realino.usd.ac.id

Nasionalisme Elit dan Khayalan Persatuan

MUSTANIR.net – Nasionalisme adalah proses top-down yang dijalankan oleh elit politik yang ‘kawin’ dengan kapitalisme. Berkat proses seperti itu, nasionalisme dan persatuan bangsa merupakan hasil khayalan/imajinasi, yang dapat direalisasikan pun dimainkan sesuai kepentingan politik elit-elit yang sama yang sedang berkontestasi.

Argumen siapakah itu?

Adalah Benedict Anderson, seorang Indonesianis dari Cornell University, yang mungkin pertama kali mencoba membedah lahirnya nasionalisme secara umum sebagai suatu konsep, juga secara khusus nasionalisme di Indonesia.

Anderson memang telah fokus meneliti bangunan nasionalisme Indonesia secara khusus sejak menamatkan karya doktoralnya pada tahun 1963. Ia menuangkan temuan dan argumennya dalam buku Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism.

Anderson meyakini bahwa nasionalisme tidak terbentuk begitu saja tanpa adanya role-modelling dari apa yang terjadi di Barat. Anderson meyakini, bahwa segala bentuk nasionalisme di dunia adalah duplikasi dari nasionalisme mapan Amerika Serikat dan pembebasan dari ‘legitimasi ilahi’ dalam Revolusi Perancis.

Namun, Anderson pun mengakui bahwasanya Indonesia punya bentuk unik dari nasionalisme, yakni yang mampu menyatukan perbedaan suku bangsa, regional, dan agama, dalam suatu slogan: Bhinneka Tunggal Ika.

Dan secara paradoks, menurut Anderson, keyakinan akan slogan dan narasi Bhinneka Tunggal Ika semata, adalah yang membuat komunitas bangsa Indonesia tak pernah memiliki realitas obyektifnya. Terjebak dalam slogan-slogan, narasi, permainan bahasa, mungkin memang menjadikan nasionalisme Indonesia tidak pernah ada.

Menariknya, Anderson berargumen bahwa pembentukan slogan-slogan tersebut adalah hasil fabrikasi kapitalisme melalui media massa dan literatur—seperti yang diungkapkan di awal.

Sejarah memang berbicara, bahwa media massa berperan penting dalam pembentukan nasionalisme di Indonesia. Semuanya terjadi sejak radio-radio menyiarkan seruan Soekarno tentang nasionalisme anti-imperialisme, televisi pemerintah menyiarkan nasionalisme-asas tunggal Pancasila ala Soeharto, sampai narasi “Saya Pancasila” milik Jokowi.

Dan pada ujungnya, dalam beberapa titik, proses fabrikasi itu justru menjadikan nasionalisme sebagai sesuatu yang hanya ada dalam imajinasi saja—seperti yang kita lihat sekarang.

Anderson berpendapat bahwasanya nasionalisme punya empat dimensi yang menyangganya. Dua yang pertama telah umum dikenal dan telah diamini banyak ilmuwan politik lain, yakni berdaulat dan memiliki batasan. Negara bebas mengatur dirinya sendiri dan harus menghormati kebebasan negara lain.

Sementara, dua dimensi terakhir adalah hasil dari eksaminasi Anderson sendiri, yakni komunitas dan imajinasi. Menurut Anderson, bangsa dan nasionalisme adalah buah dari komunitas yang punya sejarah yang sama, yang merupakan produk dari proses diseminasi realitas yang kemudian menjadi imajinasi bersama.

Apakah demikian dengan Indonesia? Mungkinkah Indonesia memang hanyalah produk para elit yang hanya menghasilkan imajinasi tentang nasionalisme di pikiran rakyat banyak?

Ya, karena studi Anderson salah satunya menjelaskan Indonesia, maka relevansinya tak pernah terlepas dari Indonesia, bahkan sampai saat ini. Katakanlah, nasionalisme di tanah Jawa tidak akan pernah sama dengan nasionalisme di tanah Papua, daerah yang masih mendengar nasionalisme selain Indonesia.

Melalui konsep imagined community ini, dapat dijelaskan mengapa sampai saat ini Indonesia mengalami konflik horizontal secara terus menerus. Prakondisi masyarakat Indonesia yang jauh secara geografis, secara kultural, bahkan secara agama, menjadikan potensi pergesekan akan terus ada.

Bila Anderson meyakini fabrikasi media massa dapat menghasilkan ikatan yang hipnotikal di antara orang-orang yang berbeda dalam suatu bangsa, maka sepertinya negasi dari argumen itu tengah terjadi saat ini. Fabrikasi media akan suatu isu yang menghasilkan kohesi, cenderung kalah dengan isu yang menghasilkan konflik.

Apakah nasionalisme memang sengaja dibenturkan dengan Islamisme? Apakah takdir bangsa ini yang terfragmentasi menjadikan nasionalisme hanya akan selalu menjadi imajinasi?

Setidaknya Anderson pun meyakini, bahwa pada akhirnya kalangan elit berkuasa dan borjuasi adalah yang punya kuasa untuk menentukan penguatan atau pelemahan nasionalisme dan bahwa isu-isu horizontal di tengah masyarakat tak pernah terlepas dari kontestasi politik di tingkat elit.

“Pada akhirnya, selalu kelas penguasa, borjuis, terutama bangsawan, yang lama meratapi kerajaannya,” tulis Anderson. []

Sumber: Pinter Politik

Categories