Post-Truth, Mengedepankan Rasa, Membenarkan Kebohongan, Meninggalkan Kebenaran

MUSTANIR.net – Kita saat ini masuk ke dalam zaman post-truth (pasca-kebenaran), di mana kebenaran dikalahkan oleh kebohongan dengan mengolah rasa masyarakat.

Dalam bahasa al-Qur’an dijumpai ungkapan ayat wa madza ba’dal haqqi illa adh-dhalal. ”Dan setelah kebenaran itu tidak lain adalah kesesatan.”

Politik post-truth disebut juga politik post-factual dan politik post-reality.

Istilah post-truth populer sejak 2016 ketika Donald Trump berkampanye pada pemilihan presiden Amerika Serikat. Trump mengolah rasa warganya melalui isu-isu yang menyentuh simpul-simpul sensitivitas mereka.

Seperti isu tentang bahaya Amerika Latin sehingga harus membuat tembok pembatas dengan Meksiko, isu imigran, isu radikalisme, dan lain-lain. Berita-berita bohong ini berhasil diolah sehingga Trump menggapai kemenangan.

Begitu pula dalam Brexit (British exit) dimainkan isu bahwa United Kingdom mengalami kerugian, kebangkrutan, dan penderitaan selama bergabung dengan Uni Eropa.

Istilah post-truth dipopulerkan oleh masyarakat bahasa Jerman, Gesellschaft für deutsche Sprache (GfdS) untuk menyebut berkembangnya kecenderungan diskusi politik dan sosial yang mengedepankan emosi, bukan fakta.

Jadi, dalam post-truth yang penting adalah perasaan daripada bukti. Fakta-fakta obyektif disingkirkan dengan menyajikan fakta-fakta alternatif. Post-truth digunakan untuk memaksa seseorang untuk memercayai sesuatu tanpa menghiraukan bukti.

GfdS menambahkan, “Sebagian besar populasi sudah siap mengabaikan fakta, dan bahkan menerima kebohongan dengan sukarela. Bukan klaim kebenaran, tetapi ekspresi ‘rasa kebenaran’ yang dianggap kunci kesuksesan di era ‘pasca faktual’.” (Moh. Yasir Alimi).

Alat paling manjur untuk melancarkan post-truth adalah media sosial. Karena di media sosial kebanyakan tanpa wartawan, tanpa bisa diskusi lebih jernih, tanpa sempat mengkaji dan mendalami, yang penting bisa like, subscribe, dan share. Semua beres.

Maka emosi menjadi terdepan. Dengan menguasai media sosial, siapa pun bisa memenangkan pertarungan. Itulah sebabnya para tokoh, cendekiawan, birokrat, orang-orang cerdas, dengan mudah terseret berita hoax, meskipun nanti hoax ini pun bersifat subyektif. Hoax bagi si A namun bukan hoax bagi si B, begitu sebaliknya.

Di luar negeri, berita hoax (saudara kandungnya bullshit) banyak memakan korban. Tony Blair tidak menghiraukan fakta bahwa Saddam Hussein dan Irak tidak menyembunyikan senjata pemusnah massal. Taliban dihabisi dengan isu WTC.

Dalam kasus ini, fakta dan bukti tidak penting, yang penting adalah warga Inggris dan Amerika Serikat diaduk-aduk emosinya, diajak untuk menyatakan bahwa “Irak mempunyai senjata pemusnah massal, dan Taliban terlibat penyerangan menara kembar WTC.” Benar atau salah, itu tak penting.

Di pilpres negara kita juga terjadi post-truth. Antara dua kubu saling mengaduk emosi pendukungnya dengan isu-isu yang belum tentu atau bahkan tidak benar. Seakan-akan kalau nanti si A terpilih akan begini. Sebaliknya kalau si B terpilih akan begini.

Fakta tidak penting. Yang penting mereka memercayai apa yang dipropagandakan, meskipun hoax. Jadi, hoax yang sering dipompakan dan diulang-ulang akhirnya akan dianggap sebagai kebenaran, sebagaimana pendapat Lenin. Jika orang menyetujui pendapat Lenin ini, maka kebohongan akan menjadi senjata pamungkas untuk memenangkan kompetisi.

Apa karakteristik post-truth?

Kalpokas (2017) sebagaimana dikutip oleh Moh. Yasir Alimi, menjelaskan dengan sangat menarik: ”Yang mencirikan pasca-kebenaran (post-truth) adalah ketidakjujuran baru secara kualitatif di pihak politisi, terutama dalam hal mengarang fakta untuk mendukung apapun narasi yang sedang diperjuangkan. Jadi, post-truth lebih dari sekadar ‘economical with truth’.”

Kesimpulannya, opini, gorengan-gorengan isu, kebohongan-kebohongan, dianggap lebih penting daripada fakta, dan daya tarik emosional dan viral lebih penting daripada kebenaran.

Dan media sosial merupakan sarana yang paling efektif untuk post-truth. []

Sumber: Asrip Widodo

About Author

Categories