Nasionalisme Membungkam Umat: Saatnya Bela Gaza dengan Khilafah!

MUSTANIR.net – Gema Global March to Gaza (GMTG) kembali mengguncang nurani dunia. Ribuan umat dari berbagai penjuru bumi melangkah, menyuarakan derita Gaza yang terus dibungkam oleh blokade dan senjata. Namun, langkah-langkah penuh harapan itu terhenti di pintu Rafah.

Mesir, sebuah negeri Muslim, justru mengusir para aktivis humanitarian. Ia memperlihatkan kepada dunia bahwa bukan hanya Israel yang menutup jalan ke Gaza, tetapi juga para penguasa negeri Muslim sendiri. Di sinilah wajah paling tragis dari nasionalisme dan konsep negara bangsa tampak nyata: menjadi pagar berduri yang menghalangi pertolongan untuk saudara seiman.

Gerakan GMTG menunjukkan satu hal penting: umat Islam marah, tapi kebingungan arah. Mereka turun ke jalan, berteriak untuk Gaza, tetapi terkekang oleh batas-batas negara yang diwariskan penjajah. Umat Islam ingin menolong, tetapi tangannya diikat oleh hukum dan kepentingan geopolitik negara-negara bangsa, yang sejatinya merupakan hasil rekayasa kolonial untuk menghancurkan kesatuan umat Islam sejak runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924.

Nasionalisme adalah ikatan yang rapuh dan semu. Sebagaimana dijelaskan dalam kitab Nizhamul Islam karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, nasionalisme atau ashabiyah adalah ikatan lemah yang mengakibatkan permusuhan antar sesama manusia. Nasionalisme membuat seorang Muslim lebih rela menjaga batas-batas negaranya daripada menyelamatkan nyawa saudaranya yang disembelih di Gaza.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

“Bukan dari golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah, dan bukan dari golongan kami orang yang berperang karena ashabiyah, dan bukan dari golongan kami orang yang mati karena ashabiyah.” (HR Abu Dawud)

Begitu pula Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat: 10)

Mengapa kita tetap membela konsep negara bangsa, jika itu justru menjadi pemisah antara kita dan saudara yang meminta pertolongan? Bagaimana mungkin kita diam saat penguasa-penguasa negeri Muslim justru menjaga kepentingan penjajah dengan mengunci gerbang Rafah, menolak para pejuang kemanusiaan demi keridhaan Amerika Serikat dan sekutunya?

Inilah saatnya umat Islam sadar: Gaza tidak akan pernah benar-benar bebas selama kita masih terikat oleh nasionalisme. Umat Islam harus melepaskan sekat-sekat buatan ini dan bersatu dalam satu ikatan ideologis dan politik yang benar: Islam kaffah dalam naungan khilafah. Hanya institusi khilafah-lah yang terbukti menjadi pelindung sejati umat Islam di seluruh dunia.

Lihatlah sejarah!

Khalifah Abdul Hamid II menolak keras permintaan Theodor Herzl untuk membeli tanah Palestina, meski Herzl menjanjikan membayar utang Khilafah Utsmani. Sang Khalifah menjawab dengan tegas:

“Sesungguhnya saya tidak akan menjual sejengkal tanah dari negeri Palestina karena ia bukan milik saya, melainkan milik umat Islam.”

Bandingkan dengan para penguasa hari ini yang justru memagari Palestina dari saudara-saudaranya, demi kelanggengan kekuasaan yang disokong Barat.

Karena itu, solusi untuk Gaza belum cukup dengan aksi humanitarian atau lobi diplomasi yang tak pernah digubris penjajah. Solusinya adalah gerakan politik ideologis Islam yang membongkar sekat-sekat negara bangsa dan menegakkan kembali khilafah Islamiyah sebagai satu-satunya institusi yang sanggup dan wajib menolong Gaza secara nyata, dengan pasukan, kekuatan politik, dan keberanian iman.

Sudah saatnya umat ini berjuang bersama gerakan dakwah ideologis yang menyeru kepada Islam kaffah, bukan kepada nasionalisme yang menjadi duri dalam daging. Saatnya kita berjuang bukan demi bendera nasional, tapi demi panji Rasulullah ﷺ yang menyatukan seluruh umat: La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Wallahu a’laam. []

Sumber: Daeng Rannu

About Author

Categories