Razan Najar, ‘Malaikat Penjaga’ bagi Demonstran Palestina

Razan Al Najjar, relawan medis Palestina yang terbunuh tentara Israel. foto: dream


MUSTANIR.COM, Gaza – Perawat Palestina Razan al-Najar, 21, yang tewas tertembak tentara Israel, Jumat (1/6) lalu dikenal sebagai ‘malaikat penjaga’ demonstran Palestina. Dia selalu tangkas bergegas menolong demonstran yang terluka dalam aksi menuntut dikembalikannya wilayah Palestina, yang digelar sejak 30 Maret lalu.

Najar ditembak saat sedang menolong seorang demonstran di perbatasan Gaza. Kematian Najar menambah jumlah warga Palestina yang tewas sejak 30 Maret di Jalur Gaza menjadi 119 orang.

Saksi menyatakan Najar tertembak di dada saat berlari akan menolong seorang demonstran di Khan Younis, selatan Gaza.

Najar mengenakan seragam warna putih, “Dia mengangkat tangan untuk membuka jalan, tapi tentara Israel tetap menembaki dan dia terkena di bagian dada,” kata seorang saksi kepada kantor berita Reuters, Jumat.

Adapun dari pihak tentara Israel mereka menyatakan sedang membalas milisi yang menyerang pasukan dengan tembakan dan granat.

“Berbagai laporan mengindikasikan Razan menolong demonstran yang terluka dan mengenakan seragam yang membedakan dia sebagai relawan kesehatan bahkan dari jarak jauh,” kata James Heenan, Kepala Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (HAM) di Palestina.

“Laporan menyebut dia ditembak sekitar 100 meter dari pagar. Di bawah hukum internasional yang berlaku dalam konteks ini bersama hukum kemanusiaan internasional, kekuatan mematikan hanya digunakan sebagai upaya terakhir dan jika terjadi ancaman mematikan atau luka serius. Sangat sulit melihat Razan sebagai ancaman bagi tentara Israel yang bersenjata lengkap di perbatasan yang terlindungi dengan baik di balik pagar,” tambah Heenan.

Ibunda Najar pingsan saat menerima seragam putrinya yang bersimbah darah.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut Najar sebagai martir. Saat diwawancara Reuters April lalu, Najar menyatakan dia akan menyaksikan aksi protes hingga akhir. “Saya akan kembali dan tak akan mundur,” kata Razan di laman Facebook terakhirnya. “Tembak saya dengan pelurumu. Saya tidak takut.”

Dalam wawancara dengan kantor berita Turki, Anadolu Agency, dua hari sebelum aksi demonstrasi 30 Maret, Najar menyatakan membantu mereka yang luka-luka oleh tentara Israel bukanlah tugas yang mudah.

“Seragam saya berubah warna menjadi merah karena darah yang murni dan berharga. Dan saya bangga karenanya,” kata Najar seperti dilansir Anadolu, Sabtu (2/6).

“Saya tahu bahwa tugas itu tidak mudah bagi seorang perempuan muda, meski begitu, saya berkomitmen untuk menyelesaikan aksi ini dan membantu orang-orang yang terluka dan yang memerlukan,” kata dia.

Salah e-Rantisi, Kepala Rumah Sakit Sahra menyatakan Najar terluka parah saat dilarikan ke rumah sakit.

“Peluru mengenai dadanya, tembus hingga ke punggung,” kata Salah

Puluhan warga Palestina terkejut dengan kematian Najar dan berbondong-bondong perti ke Rumah Sakit Gaza Europe di mana jenazahnya disemayamkan.

Keluarga, teman dan kolega Najar menangis tersedu-sedu. Beberapa di antaranya pingsan saat melihat jenazahnya.

Menteri Kesehatan Palestina Jevad Avad menyatakan tindakan Israel yang menembak langsung perawat relawan yang membantu korban luka-luka adalah kejahatan perang. Kematian Najar terjadi tak lama setelah Amerika Serikat memveto resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB). Resolusi yang disponsori Kuwait itu disusun untuk memberikan perlindungan internasional bagi warga Palestina.
(cnnindonesia.com/4/6/18)

Categories