Persatuan di Bawah Kalimat Tauhid Adalah Realitas, Bukan Khayalan Tak Berkelas

Reuni 212. Foto: inews

Oleh : Ummu Hanif
(Anggota Penulis Ideologis – Gresik)

MUSTANIR.COM – Gaung reuni 212 masih terus menghiasi media. Berbagai opini pro dan kotra masih terus bergulir dengan alasannya sendiri. Seperti yang telah banyak diberitakan, pada tanggal 2 desember kemarin, kawasan Monas dipenuhi peserta Reuni Akbar Mujahid 212 yang mengambil tema “Dengan Tauhid Kita Menuju Kejayaan NKRI”. Ketua Panitia Acara Reuni 212, Ustaz Bernard Abdul Jabbar, mengatakan, reuni tersebut digelar sebagai rasa syukur untuk mengenang spirit perjuangan Aksi Bela Islam 212 pada 2 Desember 2016 lalu.

Kita tentu masih ingat bagaimana kalimat tauhid dibakar oleh oknum Banser beberapa waktu yang lalu. Sebuah tindakan yang membuat marah kaum muslimin. Dari berbagai penjuru negeri umat Islam menggelar aksi protes. Mereka turun ke jalan dengan mengibarkan bendera tauhid, sebagai wujud kepedulian mereka terhadap panji Lailahaillallah.

Rangkaian aksi yang dilakukan umat Islam di penjuru Indonesia mengingatkan kita bahwa persatuan kaum muslimin haruslah dibangun atas azas tauhid. Islam menjadikan tali Allah sebagai perekat utama dalam membangun persatuan. Bukan tali kebangsaan.

Ketika Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersatu, maka jelas yang dikehendaki adalah persatuan atas ikatan yang hakiki. Ikatan yang tidak memandang perbedaan apapun selain iman dan taqwa. Karenanya, kita selalu diperintahkan untuk bersatu dengan memegang erat tali Allah, yaitu bersandar kepada prinsip kesatuan dalam memenangkan syariat Islam.

Sejarah telah mengajarkan kita, bahwa saat pertama kali tiba di kota Madinah, Rasulullah SAW langsung mempersatukan kaum muslimin dengan ikatan iman. Beliau berhasil mempersaudarakan, dua suku besar (suku Aus dan Khazraj) yang sebelumnya saling bermusuhan dalam waktu yang cukup lama. Ikatan persudaraan yang terbangun di antara mereka diabadikan oleh Allah salam firman-Nya:

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

“…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;..” (QS. Ali-Imran: 103)

Persaudaraan yang dibangun oleh Nabi SAW tersebut cukup menakjubkan. Persaudaraan yang belum pernah dikenal dalam sejarah mana pun sebelumnya. Dengan ikatan iman, Rasulullah saw berhasil mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin layaknya saudara kandung sendiri. Mereka berbeda suku dan bangsa tapi mereka saling mencintai satu sama lain. Kaum Anshar sebagai pribumi di kota Madinah rela berkorban demi mengutamakan (itsar) terhadap kaum muhajirin yang datang dari Makkah. Sungguh persaudaraan yang sulit dicari badingannya hingga sekarang.

Sejarah juga telah mencatat, kurang-lebih 14 abad lamanya kaum muslimin berhasil menjaga persatuan umat di bawah satu kepemimpinan. Terhitung sejak pertama kali Rasulullah SAW berhasil membangun pemerintahan Islam di Madinah, lalu dilanjutkan dengan era Khulafaur Rasyidin dan Kekhalifahan Islam selanjutnya hingga runtuhnya khilafah Turki Utsmani pada tahun 1924 M.

Adalah Will Durant, seorang filosof dan sejarawan yang berasal dari Amerika Serikat, dalam bukunya The History of Civilization menyatakan, “Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri yang terbentang dari Cina, Indonesia, India, Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir hingga Maroko dan Andalusia. Islam juga mendominasi cita-cita dan akhlak mereka serta berhasil membentuk gaya hidup mereka. Islam telah membangkitkan harapan mereka serta meringankan permasalahan dan kecemasan mereka. Islam telah berhasil membangun kemuliaan dan kehormatan mereka…Mereka telah disatukan oleh Islam; Islam telah berhasil melunakkan hati mereka, meski mereka berbeda-beda pandangan dan latar belakang politik.”

Namun setelah kekuatan zionis berhasil meruntuhkan Kekhilafahan Islam terakhir di Turki, gambaran tersebut mulai melemah bahkan lenyap sama sekali. Hal ini mulai tampak ketika berpecahnya umat Islam dalam sejumlah negara-bangsa (nation-state) dengan warna nasionalisme-nya masing-masing. Ide Nasionalisme menjadi cikal-bakal keterpecahbelahan umat Islam sekaligus mengoyak-ngoyak ukhuwah islamiyah yang selama ini terjalin di antara kaum Muslim.

Hari ini kita bisa melihat betapa rasa semangat membela tanah air mampu meruntuhkan ukhuwah Islamiyah yang mestinya harus kita jaga bersama. Sekali lagi, Islam tidak pernah melarang kita untuk mencintai bumi tempat kelahiran kita. Namun kecintaan tersebut tidak boleh melampaui atau mendobrak kemulian ajaran Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri adalah sosok teladan dalam hal ini. Beliau sangat mencintai tempat kelahirannya, Namun ketika potensi dakwahnya redup dan ajaran Islam tidak bisa berkembang, maka beliau memilih untuk meninggalkan Makkah. Beliau hijrah ke Madinah dan di sanalah beliau berhasil membangun dakwah. Kecintaan beliau pun terhadap kota Makkah diruntuhkan demi Islam.

Demikianlah hakikat cinta terhadap tanah kelahiran. Cintanya tidak boleh melampaui kecintaan kepada Sang Pencipta. Sebab prinsip seorang muslim, keridhaan Allah adalah di atas segala-galanya. Sementara dunia tidak lain hanyalah perantara semata. Jauhnya tempat tinggal dengan tanah kelahiran bukan sebuah masalah, Tapi yang menjadi masalah adalah ketika hidup tidak bisa meraih kecintaan dari Sang Kuasa.

Dan sungguh saat ini kita bisa menyaksikan, bahwa persatuan di bawah kalimat tauhid itu adalah realitas, bukan sekedar hayalan yang tiada batas.
Wallhu a’lam bi ash showab []

Sumber: mediaoposisi

Categories