisan kaum Muslim dan membebaskan Palestina dengan izzah dan kekuatan.

Wahai kaum Muslim, sesungguhnya tanah suci itu menunggu pembebasan, bukan perundingan! []

Sumber: Studi Islam

About Author

Categories