
Perjuangan Islam Itu Bukan Semata tentang Melawan Oligarki
MUSTANIR.net – Tentu saja, secara teologis, sering mati listrik adalah kehendak Allah. Tentu saja, secara syariat terkait hati, kita tetap harus mensikapinya dengan sabar. Tentu saja, secara syariat juga, apa yang terjadi berkaitkan dengan “manhaj” kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh pemerintah dalam memperlakukan sumber daya alam, yang dalam hal ini adalah batu bara.
Manhaj liberalisme yang fondasinya diletakkan oleh al Imam Smith memungkinkan perusahaan komersial untuk mengekploitasi batu bara, lalu memasarkannya dengan pertimbangan profit yang dapat mereka raup. Sementara negara cukup merasa untung dengan mendapat sewa tanah, royalti, pajak, dan jatah 25℅ untuk pasar domestik dengan harga tertentu.
Namun, ketika harga global melambung, perusahaan-perusahaan itu tentunya memikirkan untung, tak mau kehilangan kesempatan rente berlipat hanya demi memenuhi kebutuhan rakyat dengan harga murah. Kasusnya seperti krisis minyak sawit pada beberapa tahun lalu.
Jadi, ini berkaitan langsung dengan “manhaj” ekonomi, yang menyelisihi sunnah. Karena, menurut sunnah, sumber daya alam yang menjadi irisan kepentingan hajat hidup orang banyak, semestinya menjadi milik bersama, dan pemerintah mengelolanya demi hajat hidup orang banyak tersebut.
Penentangan terhadap Oligarki Itu Merupakan Hal yang Niscaya
“Manhaj” ekonomi liberal berkaitan dengan kurangnya pasokan batu bara bagi PLN yang berakibat pada pemadaman listrik padahal Indonesia merupakan negara produsen batu bara termal terbesar di dunia.
Kalau merujuk pada peraturan yang ada, memang sudah ada mekanisme yang menjamin keamanan pasokan untuk dalam negeri, yaitu kewajiban memenuhi kebutuhan domestik (DMO) 25% dari produksi tahunannya dengan harga 70 dolar AS per ton; dan ada sanksi bertingkat bagi yang tidak memenuhinya, mulai dari larangan ekspor hingga penjabutan izin. Namun, raksasa perusahaan batu bara melakukan “perlawanan”.
Biaya produksi yang tinggi menjadi alasan mengapa harga 70 dolar AS dianggap merugikan. Walaupun, sebenarnya, perusahaan raksasa dengan efisiensi tinggi (seperti BUMI dan Adaro) masih punya margin, karena biaya produksinya sekitar 44 sampai 51 dolar AS per ton (yang mengoperasikan tambang tua dan tak lagi efisien konon memang tekor, biaya produksinya antara 65 sampai 80 dolar AS per ton).
Seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk meraup untung besar di tengah naiknya harga internasional saat ini (131 sampai 150 dolar AS per ton), perusahaan raksasa pun menuntut pemerintah melakukan penyesuaian harga (minta di atas 80 dolar AS per ton), dan Bahlil pun berusaha mencari titik temu.
Siapa pengeruk batu bara terbesar?
Produsen batu bara terbesar di Indonesia adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), milik Bakrie dan Salim Group. Produksi mereka di 2025 mencapai 74,8 juta metrik ton. Di tempat ke-2 ada PT Adaro, milik saudara Erick Tohir. Produksinya mencapai 68,73 juta ton sepanjang tahun 2025.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN), milik Low Tuck Kwong (salah satu miliarder dan orang terkaya di Indonesia yang menguasai konsesi besar di Kalimantan Timur) membukukan total volume produksi batu bara sebesar 68,0 juta metrik ton sepanjang tahun 2025. Sementara PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, milik keluarga Wijaya (Sinarmas) memproduksi 57,2 juta ton sepanjang tahun 2025.
See?
Mereka bukan orang-orang yang kecil pengaruhnya di Indonesia. Mereka tidak hanya mendominasi industri energi, tetapi juga memiliki gurita bisnis di sektor perbankan, digital, media, hingga infrastruktur nasional. Dan tentu saja mereka juga penya pengaruh politik. Seorang menteri, seperti Bahlil, atau bahkan presiden, akan berhitung untuk berhadapan dengan mereka.
Perjuangan Islam
Jika kita ingin menerapkan “manhaj” Islam dalam mengelola sumber daya alam yang dibutuhkan oleh orang banyak itu, dengan menjadikan kekayaan yang terkandung di perut bumi dan dibutuhkan oleh orang banyak sebagai harta milik umum, dan dikelola negara untuk kepentingan umum, tentu kita akan berbenturan dengan kepentingan para raksasa bisnis dengan pengaruh ekonomi-politik yang sangat besar itu.
Benturan itu hal yang niscaya, itu hal yang alami. Namun, perjuangan Islam itu bukan sekadar soal melawan oligarki, bahkan bukan juga sekadar soal mencita-citakan keadilan ekonomi.
Kalau oligarki bisa ditaklukkan tanpa Islam, terus bagaimana? Kalau pemerataan kekayaan berani diwujudkan secara radikal oleh seorang pemimpin “kiri” yang populis, lalu kita mau apa? Cukup puas sampai di situ dan mulai “menggelar tikar” untuk menikmati hidup yang tenang?
Tentu tidak.
Itu karena persoalan ekonomi bukanlah inti terdalam bagi perjuangan Islam. Perjuangan Islam didorong oleh motivasi yang unik, didasari oleh cara pandang yang unik, tujuan tertingginya pun unik. Sumber pengambilan sistemnya sangat unik, metodenya dalam melahirkan sistem kehidupan (termasuk ekonomi) juga unik, standar untuk mengukur kesahihan peraturannya pun unik.
Ya, perjuangan untuk menerapkan Islam didorong oleh motivasi untuk hidup sepenuhnya dengan corak kehidupan Islam, didasari oleh pandangan bahwa dunia ini adalah wahana ujian untuk tunduk/mengabdi kepada Allah SWT, tujuan tertinggi yang ingin diraih dengan pengamalan corak kehidupan itu adalah keridhaan-Nya.
Sistem atau peraturan-peraturannya bersumber dari wahyu, metode untuk melahirkan sistem adalah dengan memahami wahyu (dengan ilmu yang mu’tabar) untuk memahami aturan Allah sebelum mengamplikasikan pada realita, ukuran kesahihan peraturannya adalah keseuaiannya dengan dalil syara’.
Jadi, sistem Islam itu, termasuk sistem ekonominya, bersifat ruhi, yakni didasari oleh akidah Islam, berupa keyakinan kepada Allah, keimanan kepada akhirat, kepercayaan kepada aturan yang diturunkan-Nya, kehendak untuk menaati-Nya, keinginan untuk mendapat ridha-Nya, ketamakan untuk meraup pahala-Nya, ketakutan kepada murka-Nya, dll.
Jadi, melawan pengaruh oligarki bukanlah tujuan, melainkan hanya hal yang tak terhindarkan dalam perjuangan; kebaikan ekonomi bahkan juga bukan tujuan, melainkan hanya berkah yang Allah berikan, buah dari ketaatan manusia kepada aturan yang Dia turunkan.
Jika kita ingin menumbuhkan semangat umat untuk ikut menegakkan Islam, maka wajib memberangkatkan kehendak mereka dari pandangan hidup, motivasi, dan tujuan yang benar menurut Islam. Wajib juga memahamkan sumber tatanan hidup yang benar, metode melahirkan peraturan yang benar, dan standar kesahihan tindakan/kebijakan yang benar menurut Islam. Tidak cukup dengan gembar-gembor perlawanan terhadap oligarki dan iming-iming kehidupan ekonomi yang layak.
Mereka bukan hanya dibuat marah karena sadar telah dimiskinkan, melainkan lebih karena sadar bahwa kehidupan mereka tidak dijalankan di atas rel kehidupan Islam. []
Sumber: Ramane Ranu
