Perpolitikan Indonesia Tidak Jauh dari Politik Gentong Babi

MUSTANIR.net – Direktur Indonesia Justice Monitor (IJM) Agung Wisnuwardana mengatakan perpolitikan Indonesia saat ini tidak jauh dari pork barrel politic (politik gentong babi).

“Hari ini kalau kita membaca Indonesia, maka yang kita baca tidak jauh dari pork barrel politic (politik gentong babi),” ungkapnya dalam Muharram Islamic Hardtalk 1446: Hijrah dari Penindasan  Sekuler Liberal Oligarkik Menuju Keberkahan Islam Kaffah di kanal youtube.com/@oneummahtvofficial (7/7/2024).

Ada pun makna dari pork barrel politic, jelasnya, yaitu ketika pemimpin punya peluang menggunakan uang negara untuk menciptakan program seperti bansos, pembangunan infrastruktur dan lain sebagainya, namun masyarakat awam dengan ‘lugu’ akan menilai hal demikian adalah bukti dari pemimpin yang hebat.

Ia mengungkapkan, pork barrel politic Indonesia ini ternyata tidak hanya terjadi di pemerintah pusat namun sudah ketingkat daerah seperti Provinsi dan Kabupaten. “Inilah titik kritis yang terjadi di tengah-tengah kita hari ini. Pork barrel politic ini menghasilkan populisme/kepopuleran. Dia populer di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia mencontohkan approval rating (indeks kepuasaan masyarakat) terhadap pemerintahan Jokowi hingga detik ini masih sekitar 77 persen, artinya mayoritas masyarakat puas dengan kepemimpinan Jokowi. Sehingga siapa pun yang kemarin menentang Jokowi, maka akan selalu kalah dalam prosesnya.

“Ini logika take and give, give and take, yang terjadi di tengah-tengah kita. Ditambah lagi ada yang namanya ‘buzzer dan influencer merah putih’ atau pendukung rezim yang dikemas sedemikian rupa untuk melakukan manipulasi opini publik. Jadilah populisme luar biasa ini,” bebernya.

Ketika bicara pork barrel politic katanya, sebenarnya ini istilah penting yang sudah ada sejak lama di Amerika. Ini sebenarnya pola yang disebut dengan anggaran negara untuk kepentingan yang dia (pemegang kuasa) inginkan. Dalam konteks kekinian, ia mencontohkan soal infrastruktur. Masyarakat tentunya butuh infrastruktur yang lebih baik lagi untuk mempermudah mobilitas dan sebagainya.

“Tapi infrastruktur ini dibangun dengan cara apa misalnya, kalau itu dibangun dengan cara kerja sama dengan Cina, utang luar negeri, kemudian diserahkan kepada rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang harus mengembalikan tidak? Ya pasti, dengan pajak mereka. Inilah yang disebut pork barrel politic,” jelasnya.

Walhasil, ia menyebut pemimpin populis/populer/oligarki yang mengendalikan berbagai partai yang ada, demi kepentingan oligarki/segelintir orang/kalangan yang menguasai politik, ekonomi dan hukum di negeri ini. Ini adalah korporatokrasi, sebuah ruang yang lahir dari sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), di bidang politik yang melahirkan demokrasi dan di bidang ekonomi melahirkan kapitalisme.

“Demokrasi butuh uang banyak dari para kapital, para kapital membutuhkan undang-undang untuk mereka mengeksploitasi sumber daya yang ada di negeri ini, korporatokrasi,” ungkapnya.

Padahal, menurutnya Indonesia adalah negeri yang hebat, bahkan dilalui berbagai jalur militer dan ekonomi yang luar biasa salah satunya adalah Selat Sunda.

“Indonesia negeri kaya, negeri hebat. Kita membutuhkan bukan pemimpin yang populis otoriter untuk kepentingan kapitalis tapi kita butuh berhijrah menuju kepemimpinan yang lebih baik,” pungkasnya. []

Sumber: Tenira

About Author

Categories