crystalbridges.org

Peradaban Berubah, Nilai-nilai Harus Berubah?

MUSTANIR.net – Kalau dikatakan bahwa peradaban manusia terus berkembang sehingga nilai-nilai harus disesuaikan dengan perkembangan tersebut, maka pertanyaannya adalah, apa yang sesungguhnya berkembang?

Kebutuhan manusia itu tidak pernah lebih daripada dua hal: hajatul ‘udhawiyyah, yang kalau tidak dipenuhi dapat menyebabkan kematian, dan gharizah, yang kalau tidak terpenuhi tidak sampai menyebabkan kematian tetapi dapat menimbulkan kegelisahan dan ketidaknyamanan. Tidak pernah keluar dari itu.

Semua perkembangan dalam peradaban manusia tidak pernah lebih daripada sarana pemenuhan kedua hal tersebut. Kalau dulu pemenuhan makan (sebagai hajatul ‘udhawiyyah) cukup dengan cara-cara sederhana, yang penting bisa makan, sekarang diolah dengan cara dan bumbu macam-macam supaya lebih memanjakan lidah.

Kalau dulu memenuhi gharizatul baqa’ harus dengan menjadi penyair ternama, sekarang bisa dengan dengan pamer di TikTok or whatever. Kalau dulu ego manusia ada yang cukup tinggi sampai menganggap dirinya Tuhan, sekarang masih ada yang egonya begitu tinggi sampai merasa bisa menggantikan peran Tuhan dalam membuat hukum.

Perkembangan zaman dan peradaban sama sekali tidak ada kaitannya dengan sifat dasar manusia.

Dulu ada yang dermawan seperti Abdurrahman bin ‘Auf, sekarang juga ada. Dulu ada yang kikir seperti Qarun, sekarang sama saja. Dulu ada yang tamak kekuasaan seperti Kaisar Nero, sekarang apalagi. Tidak ada yang berubah dari hal-hal tersebut. Yang berubah cuma sarananya saja.

Lantas, kenapa tiba-tiba ‘perubahan zaman’ dijadikan alasan untuk mengubah nilai-nilai yang mengatur manusia? Hubungannya apa?

Maka sebenarnya klaim-klaim “peradaban berubah, nilai-nilai harus berubah” itu tidak lain merupakan bentuk egomania manusia yang mengalami perubahan sarana akibat perkembangan zaman.

Yang dulunya mengklaim sebagai Tuhan seperti para Fir’aun Mesir, sekarang merasa menjadi Tuhan dengan melangkahi hak-Nya untuk membuat nilai-nilai dan hukum yang mengatur manusia.

Kelakuan dasar? Sama saja. []

Sumber: Andika Dwijayanto 

Categories