Konflik Israel-Iran: Perang Rekayasa dalam Skema Politik Global

MUSTANIR.net – Dunia saat ini menyaksikan eskalasi konflik terbuka antara dua kekuatan besar di Timur Tengah: Israel dan Iran. Sejak Jumat (13/6/2025), kedua negara saling melancarkan serangan udara, rudal, dan drone yang menewaskan ratusan dan melukai ribuan orang. Namun yang menarik bukan hanya deru senjata, melainkan nada narasi dari Amerika Serikat—terutama dari Donald Trump. Dalam komentarnya, Trump mengatakan:

“Terkadang mereka harus berperang habis-habisan terlebih dahulu… baru bisa ada kesepakatan.”

Pernyataan ini tidak sekadar spontanitas politik, tapi mengisyaratkan sesuatu yang lebih dalam—yakni adanya desain konflik sebagai bagian dari permainan kekuatan global. Inilah yang dalam perspektif Islam dan analisis politik disebut sebagai rekayasa konflik dalam kerangka politik global.

Perang yang Diskenariokan, Bukan Dihindari

Alih-alih mencegah pertumpahan darah, Trump justru menganggap perang sebagai pra-syarat untuk damai. Ini mengindikasikan bahwa perang bukan kegagalan diplomasi, tapi bagian dari strategi geopolitik. Dalam skema politik global, konflik seperti ini sengaja dibiarkan atau bahkan direkayasa agar:

• Menjaga keberadaan rezim Zionis dengan menciptakan musuh eksternal permanen (Iran).
• Melemahkan kekuatan regional yang berpotensi mandiri dan tidak pro-Barat.
• Menjual senjata dalam jumlah besar melalui industri militer global yang dikendalikan oleh segelintir elite.

Sejak awal, narasi “Israel versus Iran” telah dikonstruksi sebagai panggung teater geopolitik yang dimainkan oleh aktor-aktor elite global demi tujuan hegemonik.

Siapa yang Diuntungkan?

Konflik Israel-Iran bukan sekadar urusan dua negara. Dalam skema politik global, konflik ini dikendalikan dari balik layar oleh elite global (deep state), yang terdiri dari korporasi senjata, pelobi politik, dan jaringan ideologis Zionis. Mereka tidak berpihak pada kebenaran, tetapi pada keuntungan dan dominasi. Beberapa keuntungan yang bisa dipetakan:

• Bagi AS: menciptakan alasan kehadiran militer permanen di Timur Tengah.
• Bagi Israel: memancing dukungan Barat dengan posisi sebagai “korban” dan memprovokasi respons Iran yang bisa digunakan untuk delegitimasi.
• Bagi elite global: menciptakan ketergantungan negara-negara terhadap sistem keamanan, ekonomi, dan diplomasi Barat.

Semua ini mengkonfirmasi sabda Nabi Muhammad ﷺ:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan tipu daya.” (HR Ahmad)

Jangan Tertipu oleh Narasi Barat

Dalam dunia wacana, media global dikendalikan oleh kekuatan besar yang memproduksi narasi sesuai kepentingannya. Umat Islam harus menyadari bahwa Israel dan Iran bukan representasi Islam atau anti-Islam secara mutlak, melainkan dua entitas negara-bangsa yang sama-sama terjerat sistem internasional sekuler.

Konflik mereka dimanfaatkan sebagai alat adu domba (divide et impera) agar dunia Islam tetap lemah dan terpecah. Amerika Serikat, melalui narasi seperti yang dilontarkan Trump, memainkan peran sebagai dalang yang kadang tampil sebagai penengah, namun sejatinya adalah penyulut dan pengontrol konflik.

Persatuan Umat dan Tegaknya Khilafah

Perspektif Islam tidak cukup hanya mengutuk atau mengkritisi. Harus ada visi perubahan sistemik. Dalam hal ini, solusi Islam adalah:

• Mengakhiri sistem negara-bangsa pecahan warisan kolonial yang memicu konflik sektarian dan geopolitik.
• Mengembalikan kepemimpinan politik umat dalam satu institusi global: Khilafah Islamiyah, yang mampu menyatukan umat, melindungi kehormatan kaum muslimin, dan menetapkan kebijakan luar negeri yang berbasis syariah, bukan kepentingan Barat.
• Membangun kesadaran politik umat agar tidak terjebak dalam dikotomi palsu seperti “pro-Israel vs pro-Iran”, padahal keduanya merupakan bagian dari sistem internasional sekuler yang mengabaikan hukum Allah.

Di Balik Perang, Ada Agenda

Ketika Trump berkata bahwa “mereka harus berperang dulu baru damai”, itu bukan hanya komentar sinis—itu sinyal bahwa perang ini bukan kegagalan diplomasi, melainkan bagian dari skenario besar. Sebuah skenario yang hanya bisa dipahami jika kita melihatnya dari perspektif Islam yang menyeluruh dan politik global yang kritis.

Sudah saatnya umat Islam tidak sekadar menjadi penonton, apalagi pion dalam konflik global. Sudah saatnya bangkit, bersatu, dan memimpin dunia kembali dengan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. []

Amir Mustanir

Referensi:
1. Nah! Trump Sebut Terkadang Israel dan Iran Harus Perang Lebih Dulu
2. Trump: Israel-Iran Perlu Bertempur Habis-habisan Sebelum Ada Kesepakatan

About Author

Categories