Perdana Menteri Serbia, Aleksander Vucic Diusir di Peringatan Pembantaian Muslim Bosnia

alexander-vucic

Perdana Menteri Serbia, Aleksander Vucic Diusir di Peringatan Pembantaian Muslim Bosnia

Mustanir.com – Perdana Menteri Serbia Aleksander Vucic diusir oleh massa dari upacara pemakaman saat peringatan 20 tahun pembantaian Srebrenica, Bosnia.

Vucic terpaksa melarikan diri dengan pengawalnya di bawah hujan batu saat berlangsungnya doa dan penguburan pemakaman untuk 136 korban genosida, yang telah ditemukan baru-baru ini.

Warga dari Potocari – lokasi pembantaian Muslim Bosnia dan anak laki-laki pada tahun 1995 – meneriakan “keadilan” dan “Vucic Pergi”. Vucic segera pergi jauh dari pemakaman.

Perdana Menteri Turki, Ahmet Davutoglu ketika mengomentari peristiwa itu, mengatakan reaksi orang banyak adalah “normal”.

Sementara itu, Amnesty International mengatakan pada hari Sabtu (11/7) bahwa ribuan anggota keluarga korban “terus tidak mendapatkan keadilan, kebenaran dan Perbaikan”.

Direktur Amnesty untuk Eropa dan Asia Tengah John Dalhuisen mengatakan: “Dua dekade setelah dunia mengalihkan pandangannya dari kejahatan terburuk yang akan dilakukan di tanah Eropa sejak tahun 1945, keluarga korban genosida Srebrenica masih menunggu keadilan.”

Seperti diketahui, pada dua dekade lalu sekitar bulan Juli, menjelang akhir perang Bosnia 1992-1995, Srebrenica di bagian timur dari bekas negara Yugoslavia menyaksikan pembunuhan 8.000 pria dan anak laki-laki Bosnia di tangan paramiliter Serbia Bosnia.

Serangan terjadi beberapa saat setelah Perdana Menteri Aleksandar Vucic memasuki pemakaman dekat Srebrenica untuk meletakkan karangan bunga. Seperti diketahui, kira-kira 8.000 laki-laki dewasa dan anak laki-laki muslim dibantai oleh kelompok Serbia menjelang berakhirnya perang Bosnia yang berlangsung antara tahun 1992 sampai 1995.

Vucic, pejabat ultra nasionalis Serbia yang dulu mendukung pembantaian itu, hadir dalam upacara peringatan untuk menunjukkan bahwa ia kini menginginkan rekonsiliasi.

Aleksander Vucic, menjadi nasionalis garis keras Serbia saat perang di pertengahan tahun 1990-an, namun saat peringatan pembantaian Srebrenica mewakili negaranya dan menampilkan rekonsiliasi. Namun kehadirannya disoraki dan diganggu saat hendak meletakkan karangan bunga di lokasi pemakaman Potocari.

Sejumlah orang membentangkan spanduk yang mengutip ucapan Vucic saat perang, “Untuk setiap Serbia yang terbunuh, kami akan membunuh 100 Bosnia’.

Para pengawal melindungi Vucic dari lemparan botol dan batu dengan memakai payung, tas yang berubah jadi pelindung, hingga mengeluarkan senjata.

Vucic dan rombongannya dilempari batu dan benda-benda lain dan menderita luka-luka ringan di mukanya. Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton dan sejumlah pejabat tinggi asing lainnya juga hadir dalam upacara peringatan itu. Demikian pula dengan Putri Anne dari Inggris, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu, dan Ratu Noor dari Yordania.

Amnesty International menambahkan bahwa Bosnia telah meningkatkan sumber daya untuk penuntutan kejahatan perang, namun itu “masih belum cukup”. Amnesty juga menyatakan bahwa penyelidikan baru harus diluncurkan dan saksi harus diberikan perlindungan untuk berani bersaksi. (kiblatnet/kompas/adj)

Categories