Sampai Kapan Rakyat Tertipu?

MUSTANIR.net – Dulu orang banyak euphoria dan berharap banyak waktu SBY naik menjadi presiden. Begitu pula ketika Jokowi menggantikannya. Karena keduanya berangkat dari orang miskin, harapannya mereka memahami kondisi kaum miskin. Apalagi Jokowi diusung oleh partai PDI yang tagline-nya partainya wong cilik.

Namun semua orang kecewa karena ternyata keduanya lebih pro terhadap para oligarki. Utang negara terus menumpuk, menambah ketergantungan negara terhadap asing.

Kemudia pemilu berulang. Prabowo yang digadang-gadang sebagai mantan komandan Kopassus akan tegas melawan asing. Namun faktanya, belum genap dua tahun, pemerintahan gonjang ganjing, utang negara ugal-ugalan. Proyek MBG ternyata tidak lebih sekadar proyek pendulang suara untuk 2029, kepala BGN pun ditangkap karena terbukti korupsi hingga triliunan rupiah.

Prabowo hanya omon-omon, garang di meja orasi, namun lembek dalam kebijakan. Kedekatannya dengan ulama selama kampanye ternyata hanyalah kedok untuk menutupi watak dia sesungguhnya.

Lagi-lagi rakyat kecewa dan harus gigit jari. Kenyataannya Prabowo tidak ubahnya Jokowi periode ke tiga. Dipertegas dalam salah satu pidatonya dengan lugas dia berteriak, “Hidup Jokowi!”

Sampai Kapan?

Sampai kapan rakyat ditipu oleh aktor-aktor politik yang di awal meyakinkan, namun ternyata mereka tidak ubahnya serigala berbulu domba? Janji demi janji diucapkan untuk menyihir nalar kritis rakyat.

Program-program populis berdana besar. Bantuan tunai menjadi andalan untuk meraih simpati mayoritas rakyat yang sengaja dimiskinkan oleh sistem.

Pola ini jika diteruskan maka tidak akan ada perubahan yang berarti di dalam negeri ini, kecuali hanya ganti foto presiden setiap lima tahun. Namun hasilnya sama saja.

Akar masalahnya terletak pada sistem yang dipakai oleh negara ini, yakni kapitalisme sekuler. Ketika hukum itu dibuat oleh sekelompok orang yang penuh kepentingan.

Hukum dan perundang-undangan menjadi komoditas yang diperjualbelikan kepada para pemilik modal. Maka tidak heran jika hasilnya seluruh kebijakan negara selalu menguntungkan mereka. Rakyat hanya dipandang sebelah mata saat pemilu saja, hanya sekadar uang 200-300 ribu dalam serangan fajar.

Sudah saatnya rakyat menyadari bahwa problem negeri ini ada pada sistem yang salah, maka perjuangannya semestinya ditujukan untuk mengganti sistem.

Sistem Alternatif

Sistem komunisme telah gagal sejak awal perjuangannya karena tidak sesuai fitrah manusia dan tidak memuaskan akal. Kapitalisme pun secara empiris saat ini yang menyebabkan kesengsaraan rakyat. Tidak ada pilihan kecuali meninggalkannya.

Maka pilhan satu-satunya sistem terbaik yang bersumber dari wahyu Allah SWT hanyalah sistem Islam, yang telah terbukti secara historis, empiris, dan normatif adalah sistem terbaik telah membawa umat manusia ke dalam peradaban mulia.

Rakyat mestinya sadar, menggantungkan nasib dan perubahan kepada kapitalisme sekuler bagaikan menegakkan benang basah. Selamanya tidak akan pernah bisa. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories