Pertarungan Ideologis Kelompok Islam dan Kelompok Sekuler

MUSTANIR.netPada awalnya, benturan antara kedua kelompok ini berlangsung di sekitar masalah watak nasionalisme.

Dalam upaya menemukan ikatan bersama untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, Soekarno secara luas mendefinisikan nasionalisme sebagai “cinta kepada tanah air, kesediaan yang tulus untuk membaktikan diri dan mengabdi kepada tanah air, serta kesediaan untuk mengesampingkan kepentingan golongan yang sempit”. [1] Di tempat lain, Soekarno menulis, bahwa nasionalisme adalah keyakinan, kesadaran di kalangan rakyat, bahwa mereka bersatu dalam satu kelompok, satu bangsa. [2]

Bagi seorang pemimpin dan aktivis Islam politik seperti Agus Salim, pernyataan di atas sama saja artinya dengan mengangkat nasionalisme ke posisi yang setingkat dengan agama. Jika diikuti, tambahnya, maka pandangan itu akan memperbudak manusia menjadi penyembah tanah air. Jika demikian adanya, maka akibat-akibatnya akan sangat jauh. Pandangan ini akan dapat, masih kata Agus Salim, mencairkan keyakinan tauhid seseorang dan mengurangi bakti seseorang kepada Tuhan. [3] Karena alasan itu, Agus Salim dengan tegas menyatakan bahwa nasionalisme harus diletakkan dalam kerangka pengabdian manusia kepada Allah. Dan sejalan dengan itu, menurutnya, maka prinsip yang harus dinomorsatukan adalah Islam. [4]

Ahmad Hassan, pemimpin organisasi reformis Persatuan Islam (Persis), mengkritik nasionalisme sebagai sesuatu yang berwatak chauvinistik. Menurutnya, posisi nasionalistik seperti itu sebanding dengan paham orang-orang Arab mengenai chauvinistik kesukuan (‘ashabiyah) sebelum datangnya Islam. Hal itu dilarang dalam Islam, karena praktik itu akan menjadi dinding pemisah antara sesama umat Islam di (yakni antara umat Islam di Indonesia dengan umat Islam lain di belahan dunia). Akhirnya dia juga memandang bahwa kelompok nasionalis sudah tentu tidak menjalankan hukum-hukum Islam, karena kelompok itu perlu netral terhadap agama, yaitu tidak boleh mengambil salah satu agama untuk dijadikan asas pemerintahan kelak. [5]

Seperti gurunya (Ahmad Hassan), Mohammad Natsir juga mengkhawatirkan bergulirnya paham nasionalisme Soekarno menjadi suatu bentuk ‘ashabiyah baru. Paham ini dalam pandangannya, dapat berujung kepada ‘fanatisme’, yang memutuskan tali ukhuwah yang mengikat seluruh umat muslimin dari pelbagai bangsa. Bagi Natsir, paham nasionalisme harus didasarkan kepada niat yang suci, ilahiyah dan melampui hal-hal yang bersifat material. [6] Natsir juga percaya bahwa nasionalisme harus bercorak Islami.

Untuk alasan itu, ia memperkenalkan gagasan kebangsaan Islam. Ia mendasarkan keyakinan ini kepada kenyataan historis bahwa Islamlah yang pada awalnya mendefinisikan nasionalisme Indonesia. Dalam kesempatan lain, Natsir bahkan menegaskan, bahwa tanpa Islam, nasionalisme Indonesia itu tidak akan ada, karena Islam yang pertama telah menanamkan benih-benih persatuan Indonesia, dan telah menghapuskan sikap-sikap isolasionis pulau-pulau yang beragam. [7]

Pandangan nasionalisme Soekarno yang konfessional itu dilalarbelakangi oleh pengalaman perguruan tingginya di lingkungan kolonial yang plural. Ia mirip seorang ‘fungsionaris kreol’ (creole functionary), seperti telah diidentikkan oleh Benedict Anderson, dalam bukunya tentang nasionalisme yang banyak dibaca, sebagai prototipe nasionalis (sekuler). [8] Berpengalaman sebagai pegawai pemerintah kolonial yang saat itu kian membutuhkan pegawai pribumi, Soekarno tertarik dengan gagasan-gagasan pencerahan Eropa dan gagasan-gagasan liberalisme-sosialis. Seperti kalangan pribumi lainnya, pengalaman ini mengantarkannya untuk menganut satu konsep tentang bangsa yang melampui basis etnisitas, wilayah dan agama. [9]

Sumber: Anjar Nugroho

[1] Fadjar Asia, 8 dan 20 Agustus 1928. Dikutip dari Deliar Noer, The Modernist Muslim Movement in Indonesia … h. 253
[2] Soekarno, Di Bawah Bendera Revolusi (Jakarta: Panitia di Bawah Bendera Revolusi, jilid I, 1964), h. 34.
[3] Deliar Noer, The Modernist Muslim in Indonesia … h. 253-257.
[4] Deliar Noer, The Modernist Muslim in Indonesia … h. 253-257.
[5] Deliar Noer, The Modernist Muslim in Indonesia … h. 259.
[6] Pandji Islam, Vol. 9, No. 4, 23 Januari 1939. Dikutip dari Ibid., h. 276
[7] Ibid., h. 260-263.
[8] Benedict R. O’G. Anderson, Imagined Community: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, London: Vergo, 1991, h. 105.
[9] Robert W. Hefner, Robert W. Hefner, Civil Islam: Islam dan Demokratisasi di Indonesia … h. 79.

About Author

2 thoughts on “Pertarungan Ideologis Kelompok Islam dan Kelompok Sekuler

  1. Quando você esquecer a senha para bloquear a tela, se você não inserir a senha correta, será difícil desbloquear e obter acesso. Se você achar que seu namorado / namorada suspeita, você pode ter pensado em hackear o telefone Samsung dele para obter mais evidências. Aqui, iremos fornecer-lhe a melhor solução para descobrir a palavra-passe do telemóvel Samsung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories