Portugis, Belanda, dan Inggris Dulu Berebut Teluk Jakarta

Portugis, Belanda, dan Inggris Dulu Berebut Teluk Jakarta

Oleh: Alwi Shahab

Dari atas Menara Syahbandar setinggi 30 meter di Sunda Kelapa, Pasar Ikan, Jakarta Utara, tampak puluhan kapal Phinisi bersandar. Ratusan kuli keluar masuk kapal mengangkut kayu dari berbagai daerah untuk menyuplai kebutuhan Ibu Kota.

Menatap ke bawah yang jaraknya hanya 10 meter, tampak kesibukan di Pasar Ikan, pasar tempo doeloe, yang kemudian dibangun permanen pada 1920. Di pasar ini terdapat ratusan pedagang menjual perlengkapan nelayan, seperti jala, pelampung, sero, dan alat pancing.

Di depan pasar yang tampak kumuh itu berdiri dengan megah Museum Bahari yang pada masa VOC lebih dari 300 tahun lalu digunakan sebagai gudang rempah-rempah, seperti cengkeh, pala, dan lada. Dulu gudang VOC ini letaknya di tepi laut. Tapi, kini dibatasi oleh daratan berupa jalan raya di tepi pasar. Sunda Kelapa yang dibangun Gubernur Jenderal JP Coen pada 1619, yang saat itu luasnya tidak lebih dari empat hektare, merupakan cikal-bakal dari Kota Jakarta yang metropolis dengan penduduk belasan juta jiwa.

Semua aktivitas di Pasar Ikan itu kini tidak ada lagi pascadibongkar Pemprov DKI Jakarta. Penggusuran Pasar Ikan dan permukiman nelayan dilakukan karena adanya reklamasi Teluk Jakarta.

Di lahan yang pada abad ke-16, 17, 18, dan 19 pernah diperebutkan Portugis, Belanda, dan Inggris, akan direklamasi lahan sekitar 200 hektare (jika program yang dibuat pertengahan 1990-an itu dilaksanakan). Lahan seluas itu merupakan bagian dari 2.700 hektare yang akan direklamasi di jalur Pantura Jakarta.

Dengan reklamasi itu daratan Jakarta luasnya akan bertambah sepanjang 32 km dengan lebar 1,5 km. Penambahan lahan ini akan mempengaruhi Sunda Kelapa. Akankah Sunda Kelapa tak lagi berada di tepi pantai? Atau nantinya akan berada di daratan, jauh dari pantai? Hal ini berarti bentuk daratan pantura di masa datang akan menjorok jauh ke tengah laut.

Seorang staf di Pemprov DKI mengatakan, untuk pengurukan dibutuhkan material 300 juta meter kubik. Langkah itu untuk membuat lokasi reklamasi lebih tinggi dari permukaan air laut. Konon, di kawasan tersebut akan dibangun sejumlah hotel berbintang, tempat rekreasi, pertokoan, dan berbagai tempat hiburan bertarap internasional lainnya.

Bahkan, ketika proyek ini digulirkan ketua bapeda kala itu (sebelum krisis moneter 1997), Ir Budihardjo Sukmadi, menyatakan jika reklamasi pantura terwujud Jakarta akan menyamai kota-kota pantai terbaik di dunia.

Sejarah Fatahillah

Lepas dari pro dan kontra megaproyek ini yang telah digulirkan sejak 1995 dan kemudian terhenti karena krismon (krisis moneter), yang jelas di kawasan Teluk Jakarta kita akan mendapati sejumlah situs bersejarah yang tetap harus dijaga kelestariannya. Di sekitar Pelabuhan Sunda Kelapa yang kini menjadi pelabuhan antarpulau inilah pada 22 Juni 1527
Fatahillah berhasil mengusir bala tentara Portugis yang datang dari Malaka. Kemudian, dijadikan sebagai hari ulang tahun Kota Jakarta.

Pada masa VOC daerah ini sangat berperan karena merupakan pusat pemerintahan. Bangunan Museum Bahari yang terletak di Jalan Pasar Ikan No 1, Jakarta Utara, didirikan pada 1652, kala itu digunakan sebagai gudang rempah-rempah, sering disebut denganWestzijdsche Pakhuisen atau gudang barang di tepi barat pantai. Dinding bangunan yang paling pinggir sejajar dengan Jl Pasar Ikan merupakan bagian dari tembok Kota Batavia, yang kala itu merupakan kota berbenteng.

Beberapa bagian dari tembok ini terdapat beberapa pos pengintai yang kini hanya sejumlah kecil yang tertinggal. Menara Syahbandar yang hingga kini berdiri dengan megah dibangun pada 1839. Ini merupakan menara pengawas kapal yang keluar masuk Pelabuhan Sunda Kelapa. Disebut Menara Syahbandar karena dari menara inilah Jawatan Syahbandar melakukan
pengawasan.

Di Pelabuhan Sunda Kelapa kita akan mendapati menara mercusuar yang dibangun awal abad ke-20. Fungsinya sebagai petunjuk lalu lintas kapal di sekitar pelabuhan. Menara ini menggantikan mercusuar yang sebelumnya terletak di mulut Kali Ciliwung. Di Pantai Sampur, Tanjung Priok, terdapat sebuah tempat yang cukup bersejarah, yakni Jacht Club. Tempat itu dibangun pada 14 Maret 1926. Gedung ini lengkapnya bernama De Koninklyke Bataviasche Jacht Club.

Di sinilah warga Belanda dan kelompok elite di Batavia melaksanakan hobinya, lomba layar. Di sini sampai 1950-an merupakan tempat rekreasi paling bergengsi di Jakarta. Sambil menyaksikan panorama laut, para tamu dan wisatawan asing dapat berdansa. Setelah 1950-an, dari tempat ini berdiri PORA (Persatuan Olah Raga Air). Kala itu, tiap Ahad dan libur, ribuan warga Ibu Kota mendatangi Pantai Sampur yang letaknya berdekatan dengan Jacht Club.

Categories