KH Hasan Abdullah Sahal

KH Hasan Abdullah Sahal

Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal: Kita Dijebak dengan Istilah Radikal

MUSTANIR.net –  “Di dunia ini tidak ada orang yang tidak radikal. Orang lahir sudah radikal,” kata Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal pada Majalah Gontor pada Januari 2018.

Kiai Hasan memaparkan orang mempunyai maksud berarti radikal. Radikal jangan ditutup karena semua orang itu radikal. Sekarang, kata dia, bagaimana orang menyikapi radikalismenya masing-masing. Koperasi dan kebersamaan itu radikal karena anti-investor.

“Investor itu kapitalis, licik, menzalimi orang. Reklamasi, sawah-sawah diganti gudang-gudang, pertanian dijadikan pabrik demi investasi. Ini radikal. Lupa petani, lupa nelayan, lupa pedagang, dan lain-lain yang semuanya harus diatur oleh investor. Ini namanya investor radikal,” ungkap dia.

Orang yang harus bertani ini saja, kata dia, itu juga radikal. Hati mereka radikal semua. Muslim radikal, kafir radikal. Tidak ada setengah kafir, setengah Muslim.

“Orang yang menuduh Islam itu radikal, dia itu orang radikal. Islam bukan agama radikal, yang mengatakan Islam radikal, itu radikal. Menyuruh tidak usah beragama, tidak usah bersyariah, tidak usah shalat, tidak usah cari halal-haram, itu radikal. Anda kalau makan tidak usah mencari yang halal. Suruhan itu namanya radikal. Saya tidak makan kecuali halal, ini juga radikal. Artinya orang mempunyai kepribadian yang memiliki kekuatan yang mengakar. Sekarang bagaimana orang kafir dan Muslim berkumpul? Harus pakai toleransi. Letakkan radikalisme ini. Kita dijebak,” ujar dia.

Kiai memaparkan bahwa Madzhab Syafi’i, Madzhab Hanbali harus pakai qunut, ini radikal. Tidak qunut, bid’ah dan lain sebagainya itu, juga radikal.

“Yang benar apa? Islam itu bukan qunut, qunut itu Islam. Bung Karno itu Indonesia, tapi Indonesia bukan Soekarno. Jadi yang dituduh Bung Karno itu Indonesia tapi Indonesia bukan Soekarno itu radikal, makar itu, tangkap! Padahal yang mengatakan itu juga radikal. Memaksakan Indonesia itu Soekarno, lha Hatta di mana? Kasman di mana? Natsir di mana? Tengku Umar di mana? Diponegoro di mana? Hasan di mana?” tanya dia.

Ia menambahkan bahwa Nahwu itu bahasa Arab, tapi bahasa Arab bukan nahwu. “Yang penting adalah bagaimana menyikapi radikalisme masing-masing. Yang kita didik adalah bagaimana menyikapi radikalismenya masing-masing. Demi bisa hidup bersama-sama, karena mereka tidak bisa hidup sendiri, mereka tidak bisa dipaksa hidup diradikali pihak lain,” kata dia.[]

Sumber: Alumni212

Baca Juga:

Categories