
Reformasi Telah Gagal, Saatnya Revolusi!
MUSTANIR.net – Belakangan ini, gelombang aksi demonstrasi terus meluas dan membakar semangat di berbagai episenterum kegiatan masyarakat Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga kota-kota besar lainnya.
Ini bukan sekadar amarah musiman. Ini adalah tanda nyata bahwa masyarakat mulai sadar ada yang salah dengan arah bangsa ini.
Gelombang ini akan terus membesar jika kesadaran kolektif itu terus menyebar. Dan itu akan terus menerus terjadi sampai mereka paham 1 hal ini!
Tapi sebelum melangkah lebih jauh, kita harus sepakat dulu tentang apa yang sedang kita bicarakan.
Reformasi itu ibarat menambal ban yang bocor; kita cuma memperbaiki atau menambal bagian dari sistem yang rusak tanpa menggantinya. Dan kita tahu, tambalan itu selalu bocor lagi.
Revolusi adalah merombak total. Kita tidak butuh tambalan baru; kita butuh mengganti seluruh mesin dan tatanan hidup yang sudah rongsok dari akarnya.
Namun, di balik kepalan tangan ke udara, banyak yang lupa: revolusi tidak bisa instan. Revolusi bukan letupan amarah semalam yang besoknya langsung padam. la butuh bahan bakar yang jauh lebih besar: idealisme yang dirawat dan warisan keresahan yang dipelihara.
Keresahan atas ketidakadilan tidak boleh menguap jadi sekadar keluhan. la harus diorganisir, didiskusikan, dan diestafetkan ke generasi berikutnya sampai menjadi kesadaran kolektif.
Sebelum ledakan besar itu terjadi, ada proses panjang yang sering dilewatkan: Persiapan.
Mari kita tengok sejarah lewat buku All the Shah’s Men karya Stephen Kinzer dan Iran: A Short History-nya John Foran. Revolusi Islam Iran tahun 1979 tidak terjadi tiba-tiba.
Sebelum rakyat berhasil menumbangkan kekuasaan absolut Shah Iran yang disokong militer modern, ada proses persiapan dan kaderisasi di bawah tanah selama dua dekade. Khomeini tidak langsung menyuruh rakyat untuk melakukan langkah konfrontatif.
Keresahan rakyat dirawat dan dididik lewat selundupan kaset pita ceramah dan diskusi kritis di kampus-kampus. Mereka merombak isi kepala rakyatnya dulu dengan konsep tatanan baru, sehingga saat momentum itu tiba, rakyat tidak bingung harus berbuat apa.
Contoh paling paripurna ada pada Rasulullah ﷺ saat berkuasanya kaum Quraisy. Seperti yang digambarkan dalam Ar-Raheeq Al-Makhtum karya Syeikh Al-Mubarakfuri, moral Quraisy saat itu sudah ambruk total; perbudakan, ketidakadilan sosial, dan hukum jahiliyah mengunci nalar sehat.
Rasulullah hadir bukan untuk “mereformasi” sistem rusak tersebut, melainkan merombaknya secara total. Bagaimana beliau memulainya?
Beliau tidak langsung mengudeta Mekah secara serampangan. Berdasarkan analisis Syekh Taqiyuddin An-Nabhani (Takattul Hizbi), Rasulullah memimpin revolusi melalui tahapan yang tinggal kita contoh hari ini:
• Tatsqif: Menempa akidah dan menyatukan pemikiran yang resah di Darul Arqam.
• Tafa’ul Ma’al Ummah: Keluar membongkar kebobrokan sistem elite dan menawarkan Islam sebagai alternatif total.
• Thalabun Nushroh: Menggalang kekuatan politik dan militer (ahlu quwwah) untuk mengambil alih kepemimpinan.
Begitu momentum di Madinah datang, tatanan baru langsung tegak tanpa gagap. Rasulullah membuktikan: revolusi sejati dimulai dari kelompok ideologis yang terstruktur dan siap.
Seperti yang diingatkan oleh Crane Brinton dalam buku The Anatomy of Revolution, fase pematangan ide dan persiapan intelektual selalu menjadi syarat mutlak sebelum aksi fisik bisa mengubah sejarah.
Kemarahan di Jakarta, Bandung, dan Yogya hari ini adalah modal awal yang bagus. Tapi amarah tanpa konsep hanya akan melahirkan ketidakjelasan.
Jika kita sepakat bahwa reformasi telah gagal dan kita butuh revolusi, maka tugas terbesar kita hari ini adalah bersiap: rawat keresahan ini, matangkan idealismenya, diskusikan konsep tatanan barunya, dan persiapkan manusianya. Sebab ketika ledakan itu tiba, hanya mereka yang bersiaplah yang akan memenangkan masa depan. []
