Puasa, Takwa dan Perjuangan Menegakkan Syari’ah Islam

Ilustrasi. foto: ramadhanguide.com


MUSTANIR.COM – Sebagai umat manusia sepantasnya kita bersyukur karena kita sudah berada pada bulan suci Ramadhan 1439 H. Tentu kita berharap puasa Ramadhan kali ini benar-benar bisa mewujudkan ketakwaan hakiki. Dengan demikian jika memang takwa adalah buah dari puasa Ramadhan yang dilakukan oleh setiap mukmin, idealnya usai Ramadhan setiap mukmin senantiasa takut terhadap murka Allah SWT, lalu ia berupaya menjalankan semua perintahNya dan menjauhi larangannNya.

Menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya tentu dengan mengamalkan seluruh syariahNya. Baik terkait akidah dan ibadah. Bukan takwa namanya jika seseorang biasa melakukan shalat, melaksanakan puasa Ramadhan/bahkan menunaikan ibadah haji ke baitullah, sementara ia biasa melakukan riba, suap dan korupsi, mengabaikan urusan masyarakat, mendzalimi rakyat dan menolak penerapan syariah.

Selain itu, pemimpin bertakwa tidak akan mungkin mengkriminalisasi Islam dan kaum muslim. Pemimpin bertakwa juga tidak akan menghalang-halangi apalagi memusuhi orang-orang yang akan memperjuangkan penerapan syariah dan penegakkan khilafah yang merupakan tajul furudh (mahkota kewajiban dalam Islam).

Padahal pada masa lalu ketakwaan benar-benar melekat pada diri para pemimpin umat, yakni para khalifah. Ketakwaan mereka mengantarkan umat pada keberkahan dan kesejahteraan seperti khalifah Umar ra, beliau pernah menangis karena takut kepada Allah SWT saat mendengar kabar ada seorang ibu mempercepat masa menyapih bayi agar bisa segera mendapatkan insentif dari negara demi memenuhi kebutuhan anaknya itu. Dalam sistem pemerimtahan sekuler saat ini adakah pemimpin seperti Umar ra?
Wallaahu a’lam bish shawab []

Mayang Cahyati, siswi kelas 1 MAN 2 kodya Bandung

Categories