Perang Istilah dalam Perang Pemikiran di Media Massa

MUSTANIR.net – Perang opini di media massa terkait ide/pemikiran dan tuduhan terhadap ajaran Islam serta pengikutnya yang berujung kepada gerakan Islamophobia menjadi tren baru. Sebuah penyakit lama (Islamophobia) yang dimunculkan kembali guna menakut-nakuti rakyat akan munculnya kebangkitan Islam.

Beberapa opini yang ditujukan kepada ajaran Islam dan pengikutnya berupa teror opini terkait intoleran, takfiri (suka mengkafirkan), seolah ingin memusnahkan yang tidak sepaham, ingin menang sendiri, menindas, arogan, dan tuduhan lainnya. Bahkan tak lupa dibumbui dengan konflik peperangan di Timur Tengah dan sebagian Eropa yang tanpa pengkajian mendalam terhadap sebab konflik sebenarnya, langsung menuduh konflik tersebut karena kebencian atas nama Tuhan.

Seolah dengan konsep kafir (orang yang belum beriman) dalam Islamlah yang menyebabkan kekisruhan dan kekerasan yang terjadi. Tuduhan otoritas kebenaran kepada kelompok tertentu dengan memberikan cap negatif kepada kelompok tersebut. Bukankah memberi cap “radikalisme, intoleran, anti kebinekaan” juga perilaku yang sama dengan kelompok yang mereka anggap kelompok takfiri dan anti toleran?

Kebenaran seolah hanya milik kelompok yang mengaku paling toleran dan paling kebinekaan. Lalu, apa bedanya? Bagaimana mungkin akan menyatukan rakyat yang beragam ini dengan ide perpecahan dan adu domba berdasarkan asas kebencian terhadap suatu golongan?

Perang pemikiran yang terjadi ini merupakan perang ide yang mendasar, atau disebut perang ideologi. Tak dipungkiri dunia sekarang dikuasai oleh ideologi kapitalisme yang mengajarkan secara meyakinkan bahwa kehidupan agama haruslah dipisahkan dari kehidupan politik, sosial, ekonomi, budaya, pertahanan, dan keamanan.

Para pengikut ideologi kapitalisme ini atau sering disebut sekulerisme sangatlah risih dan alergi jika melihat kelompok berideologi Islam yang ingin memperjuangkan ditegakkannya aturan Sang Pencipta dalam kehidupan secara menyeluruh. Tak jarang, kaum sekuler menyerang ajaran Islam seperti jihad sebagai dasar munculnya terorisme, termasuk konsep kafir dan iman dalam Islam dianggap sebagai konsep intoleran.

Para ulama Islam menganalisis terjadinya serangan ide terhadap islam karena kelemahan umat Islam dalam beberapa hal di antaranya:

1. Memahami Islam dengan metode ideologi lain. Islam merupakan agama yang diturunkan Allah subḥānahu wa taʿālā kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah), manusia dengan sesamanya (muamalat), dan manusia dengan dirinya sendiri (akhlak). Tidak sedikit orang Islam yang meyakini sekulerisme sebagai jalan hidupnya dan melakukan serangan terhadap ajaran Islam itu sendiri. Misalnya, menuduh ajaran jihad sebagai biang terorisme dan kekerasan.

2. Mulai ditinggalkannya bahasa Arab sebagai bahasa utama. Al-Qur’an dan hadits merupakan sumber hukum Islam, dan keduanya menggunakan bahasa Arab. Kelemahan umat Islam kepada pemahaman bahasa Arab menjadikan mereka begitu mudah menerima ide sekulerisme tanpa mampu merujuk langsung kepada bahasa sumber hukumnya.

3. Memudarnya ukhuwah Islamiyah. Bukankah Tuhan kita satu? Nabi kita adalah Nabi Muhammad ﷺ? Kitab kita juga sama yaitu al-Qur’an? Namun dengan bedanya ideologi yang diemban, sebagian kaum muslimin dengan terang-terangan menolak untuk merujuk kembali kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dari Allah subḥānahu wa taʿālā melalui wahyu. Hanya gara-gara beda bendera kesukuan, bendera negara, dan perbedaan lainnya, meskipun sesama muslim, tidak merasa bersaudara.

Perang Istilah antara Pengikut Ideologi Sekuler vs Islam

Para pengikut sekulerisme tak segan menggunakan istilah tertentu agar umat Islam tidak memahami ajaran Islam dengan benar. Beberapa cara dalam perang istilah yang sering digunakan oleh kaum sekuler di antaranya:

1 Memasukkan istilah baru yang belum pernah dikenal dalam dunia keilmuan Islam. Misalnya, istilah jalan tengah (al-wāsithiyyah) merupakan ide khas sekulerisme yang mengkompromikan antara kaum gerejawan dan bangsawan.

2. Mereduksi dan menyempitkan arti. Kaum sekuler sering “memaksakan” arti yang sudah dipahami khalayak menjadi arti yang sempit, seperti arti Islam yang dianggap agama hanya untuk ibadah ritual saja.

3. Mendistorsi arti. Misalnya, mengartikan jihad sebagai kekerasan, sehingga artinya dialihkan kepada bersungguh-sungguh dalam bekerja, mencari ilmu, dll.

4. Mengganti istilah tertentu agar bisa diterima. Misalnya, riba diganti dengan bunga bank.

Peperangan ideologi memang tidak bisa dielakkan terutama dalam perang pemikiran. Salah satu perang pemikiran tersebut adalah dengan perang istilah. Tujuannya jelas sekali kaum sekuler menginginkan agar pengikut ideologi Islam untuk melepaskan ikatan ideologinya, dan bersama dalam satu barisan dengan sekulerisme, yaitu menolak diterapkannya aturan Allah subḥānahu wa taʿālā, dan memilih aturan manusia sebagai sumber utama hukum kehidupan.

Peperangan ini sebagai sebuah kewajaran dari cara pandang hidup yang berbeda. Sayangnya, pandangan ideologi sekulerisme yang ditunjang oleh kekuasaan akan menghasilkan penindasan kepada pengikut ideologi lainnya, termasuk ideologi Islam.

Dengan sistem pendidikan sekulerisme yang dijadikan kuirikulum resmi, maka tidak mengherankan banyak kaum muda muslim yang lebih memilih sekulerisme sebagai jalan hidupnya daripada jalan Islam itu sendiri. Sebagai sebuah renungan dan nasihat, maka perhatikan pertanyaa retorik berikut ini:

Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al Maidah: 50) []

Sumber: Hisyam Rusyda

About Author

Categories